Sing It Loud











{July 22, 2008}   CINTAKU DI ATAS KWK

Sampai sejauh ini, hingga detik ini, saya masih mencari apakah yang saya cari dalam hidup yang singkat ini telah saya dapatkan.

Kenapa saya tiba-tiba melemparkan pertanyaan yang tidak akan bisa saya jawab ini?

Ceritanya sangat luar biasa. Dan ini berkaitan dengan judul yang saya tulis di atas.

Tiap malam, setelah mandi, saya membiasakan diri untuk duduk di balcony. Memancang mata menyaksikan waktu yang lewat di jalanan depan rumah. Di sana, mungkin juga di jalan depan rumah anda. Waktu lewat bersama dengan roda-roda kendaraan yang melintas, kadang menggeram dalam derum knalpot bajaj (mungkin jalanan depan rumah anda tidak ada bajaj), waktu juga seperti tak bersuara menyelinap bersama tikus got yang tenang berjalan. Kadang saya juga menyaksikan waktu keluar dari gelak tawa para sopir bajaj yang baru pulang lalu memarkir bajajnya di depan rumah. Dan dalam waktu yang berjalan itu, saya seperti berhenti ketika mata saya menatap seorang anak kecil_yang ketika saya bangun, saya ke warung, saya menyapu, mengepel, selesai mandi, berangkat kerja atau pulang kerja_ yang selalu duduk di tempat yang sama, memandang ke satu titik yang sama, menyunggingkan senyum yang sama, tatapan mata yang sama, gerak tangan dan tubuh yang persis sama.

Ferry, nama anak kecil itu. Mungkin umurnya sekitar 7 atau 8 tahun. Kurus tubuhnya mungkin bukan karena ia kurang gizi, tetapi karena ia susah makan. Kulit legamnya_saya yakin_ dikarenakan ia setia duduk di tempat yang sama dari pagi hingga malam. Ia, Ferry, tak pernah peduli dengan lingkungannya. Yang ia pedulikan adalah sebuah titik di jalan, persis di hadapannya.

Awalnya, saya tidak terlalu peduli dengannya, seperti saya tidak peduli dengan hal-hal kecil lainnya yang justru ternyata sangat berarti bagi hidup saya (itulah saya, selalu luput memaknai hidup). Waktu dalam diri saya pada awalnya mengalir dengan deras, kadang pelan dan tenang, kadang sedikit bergolak tetapi kemudian tenang lagi. Namun, ketika mata saya mulai tertumbuk pada matanya. Ada sesuatu yang membuat saya berhenti. Ada sebuah kenyataan, mungkin bukan kenyataan tetapi lebih seperti sebuah kehidupan lain. Kehidupan yang hanya hidup dalam mata dan kepala seorang anak bernama Ferry ini.

Matanya lurus, tajam, tetapi berhenti tepat di dalam mata saya. Sorotnya seperti sebuah lampu senter yang berhenti di sebuah obyek. Ya, di depan Ferry saya adalah obyek, bukan subyek. Saya tidak bisa menjadi diri saya, saya menjadi semacam mainan dalam kehidupan lain dari seorang Ferry ini. Saya berontak pada saat itu. Saya menyapanya, tetapi tak ada jawaban. Lain hari, lain minggu, lain bulan saya terus mencoba melepaskan diri dari ”menjadi benda” dalam mata Ferry. Saya bergerak, saya mendekat, saya mencoba masuk ke dalam dirinya yang lain. Diri seorang bocah kecil yang tentu akan suka dengan makanan kecil dan permainan kecil.

Sekali waktu saya belikan dia makanan, bukan barang sogokan agar saya bisa diterimanya. Tetapi hanya semacam hadiah atas apa yang telah ”ditawarkannya” pada saya atas kehidupannya yang masih menjadi misteri. Kenyataan pada saat saya memberikan makanan kecil itu jauh di luar jangkauan nalar saya. Ferry tidak seperti anak-anak yang lainnya, ia tidak segera memakan makanan kecil itu. Tetapi ia hanya memandang sebentar, kemudian matanya kembali tertumbuk pada mata saya. Seperti hendak menusuk seluruh kesadaran dan daya nalar saya. Untuk menghindari itu semua, saya memintanya untuk makan makanan itu. Dan iapun beralih pada makanan tersebut, tetapi tangannya tidak bergerak. Hanya matanya yang memandang bungkus kuning makanan itu. Satu menit, dua, tiga, lima belas menit ia hanya memandang bungkus makanan itu. Lalu, ia kembali duduk di tempatnya biasa duduk, matanya sekali lagi, kembali pada sebuah titik di jalanan depannya. Saya hanya menghela napas. OK, hari ini saya kalah. Batin saya.

Suatu malam, ketika saya selesai makan pecel lele. (tidak tahu kenapa, saya harus menyatakan bahwa saya makan pecel lele ini, hehe. Mungkin karena ini adalah makanan kebersamaan saya dengan perempuan yang sangat saya cintai.) Saya melihat Ferry duduk dan menunjuk ke arah titik yang setiap waktu ia pandang. Tanganya hanya terangkat sebentar, dan sesungging senyum yang biasa. Senyuman yang selalu ia perlihatkan, bukan kepada siapapun, tetapi kepada titik di tengah jalan itu.

Otak saya langsung loncat, saya segera menghampirinya. Dan memandang ke arah sisa telunjuknya tadi terangkat. Mata saya akhirnya tertuju pada sebuah obyek yang bila kita melihatnya adalah sesuatu yang tidak ada istimewanya, tidak ada nilai apapun, tetapi di mata Ferry sangat berharga dan sangat sarat makna. Saya hanya terdiam melihat kenyataan yang ganjil lagi.

Apa yang selalu dipandang oleh Ferry dengan sangat setia dengan penuh rasa kekaguman dan penuh dengan rasa nikmat, adalah sebuah celah lubang pada ”polisi tidur” di depannya. Celah itu tercipta karena semen yang telah tergerus. Celah atau lubang yang mungkin hanya sepanjang lima sentimeter. Celah yang kecil tetapi sangat membuat Ferry takjub. Saya pada saat itu juga takjub pada Ferry yang bisa menikmati sesuatu yang sangat sepele itu. (apakah saya bisa menikmati bahkan sesuatu yang mungkin lebih dari sekedar celah seperti itu? Entahlah)

Satu, dua hari, tiga sampai kemudian genap enam hari. Akhirnya saya menemukan jawaban atas apa yang menggumpal dalam kepala saya. Ferry baru saja keluar dari pintu warung tempat emaknya bekerja, tangan mungilnya yang kusam dan hitam membawa sesuatu. Saat itu saya sedang memompa ban sepeda saya dan hendak menuju kantor. Sebentar saya menunggu apa yang akan dilakukan Ferry. Pura-pura ke warung saya memerhatikan Ferry.

Waktu seperti berhenti saat Ferry meletakkan sebuah kayu kecil di atas lubang itu. Dan ia tersenyum lalu duduk manis seperti biasa. Saya menunggu apa yang akan terjadi. Sebuah motor lewat dan rodanya persis melindas kayu di atas celah itu. Tentu kayu tersebut patah. Reaksi Ferry pada saat menyaksikan hal itu terjadi di luar dugaan saya. Ia tertawa lepas. Tangan mungilnya segera mengambil kayu kecil yang patah, lalu menggantinya dengan paku. Beberapa mobil lewat, bajaj, sepeda motor, sepeda. Tak ada yang bisa mematahkan paku itu. Ferry hanya diam, lalu ia mengambil paku tersebut. Ia duduk lagi. Matanya seperti sedih. Paku tidak patah. Saya terdiam, dalam hati saya bertanya apakah kehidupan ini begitu mudah dipatahkan ataukah ia terlalu sulit untuk diremukkan?

Hati saya tidak menjawab, demikian pula Ferry. Ia hanya mengamati paku. Lalu ia mengambil sebuah kayu. Dipukulnya paku itu, tidak melengkung. Ia mencari-cari sesuatu ke dalam warung, saya lihat ia kembali membawa sisa ban luar sepeda, dipukulnya paku itu. Tak juga berubah. Lalu ia masuk lagi. Kali ini palu yang dibawanya. Pada saat itulah ia memandang saya. Mulutnya tersenyum lebar, matanya berbinar. Tetapi bukan karena faktor “ada” saya, saya yakin karena ia bisa mengakrabi benda-benda itu lebih dari orang lain yang saya kenal.

“ Om..” katanya sambil menunjukkan palu di kanan dan paku di tangan kirinya.

Saya hanya diam.

“ Om..” katanya lagi.

Saya, sekali lagi, diam.

Ferry kemudian meletakkan kedua benda di tangannya. Mungkin ia tahu bahwa paku akan melengkung bila dipukul denan palu? Saya tidak tahu jawabannya, hanya ia yang tahu. Anak kecil itu kemudian menghampiri saya dan menunjuk pada makanan kecil yang tergantung di warung. Saya tanya apa ia mau. Ia hanya menunjuk. Saya beli makanan itu, lalu saya berikan padanya. Seperti dulu, seperti biasanya. Ia langsung duduk di tempatnya, memandang bungkus makanan kecil yang berwarna kuning itu. Hanya sebentar, ia kemudian mengambil paku tadi dan diletakkan di atas lubang kecil. Saya semakin bingung. Ferry kembali asyik memandang bungkus makanan kecil berwarna kuning itu.

Saya melangkah sambil berpikir, keasyikan semacam apa yang telah membuat anak itu demikian bahagia hanya dengan memandang sebuah lubang kecil di tengah jalan? Sementara ada demikian banyak orang yang mencari kebahagiaan dengan mengambil jatah orang lain, berebut kursi kekuasaan, menghasut, memfitnah, menghancurkan dan membunuh. Saya heran apakah kebahagiaan harus diraih dengan cara seperti itu.

Sekali lagi, saya memandang Ferry. Menaiki sepeda saya, lalu menghampirinya. Sengaja saya lindas paku itu. Hanya sekedar ingin membuatnya senang.

” Om..Om..” saya dengar suara Ferry memanggil.

Saya berhenti, menengok ke belakang. Ferry menunjuk sebuah angkot, KWK, yang melintas dari arah belakang saya. Ia tidak tersenyum, raut mukanya sedih. Saya bingung.

”Om..om… CINTAKU DI KWK.” katanya dengan raut masih sedih.

Nah, saya tambah bingung.

BERSAMBUNG…………..



{July 7, 2008}   mencintai pekerjaan

Kata orang bijak, orang yang hebat adalah orang yang bisa mencintai semua pekerjaan yang dilakukannya, bukan orang yang hanya melakukan pekerjaan yang dicintainya.

Itu kata orang bijak.

Sekarang saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah saya telah bisa mencintai semua pekerjaan yang saya lakukan?

Sebentar.

Saya ingat-ingat dulu, apa saja pekerjaan yang sekarang ini sedang saya selesaikan.Menulis skrip untuk dokumenternya sebuah perusahaan kelapa sawit.

Menyusun file-file tulisan fiksi yang tercecer dimana-mana. Tiap seminggu sekali berlatih futsal.

Katakanlah, dari ketiga hal tersebut, adakah pekerjaan yang saya cintai? Atau apakah saya mencintai pekerjaan-pekerjaan tersebut?

Pekerjaan pertama menulis skrip adalah pekerjaan kantor yang tentu saja harus segera saya lakukan karena memang telah menjadi tugas saya.

Ini dia letak masalahnya. Menulis skrip ini adalah tugas saya. Tugas yang harus saya lakukan dan selesaikan bila tidak ingin kena semprot.

Bicara tentang tugas atau mungkin bisa dikatakan sebagai sebuah kewajiban saya di kantor. Saya jadi merasa terbelenggu, kalo tidak saya kerjakan akan ada sangsi. Kalo saya kerjakan, bisa-bisa setengah hati. Kenapa?

Pertama, saya tidak tahu dan tidak pernah punya background tentang ilmu perkelapasawitan ini. Artinya saya harus riset. Kata seorang teman yang suka ceramah tentang film documenter, kamu harus terus RISET, RISET, RISET, RISET dan jangan pernah berhenti RISET. Gendeng! Saya bilang. Kalo riset terus kapan bikin filmnya. Hehe.

Kedua adalah film ini kan berhubungan dengan visual dan sound, kalo saya tidak bisa mengerti, menghayati (tidak harus mengamalkan) ilmu tentang kelapa sawit, bagaimana saya bisa membuat skrip yang menarik. Dan film ini mau dipake untuk pelatihan mereka lagi. Artinya, kata teman itu lagi, lo harus bisa suka dulu dengan kelapa sawit, kalo lo gak bisa suka gimana lo bisa bikin orang lain yang jumlahnya ratusan menjadi suka kelapa sawit, sementara mereka mengawalinya dengan melihat film yang skripnya lo buat

Mati gw, kata saya.

Dia kemudian bilang lagi kepada saya, begini katanya :

You must ask yourself some important questions:

· What have I not yet been told about this subject?

· Is everything I have been told the truth? How much do I need to verify?

· What would I personally like to know about this subject?

· If I were a member of the audience, what would I want to learn about this subject?

· What can I find that is little known on this subject?

· If the shooting has not yet started, what information can I gather that would aid the filming

process?

Nah lo, saya bingung menjawabnya. Bukan karena apa-apa. Saya gak ngerti bahasa Inggris. L

Setelah saya tanya lagi padanya, tentu dengan sedikit menyembunyikan rasa malu karena tidak bisa berbahasa inggris, saya pun mendapat jawaban singkat dan membuat saya lega.

RASA INGIN TAHU. Tumbuhkan itu dulu. Lo harus menambah stok penasaran lo. Katanya.

Ketertarikan dan penasaran pada apa saja, itu dasar agar riset lo sukses, tambahnya.

Saya hanya melongo, apa yang membuat saya tertarik dari deretan biji kelapa sawit, mesin-mesinnya, cara menanam kelapa sawit, jalan pringgan, sekat api, senam selang. Nah, gak ngerti kan? Sama, saya juga pusing.

Eh, dasar teman satu ini geblek dia malah menambahi ceramahnya di tengah malam menjelang final piala eropa yang di luar prediksi saya mempertemukan jerman lawan spanyol, padahal saya ingin spanyol ketemu kroasia di partai pemuncak itu. Tapi sudahlah, nasi udah ditelan. Gak mungkin jadi bubur. Pasti jadi yang lain.

Kembali ke teman yang satu itu.

Dia bilang lagi, tetapi kualitas dari riset itu yang lebih penting, bukan kuantitas.

Dalam hati saya membatin, kalo saya sih lebih senang kuantitas daripada kualitas, nasi contohnya. Makin banyak makin kenyang. Hehe.

You must ask yourself (kapan sih saya disuruh berhenti bertanya pada diri saya sendiri?) :

· Is this information or source of information directly related to the subject of my film?

· Is it necessary for the audience to know this information?

· Will this information add to the overall quality of the film?

· Even if it is relevant and will add value, is it more relevant than all the other

information I have gathered so far?

· Will I be able to incorporate this information into the script even if it is relevant to

the subject?

Pada penjelasan yang kedua ini saya mencoba mengangguk-anggukan kepala saya. Karena saya tahu kata kuncinya kualitas vs kuantitas. Kadang saya juga merasa kalo saya ini cerdas juga.

Semua penulis skrip itu punya sumber dan pendekatan yang berbeda dalam menulis. Tapi kata teman itu ada cara atau tempat untuk memulainya yaitu

- print research

Bisa didapat dari buku, majalah, koran, tabloid, catatan, di perpustakaan, apa ajalah

- field research

Since film is a visual medium, it is integral that a scriptwriter get an accuratepicture of the visual information in the film. He could go to the various locations in which the film will be shot, or to locations where events took place earlier orwill take place in the future. The scriptwriter could attend related events or evenput himself into places where the people in the film will be or would have been.He could even go to museums, art galleries or any kind of public viewing spacewhere he could gather information. The ‘field’ exists only in relation to thesubject of the film and therefore the options are endless and should be visitedupon the scriptwriter’s discretion.

Sekali lagi saya dibikin pusing dengan kata-katanya, sampai saya harus merekam

dan membayar penerjemah untuk menerjemahkan kata-katanya itu.

- Interview riset.

scriptwriter must also gather perspective. Not one but many. The best way to gainperspective is to speak to people directly and indirectly connected with the subject.Films are a medium for people, by people and therefore a human perspective is imperative for any film. Interview research, which is basically meeting people and asking them questions, is a must for every film.

- Inner worlds and metaphors

Cari sendiri, katanya. Nanya mulu.

Sedikit pincang (pengetahuan) saya mengembara mencari arti untuk yang satu ini.Ternyata saya menemukannya justru pada saat sedang duduk di sebuah halte,membeli gorengan (duh, lagi) di pembungkusnya ada tulisan tentang apa itu inner worlds sama metaphors.

Every scriptwriter has a different personality, a different perspective.Consequently, every scriptwriter has something unique to contribute to a film.This is often one reason why filmmakers come to a specific writer to write their scripts again and again. Imagination is the biggest talent and tool of the scriptwriter. Although not for everybody, a very effective approach at the research stage can be to look within oneself and gather the benefits of past experiences andtry and create an emotional stance on the matter at hand. On a spiritual level, meditating upon the inner world within oneself can be a powerful way of harnessing knowledge locked within the sub-conscious mind and perhaps, if one believes so, the power of the collective unconscious or the cosmos. Metaphors or parallels exist all around us in our lives. Sometimes, we see something that reminds us of something else or inspires us in a particular way. It could be completely unrelated to the object or concept it invokes a memory of, but still portray it in a meaningful way. You could see a highway ridden with rush hour traffic and be reminded of thousands of ants filing in an out of an anthill carrying food. Or the same sight, with horns blaring and drivers swearing, could make you think about the conquest of a robotic age over humaneness. The possibilities and metaphors around us are endless, just waiting to be picked out by an inventive and imaginative writer.

Dari situ saya datangi bapak penjual gorengan itu, bukan mau nambah beli gorengan tapi saya Tanya ada bungkus yang sama tidak. Ternyata ada. Jadilah saya membeli kertas bungkus bukan gorengan bapak itu. Tentu kelakukan saya membuat si bapak jadi melongo. Ah, biarlah, batin saya.

KAMPRET! Dari kertas pembungkus itu saya tahu bahwa apa yang dikatakan teman saya itu ada semua dalam kertas yang saya pegang. Seingat saya itu tulisannya Trisha Das. How to write a documentary script: a monograph.

Akhirnya dari pengalaman unik itu saya jadi semangat menulis lagi. Dan barusan tadi saya punya ide menarik. Menulis skrip tentang kelapa sawit sambil makan cemilan dari kelapa sawit. KLOP. Saya jadi lancer menulis.

To be……. Cont’d



{May 13, 2008}   alamat web


{December 29, 2007}   CATATAN PERJALANAN

PEREMPUAN DENGAN MATA TERINDAH

Perempuan dengan mata terindah, begitulah aku menyebutnya. Sejauh petualanganku, dia perempuan dengan mata terindah yang pernah kutemui. Bayangkan apa yang lebih indah dari sepasang mata bening yang menatapmu tajam. Bukan hanya tajam tetapi juga bening penuh rasa ingin tahu. Bukankah pandangan mata yang demikian mampu menggelorakan hati siapa saja yang dipandangnya. Sudah ribuan, bahkan puluhan ribu mata perempuan yang kupandang, tetapi tak satupun yang memiliki pandangan seperti itu. Dibalik bening dua matanya tersembunyi misteri yang entah apa tetapi membuatku sangat ingin tahu. Jika engkau melihatnya Nyong, tentu kaupun akan tertarik dengan pandangan matanya. Lalu kaupun akan berpikir tentang banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi pada si pemilik mata itu.

Aku tidak tahu apa-apa tentang perempuan itu, tak ada yang kuketahui selain kedua bola matanya yang hangat dan tajam. Secara keseluruhan, ia seperti misteri yang ingin kuungkap. Bagai peta buta yang ingin kunamai, perempuan itu membuatku sungguh penasaran. Ah, jika saja mata bisa bicara atau pandangan mata bisa diterjemahkan. Tentu aku akan tahu apa yang dikatakan oleh matanya saat menatapku.

Di tengah gurun panas kering seperti ini, sepasang matanya yang menatapku itu seperti semilir angin yang menyejukkan dari sengatan matahari milik penguasa siang yang seringkali kejam pada makhluk bumi. Sepasang mata itu, ya, sepasang mata itu telah menyumbat nalarku. Aku terbawa hanyut di dalamnya.

“ Jangan pernah mencoba menerjemahkan mata perempuan itu.” Kata pemilik onta yang kusewa.

“ Aku sudah terpesona, Rakeh.” Jawabku.

Tetapi Rakeh hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjelaskan alasan apapun.

Rakeh telah hidup di padang gurun yang panas ini puluhan tahun. Pekerjaannya menyewakan onta dan mengantar para pengembara menyeberangi gurun yang panas. Biasanya mereka yang menyewa jasanya adalah para pemburu senja yang entah kenapa banyak sekali dan selalu bergerak ke arah barat. Sedikit pedagang yang menyewa ontanya karena mereka takut pada perompak yang seringkali muncul di tengah padang gurun. Tetapi menurut cerita orang banyak, Rakeh adalah satu-satunya orang yang bisa menghindar dari sergapan para perompak gurun dan selalu selamat dari terjangan badai gurun. Aku termakan cerita-cerita itu dan menyewanya selama aku berada di negeri gurun ini. Anehnya lagi, Rakeh selalu memilih-milih orang yang menyewa jasanya. Entah karena alasan apa ia tidak bertanya apa-apa dan bahkan tidak mengatakan bayaran yang diminta.

Beberapa waktu yang lalu saat di tengah gurun, tiba-tiba Rakeh memintaku merunduk. Ia menarik kepala onta ke tengah-tengah kami dan kemudian menutupi tubuh kami dan kepala onta itu dengan kain besar. Belum sempat aku bertanya, dari kejauhan kudengar suara angina yang menderu keras dan semakin keras. Lalu aku merasakan ribuan, jutaan butir pasir menerpa kami hingga kami terkubur. Itulah badai gurun pertama yang kualami. Kata Rakeh, badai itu belum ada apa-apanya, tetapi bagiku sudah sangat menakutkan. Sejak saat itu, aku menggantungkan nasib petulanganku di padang gurun pada Rakeh, lelaki yang kelihatannya masih muda tetapi terlihat tua dengan kumis, jenggot dan sorban kumal dik kepalanya itu. Setelah badai gurun itu berlalu, saat itulah aku melihat rombongan perempuan bermata terindah itu melintas.

Rombongan itu terdiri dari limapuluh perempuan termasuk perempuan dengan mata terindah itu. Pada saat aku sedang membersihkan sisa-sisa pasir di tubuhku dan rombongan itu melintas, entah kenapa hanya perempuan itu yang memandangku. Sementara yang lainnya berjalan dengan menundukkan wajah mereka, seperti tepekur memandangi pasir panas yang tak habis-habis diinjak. Semua perempuan itu mengenakan pakaian hitam panjang hingga menutup seluruh tubuh mereka. Dan hanya mata yang terlihat. Rombongan itu tidak menunggang onta, mereka hanya berjalan kaki. Menurut cerita dari seorang pencerita di negeriku yang sekarang sudah tidak bercerita lagi, yang katanya pernah menjelajah negeri gurun sendirian, merekalah rombongan perempuan yang bisa terbang. Mereka tidak berjalan di atas pasir yang panas tetapi melayang di atasnya karena itu tidak perlu onta dan mereka tidak selalu terburu-buru saat melintas di padang gurun. Masih menurut tukang cerita di negeriku itu, merekalah para pemilik senja yang akan menari saat senja tiba di antara larik-larik cahayanya yang gemerlapan. Dan salah satu dari mereka adalah istri penguasa senja, sementara yang lain adalah dayang-dayangnya. Dalam hati aku bertanya apakah perempuan yang memandangku dengan matanya yang indah itu adalah istri penguasa senja? Dan para perempuan yang menunduk itu adalah para dayang, yang masih menurut cerita, wajahnya diambil dan dipenjarakan oleh istri penguasa senja itu karena takut suaminya akan berselingkuh dengan mereka. Benarkah wajah seseorang bisa diambil dan dipenjarakan? Mungkin hanya di negeri gurun itu hal itu bisa terjadi. Negeri tempat para penguasa senja sering melintas. Aku memang hanya sebentar bertatapan mata dengan perempuan itu, tetapi bukankah yang singkat-singkat itu seringkali justru memberi kesan yang mendalam?

Aku telah bertemu dengan rombongan yang pernah diceritakan oleh tukang cerita di negeriku. Kini aku telah terpesona dengan pemimpin mereka, dengan istri penguasa senja hanya dengan berpandangan mata. Sepasang mata yang membakar kesadaranku, membuat jantungku seakan hendak melompat keluar lewat mulut, menyedak di tenggorokan. Aku benar-benar penasaran padanya. Apakah aku akan jatuh hati padanya, Nyong? Bukankah cinta sering berawal dari rasa penasaran? Tetapi tidak aku tidak ingin jatuh cinta pada perempuan dengan mata terindah itu, cintaku hanya untuk kekasihku seorang. Meski aku penasaran apakah ia telah tersenyum saat memandangku beberapa waktu yang lalu. Aku tidak tahu karena seluruh wajahnya tertutup cadar dan hanya sepasang mata terindah itu yang terlihat. Jika ada bahasa yang bisa menerjemahkan pandangan mata, aku ingin sekali memelajarinya. Tidak peduli apakah bahasa itu milik penguasa laut yang terdalam sekalipun.

“ Apakah benar mereka bisa terbang, Rakeh?” tanyaku pada laki-laki yang duduk di depanku dan mengendalikan onta itu.

“ Sebentar lagi kita sampai di sumber air. Kita tidak akan lama dan jangan bicara sampai aku beritahu.” Rakeh tidak menjawab.

Ia meraih tas kecil dipinggangnya lalu mengeluarkan sebuah buku kecil tebal dan memberikan padaku. Gambar sampul itu tidak jelas, bahasanya juga tidak aku pahami. Sejauh ini aku telah belajar banyak bahasa tetapi aku tidak mengerti dengan bahasa yang ada dalam buku kecil yang ada di tanganku.

“ Simpan baik-baik dan jangan diperlihatkan pada orang. Suatu hari buku itu akan berguna bagimu.” Kata Rakeh.

“ Tetapi kenapa kau berikan padaku?”

“ Jika sudah selesai kau baca, berikan pada orang lain yang datang dari jauh. Tugasku sudah kulakukan, kau juga harus begitu.”

“ Apa isinya?”

“ Kau terlalu banyak tanya untuk ukuran seorang pengembara.”

Aku diam.

Rakeh menghentikan langkah ontanya. Kumasukkan buku itu ke dalam ranselku. Biasanya jika Rakeh berhenti mendadak ada sesuatu, kalau tidak karena badai, mungkin perompak. Aku menunggu perintahnya.

“ Rombongan itu berhenti di sumber air.” Kata Rakeh pelan.

“ Rombongan siapa? Mana ada sumber air di sini?” tanyaku.

“ Jangan cari penyakit dengan mereka.” Rakeh menepuk punuk onta agar menuruni lembah yang adadi depan kami. Onta berjalan pelan-pelan, aku ingin tahu apa yang akan terjadi. Selalu ada kejutan-kejutan di gurun panas ini dan aku percaya itu selama Rakeh yang mengucapkannya. Dan padanya aku menggantungkan nasib, setidaknya selama di gurun ini.

Ketika kaki onta yang kami naiki menjejak di atas pasir padat dan landai, kulihat ada banyak orang sedang beristirahat. Mereka makan dan minum di sisi-sisi jalan . sebenarnya bukan jalan karena semua pasir padat dan landai itu tentu bisa dijadikan jalan, tetapi karena yang biasa dilewati adalah jalur tempat kami sekarang berjalan maka aku menyebutnya jalan. Dan mereka ada di pinggir jalan. Tak ada yang bicara sama sekali. Mungkin mereka sedang menikmati makan dan minum mereka. Tak ada suara onta juga. Dari atas punggung onta aku bisa melihat di depan kami terlihat pohon-pohon yang hijau subur. Itukah tempat sumber air yang dibicarakan Rakeh? Betapa bahagia bisa menemukan sumber air di tengah padang panas seperti ini. Onta-onta minum dari ember yang terbuat dari kulit kayu. Mereka yang duduk dan makan, mungkin pengembara seperti aku atau pedagang, tidak memedulikan saat kami lewat. Rakeh turun dari punggung onta. Ia menuntun onta menuju ke sumber air.

“ Jangan turun.” Perintah Rakeh tanpa memandangku saat aku mau turun karena merasa tidak enak berada di punggung onta sementara ia menuntunnya. Meskipun aku menyewa onta dan membayar jasanya tetapi aku tidak ingin seperti bos. Mendengar katanya aku tidak jadi turun.

“ Kenapa?”

“ Agar semua orang tahu kau seorang pengembara.”

“ Memangnya kenapa?”

“ Orang-orang tidak akan memedulikanmu.”

Aku heran dengan penjelasannya tetapi aku menuruti anjurannya. Aku percaya saja apa katanya. Aku tetap berada di punggung onta.

Sungguh luar biasa yang terpampang di depanku. Sebuah mata air yang jernih, menjadi danau yang mengilat di bawah sinar matahari siang yang benderang. Ada banyak rumah di sekitar danau yang hampir seluas lapangan bola di negerimu, Nyong, negeri para penggila bola. Dari bentuk rumah dan jalanan pasir yang ada, aku tahu bahwa orang-orang yang sedang sibuk itu tinggal di sekitar danau ini. Jika engkau berada di sini, Nyong, tentu akan heran, betapa orang-orang bisa menanam sayuran, gandum dan memelihara ternak di sini. aku tersenyum, ini lebih dari sekedar desa dengan otonomi khusus. Inilah tempat yang terasa begitu merdeka di tengah siksaan panas padang gurun.

Rakeh menambatkan onta di patok kayu yang telah disediakan di dekat sebuah rumah kayu yang terletak paling pinggir. Paling pinggir karena di seberang danau, jauh dari tempatku berdiri adalah bukit pasir yang tinggi sekali. Mungkinkah bukit itu yang telah menahan badai agar tidak sampai ke desa ini? Seorang anak laki-laki datang membawa ember dari kulit kayu yang berisi air lalu meletakkan di depan onta Rakeh. Onta itu langsung minum dengan rakus sampai tandas sehingga anak itu berlari mengambil air lagi. Seorang laki-laki tua menawarkan makanan pada Rakeh. Ia menyimpannya dalam kantong dan melemparkannya padaku. Rakeh memberikan kantong-kantong air pada laki-laki tua yang segera pergi dari tampat kami. Anehnya semua itu berjalan tanpa ada percakapan sama sekali. Rakeh, anak kecil yang membawa ember, lelaki tua yang memberi kue, mereka hanya diam saja. Aku semakin heran ketika kuperhatikan sekeliling tak terdengar suara orang bicara. Seluruh kegiatan mulai dari ambil air, makan, berjalan dilakukan tanpa suara sedikitpun. Sepertinya penduduk tepi danau ini telah hafal dengan keperluan para pendatang. Tetapi tidak mungkin mereka tidak berbicara, apalagi dengan para pelancong dan pengelana yang mampir sebentar ke sumber air ini. Apa enaknya melakukan banyak hal tanpa berbicara. Ini benar-benar aneh buatku. Apakah bahasa mereka berbeda? Tetapi bagaimana bisa berkomunikasi tanpa dibantu dengan tanda-tanda? Tidak mungkin semua orang itu bisu. Ah, apakah ini bahasa tatapan mata itu? Aku jadi ingin tahu.

“ Rakeh. Kenapa tak ada orang yang berbicara di sini?” tanyaku sedikit berbisik saat Rakeh meletakkan kantong-kantong minuman di punggung onta.

Rakeh melotot, ia menggerakkan telunjuk jarinya di depan mulut seperti tanda menyuruh orang diam dalam bahasaku. Aku pernah mengajari Rakeh beberapa hal tentang negeriku termasuk kebiasaan mengupil dan menyebutkan nama-nama binatang saat marah.

Entah darimana datangnya tiba-tiba telah berlompatan sosok-sosok hitam yang kemudian mengepungku. Aku tahu mereka adalah para dayang perempuan dengan mata terindah itu. Aku benar-benar baru tahu bahwa mereka, para dayang itu memang tidak memiliki wajah sama sekali, cadar hitam yang menutupi wajah mereka seperti hanya menempel dengan bagian penutup kepala, sementara warna hitam yang gelap terlihat dari lubang tempat mata mereka. Kulihat Rakeh merapat ke tubuh ontanya, ia tidak berani memandang kepada para dayang itu. Aku tidak takut, toh aku merasa tidak berbuat sala. Sebagai pengelana yang menghabiskan waktu dalam perjalanan aku tidak pernah belajar tentang rasa takut. Tak ada yang mesti kita kalahkan selain ketakutan itu sendiri Nyong, karena ketakutan hanya akan memakan kita hingga kita habis tak bersisa.

Kuperhatikan mereka semua. Benar, merekalah para dayang perempuan dengan mata terindah yang kutemui beberapa waktu yang lalu dalam perjalananku di tengah padang gurun yang panas. Kuhitung mereka, hanya ada empat puluh sembilan. Kemana perempan dengan mata terindah itu gerangan? Sebenarnya aku agak bergidik juga memandang wajah-wajah tanpa mata yang mengepungku itu. Orang-orang di sekitar danau telah tidak ada. Mungkin mereka telah lari sembunyi ke dalam rumah masing-masing. Begitu menakutkankah para dayang ini, hingga semua orang ketakutan dan Rakeh yang kukenal sangat pemberani itu merapatkan diri ke tubuh ontanya. Kini aku sendirian tak ada yang akan membelaku jika mereka menyerangku. Kuraba pisau kecil di pinggang, aku menunggu. Para dayang itu tidak melakukan apa-apa sampai kulihat sebuah bayangan hitam terbang tinggi dan langsung berada di depanku. Ah, perempuan dengan mata terindah itu kini memandangku dengan mata terindahnya. Mungkinkah ia hendak mengajakku bercakap dengan matanya? Sayang sekali aku tidak mengerti bahasa percakapan mata. Dan mungkin dia juga tidak mengerti apa yang ingin kukatakan. Perempuan dengan mata terindah itu tidak berkata apa-apa, ia hanya memandangku. Apakah ia telah tidak punya lidah? Apakah lidahnya telah dipotong. Orang macam apakah sebenarnya perempuan di depanku ini? Perempuan dengan mata terindah, perempuan yang telah merebut hati penguasa senja dan membuang wajah para dayangnya?

Ia berjalan mendekat, mungkin bukan berjalan tetapi melayang terbang. Apakah ia juga tidak punya kaki? Atau ia hanya memiliki mata dan tidak ada bagian tubuh yang lain. Entahlah. Banyak sekali kemungkinan, aku tidak tahu jawabnya karena hanya mata terindahnya yang terlihat. Perempuan itu berhenti hanya beberapa langkah dari kami. Rakeh membalikkan badannya tetapi ia masih menunduk tak berani menatap mata perempuan terindah itu. Mungkin Rakeh takut terpesona pada perempuan itu atau mungkin ia takut dengan kesaktiannya? Sejenak perempuan itu memandang Rakeh. Rakeh mengangkat mukanya. Aku yakin mereka pasti bercakap-cakap. Seandainya saja aku mengerti bahasa percakapan mata mereka tentu aku juga ingin berbicara. Sayangnya tidak sama sekali. Hanya beberapa detik mereka bertatapan mata, lalu perempuan bermata terindah itu melayang ke angkasa diikuti oleh para dayangnya. Mereka hilang begitu saja dalam silau cahaya matahari siang menjelang sore. Para penduduk desa kecil tepi danau terlihat mulai keluar dari rumah. Pelan-pelan kudengar mereka mulai berbicara, sedikit-sedikit aku paham dengan bahasa mereka. Bahasa tengah gurun yang hanya dikuasai oleh orang-orang yang menghabiskan hidupnya di tengah gurun tanpa pernah pergi ke manapun. Mereka ini tinggal sedikit karena banyak yang meninggal karena badai gurun atau diserang para perompak gurun. Mungkin di desa inilah para penghuni gurun yang terakhir tinggal dan beranak pinak. Dari pembicaraan dan ekspresi muka mereka aku tahu bahwa mereka tidak membicarakan kejadian yang baru saja menimpaku. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing yang tadi ditinggalkan saat para dayang dan perempuan dengan mata terindah itu mengepungku karena aku berbicara. Aku jadi bertanya dalam hati, apakah mereka marah karena aku telah mengeluarkan suara saat mereka ada? Jadi begitukah mereka? Tidak ingin ada yang berbicara saat mereka ada di sekitar.

“ Apa yang kalian bicarakan?” tanyaku pada Rakeh saat menerima kantong-kantong air dari laki-laki yang tadi memberi kue.

“ Sudah waktunya pergi.” Ia selalu tidak menjawab pertanyaanku.

Sebenarnya aku sangat penasaran tetapi aku masih menahan diri untuk tidak membuat Rakeh tersinggung dan marah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Rakeh pergi dan aku sendirian berjalan di tengah gurun yang tak kukenali ini.

“ Hari ini kita masih selamat.” Kata Rakeh sambil naik ke atas onta.

“ Apakah mereka marah saat aku berbicara?”

“ Para penduduk di sini yang akan membunuh kita.” Jawab Rakeh.

“ Kenapa?”

“ Kau akan tahu nanti.”

Rupanya banyak hal hal yang belum kuketahui dan Rakeh selalu mengatakan aku akan mengetahuinya. Apakah ia akan membawaku menjelajahi gurun dan menemukan hal-hal baru yang belum pernah kuketahui? Aku menjadi bersemangat mendengar kalimat-kalimatnya. Ayo Rakeh ajak aku berkelana mencari pengalaman yang baru, kataku dalam hati.

Sebenarnya aku merasa menyesal karena tidak menuruti nasehat Rakeh agar diam. Mungkin aku akan tahu sesuatu yang baru jika diam dan tentu akan bisa menikmati mata terindah perempuan itu dalam suasana yang lebih santai dan tidak menegangkan seperti tadi. Aku tiba-tiba merasa rindu pada sepasang mata terindah perempuan itu meski hanya dua kali memandangnya. Tadi dan beberapa saat yang lalu. Seandainya aku bisa menerjemahkan padangan matanya tentu aku tidak sepenasaran ini, tetapi jika tidak penasaran maka tidak akan ada debaran-debaran itu. Ternyata keterbatasan memang dibutuhkan agar kita terus mencari makna yang belum pernah diungkap dalam hidup ini, Nyong.

TUKANG CERITA DI NEGERIKU

Dulu sekali aku pernah mendengar ceritera tentang rombongan perempuan bercadar di tengah gurun yang selalu melintas ketika hari mulai senja dari seorang tukang ceritera di negeriku. Sebenarnya ia seorang pencerita senja yang katanya telah berkeliling dunia hanya untuk menikmati senja-senja yang indah di berbagai tempat di bumi ini. Dari sekian banyak ceritanya tentang senja yang telah memesona orang banyak di negeriku, ceriteranya tentang perempuan bercadar itu yang membuatku terpana. Menurutnya perempuan bercadar itu adalah perempuan yang memiliki mata terindah di bumi ini. satu-satunya mata yang bisa menghidupkan sekian banyak kemungkinan. Tentu aku percaya karena ia telah berkeliling dunia dan pasti juga telah menemukan banyak perempuan dengan mata-mata yang indah. Sayangnya aku tidak bisa mendengar ceritera lengkapnya karena tukang cerita itu telah pergi entah kemana sejak ia diumumkan sebagai orang yang paling dicari oleh pihak keamanan dan pemerintah yang berkuasa.

Di negeriku, kekuasaan nyaris identik dengan kekerasan, kesewenangan, dan penyempitan pikiran. Dan dalam alam kekuasaan seperti itu, bila seseorang meyakini sesuatu yang diluar kebiasaan, ia dianggap gila. Tetapi jika banyak orang meyakininya, maka mereka telah berniat meruntuhkan Negara. Begitulah awalnya kenapa pencerita senja itu hilang dari peredaran. Ia yang telah lama kembali dari perjalanan jauh mencari senja-senja terindah dan memilih untuk menceritakan kembali pengalaman perjalanannya ke negeri-negeri jauh itu, awalnya dianggap gila karena menganggap senja sebagai sesuatu yang luar biasa. Sementara di negeriku, rakyatnya memandang senja itu sama saja, baik warnanya, suasananya maupun segala sesuatu yang timbul tenggelam saat senja datang. Mungkin karena kegigihannya atau malah karena ketidakpeduliannya pada tanggapan orang akan cerita-ceritanya, ia tetap saja berkeliling ke pelosok-pelosok negeri kami sambil bertutur tentang kisah-kisah senja itu. Sampai akhirnya satu dua orang menjadi pengagumnya, awalnya mereka kagum akan kegigihannya, tetapi kemudian turut larut dalam cerita-cerita itu. Mungkin mereka butuh oase di saat sedang berada pada tepian hidup yang sangat sulit ini. Negeriku masih miskin, Sang jenderal yang memegang tampuk pimpinan tertinggi di negeri kami merepresentasikan dirinya sebagai bapak bangsa, yang sangat kapabel untuk menerapkan disiplin, tentu dengan represi. Represi telah mematikan demokrasi dengan politiknya dan neoliberalisme mendorong rakyat untuk terus bekerja, menjaga mulut mereka tetap terkunci rapat, dan harus terus produktif, dengan begitu perusahaan akan tetap dapat berkompetisi dengan sempurna dalam pasar internasional. Semakin banyak sector yang diprivatisasi, termasuk kesehatan, pendididan, dan keamanan social. Kebutuhan untuk bertahan mendorong inisiatif privat ini. Rakyat miskin tetap miskin, yang kaya semakin kaya saja. Dalam keadaan seperti itu kami butuh sesuatu yang menyegarkan yang tidak pernah ditemui. Dan pada cerita-cerita keindahan senjanya itulah kami menemukan kedamaian. Lalu sampai pada satu titik, ketika pengagum senja mulai banyak dan merebak ke seantero negeri, penguasa_sang jenderal_ merasa telah dikesampingkan. Ia yang didukung penuh oleh militer kemudian menetapkan pelarangan atas cerita senja yang mereka sebut menyesatkan itu. Penguasa juga menetapkan mereka yang mengagumi senja sebagai keyakinan baru telah berniat meruntuhkan kedaulatan negeri di bawah pimpinan sang jenderal.

Sayangnya rakyat negeriku suka dengan kekuasaan. Mereka percaya bahwa militer telah “membersihkan” semuanya. ‘mereka telah menghilangkan kesemrawutan, kita tidak lagi melihat adanya graffiti di tembok-tembok, semuanya begitu bersih, dan terimakasih bahwa suami-suami kami pulang ke rumah selalu tepat waktu’. Seorang tetangga berkata demikian padaku. Baginya yang tidak terkena dampak langsung: dia beruntung anak-anaknya tidak diPHK tanpa kompensasi atau ditahan pihak keamanan.

Di negeriku Nyong, yang telah aku tinggalkan bertahun-tahun lalu, persahabatan dan kekeluargaan menjadi sesuatu yang sangat penting, meskipun bila ada sesuatu terjadi orang-orang hanya bisa menjelaskan dampak yang diakibatkannya bukan penyebabnya, mungkin karena ketakutan telah hidup begitu lama dalam jiwa manusianya. Pengkhianatan dan saling menjatuhkan mengangkangi kehidupan di sana; semua itu terjadi dan berlangsung di sekitar kami, oleh siapa saja; teman, orang yang tidak dikenal bahkan kerabat sendiri, tujuannya jelas memperoleh keuntungan sendiri. Dalam banyak kasus, tak ada yang terdengar menggugat. Rakyat terpecah menjadi pengikut Negara yang di-backing militer dan yang melawannya tanpa suara; hidup dalam ketidaksalingpercayaan, ketakutan telah meracuni hubungan manusia. Demokrasi telah diganti dan hilang sejak beberapa decade lalu, tetapi beruntungnya, cita-cita itu tetap hidup meski hanya dalam hati segelintir orang.

Jika engkau miskin itu salahmu, dan jika engkau komplain, hal itu akan mengakibatkan dirimu dianggap komunis. Hal itu hidup terus di negeriku selama sang jenderal itu berkuasa.

Lalu hampir seluruh penduduk negeriku turut mencarinya. Pihak keamanan bahkan menggeledah lubang semut kawatir pria dengan rambut panjang dan kumis jenggot yang juga panjang itu bersembunyi di sana. Bahkan pemerintah membuat sayembara bagi siapa saja yang bisa menunjukkan di mana letak persembunyian tukang cerita itu. Hadiahnya sangat menggiurkan, uang yang jumlahnya tidak akan habis tujuh turunan. Siapa yang tidak tertarik di jaman yang sedang susah apalagi di negeriku yang sebagian penduduknya miskin dan sedikit yang kaya tetapi tidak mau berbagi.

Lucunya pemerintah negeriku bekerjasama dengan negeri-negeri tetangga untuk memerangi tukang cerita dan ceritera-ceriteranya tentang senja itu. Perang melawan senja begitu judulnya. Ceritera tentang senja telah menjadi terror, para pengikut tukang cerita itu disebut senjais dan mereka ditangkap lalu dipenjarakan. Dari pengumuman di televise, radio, koran dan majalah, aku tahu ia menjadi buronan karena dua kesalahan besar yang telah dibuatnya. Pertama, ia telah mengisahkan senja-senja terindah dan sangat romantis di seluruh sudut bumi. Ceritera-ceriteranya telah membuat penduduk negeriku menjadi sangat terpesona. Apalagi para pemuda dan pemudi yang diharapkan bisa menggantikan generasi tua di negeriku. Akibat kisah-kisahnya itu, orang-orang menjadi lupa segalanya. Seperti ada semacam janji dalam setiap kisahnya. Kedamaian, ketentraman, kenyamanan yang luar biasa setiap menikmati senja. Mereka lupa pekerjaan, keluarga, anak istri, suami, kekasih bahkan kewajibannya sebagai warga Negara. Semua orang tergila-gila pada senja. Senja diburu, senja dinikmati, senja dipuja.

Tentu saja fenomena itu membuat gusar dan resah penguasa di negeriku. Kesalahan yang kedua dan terbesar adalah membuat rakyat yang memujanya kecewa, saat semua orang telah memuja senja dan memburunya. Ia dengan semena-mena memotong senja di negeriku. Ia mengantonginya sendiri. Dari sebuah rekaman pengakuannya dalam siaran berita televisi, tukang cerita itu memotong senja untuk kekasihnya seorang. Kenyataan ini tentu saja membuat penduduk negeriku marah atas keegoisan tukang cerita itu. Ini kemudian dimanfaatkan oleh pemerintah dan pihak keamanan, merekapun menjadikan tukang cerita itu sebagai musuh bersama. Dan rakyat berduyun-duyun mengiyakan pernyataan itu.

Mungkin sampai sekarang, aku telah berkelana puluhan tahun, negeriku masih tanpa senja. Tentu kau bisa membayangkannya, Nyong. Kalau kau berada di negeriku, engkau tidak akan menemukan senja. Setelah siang dan sebelum malam, langit barat bolong, berwarna hitam pekat. Tak ada lagi warna merah, ungu, jingga atau larik-larik cahaya kemilauannya. Setelah siang kegelapan menyelimuti negeriku. Lalu malam datang menambah kepekatannya.

Nyong, kaupun pasti pernah melihat senja kan? Pada waktu aku melawat ke negerimu, negeri yang tak habis-habis memuja sepakbola, dan bermain di tepi danau yang selalu dipenuhi pelancong yang tiap senja datang memberi makan ikan-ikan besar di sana, kita pernah melewati senja sambil bermain bola. Memang di negerimu senja tidak terlalu diperhatikan, sepakbola adalah segalanya. Pagi, siang, malam atau senja semua orang sibuk dengan pertandingan sepakbola. Entah sekedar bermain-main, menyaksikan pertandingan-pertandingan sepakbola dari televise atau menjadi bagian dari pertandingan-pertandingan besar. Semua orang memujua sepakbola. Mungkin bedanya di negerimu, pemujaan terhadap sepakbola menjadi bagian yang menarik dan justru membuat negerimu menjadi pencetak pesepakbola-pesepakbola paling jago di bumi ini. Aku ingat, di tepi danau itu pertama kali kita bertemu. Kaupun mengajariku menari, tarian yang harus dikuasai lebih dulu oleh setiap orang yang ingin belajar sepakbola. Aku sering melihat tarian-tarian itu di layar kecil televisiku saat para pemain dari negeri bermain sepakbola di benua-benua lain. Dan senja di negerimu menjadi hal yang biasa. Seperti makan, kencing, atau tidur.

Mungkin hingga kini orang-orang di negerimu menganggap senja sebagai bukan sesuatu yang istimewa. Tetapi tidak di negeriku, Nyong. Dulu, saat tukang cerita itu berkeliling untuk mengisahkan ceritera-ceritera tentang senja, negeriku menjadi semarak. Banyak orang mengekspresikan dan memaknai senja dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang tiba-tiba jadi pelukis, penulis cerita, tukang foto, pedagang barang-barang yang berhubungan dengan senja dan masih banyak lagi. Tukang ceritera itu berkeliling hingga pelosok-pelosok desa terpencil, sampai puncak-puncak gunung, tepian pantai, hanya untuk mengisahkan keindahan senja. Negeriku menjadi negeri yang penduduk begitu bersemangat memandang kehidupan. Tanpa disadari, kisah-kisah tentang senja telah memberi inspirasi semua orang. Kehidupan ekonomi penduduk miskin membaik karena mereka bisa membuat apa saja tentang senja dan orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya bisa menikmati senja dari pernik-pernik kecil yang dibuat oleh industri rumahan. Tingkat kreativitas penduduk juga naik drastis, kegiatan seni dimana-mana. Kurasakan kehidupan semakin bergairah di mana-mana. Kisah-kisahnya telah menahbiskan senja menjadi saat paling istimewa dari waktu yang berjalan.

Ia membuat para pendengarnya dengan pujaan-pujaan tentang senja. Ia berceramah, membacakan puisi, mendongeng tentang senja di berbagai tempat di bumi ini. Awalnya hanya satu dua orang yang mau mendengar, kebanyakan mencibir pada kisahnya. Tetapi karena situasi yang sulit terus banyak orang stress karena pekerjaan serta kehidupan yang tidak menentu dan orang-orang butuh semacam lagu nina bobo yang bisa membuai akhirnya pendengar ceriteranya menjadi banyak sekali. Anehnya dari pengakuan mereka, ada semacam ketenangan setelah mendengar kisah-kisah itu. Tak lama kemudian orang berduyun-duyun mencarinya untuk mendengar kisah-kisah itu.

Begitulah, akhirnya tukang cerita itu kemudian dijuluki pengelana senja, ada yang menyebutkan pengabar senja, ada yang menghadiahi nama pengisah terhebat bahkan orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai pengikut tukang cerita itu menyebutnya sebagai orang yang menerima wahyu senja. Tukang cerita itu selalu muncul bersamaan dengan datangnya senja. Ia membacakan kisahnya dalam balutan senja merah keunguan yang indah sekali. Ia tidak butuh berteriak lantang, ia hanya bicara dengan biasa saja, karena tak ada yang berbicara, menyela bahkan menahan batuk saat dia sedang bercerita. Kadang tukang cerita itu berbisik lirih, meneriakkan lantang puisinya, bersenandung lagu-lagu merdu lewat suaranya yang serak. Ia hanya muncul sekali di suatu tempat. Hari ini mungkin ia berada di sini, besok saat senja datang ia telah berada di tempat lain.

Setelah berhari-hari, berbulan-bulan, kisah tentang tukang cerita yang memiliki banyak julukan itu menjadi sangat terkenal. Semua penduduk di tempat-tempat tinggi dimana senja dapat disaksikan dengan sangat sempurna menunggu kedatangannya untuk berceritera dalam balutan senja yang berkilauan. Orang-orang gunung, lembah, pantai, desa, kota terbuai oleh kisah-kisahnya. Di kota-kota besar, para pekerja di gedung-gedung tinggi yang sering mengenakan dasi tetapi lebih mirip penjerat leher agar tidak bisa lari kemana-mana itu tidak pulang cepat-cepat ketika sore waktunya pulang ke rumah. Mereka berdesakan di bagian barat dari gedung tempat mereka bekerja sambil membuka jendela kaca lebar-lebar, atau naik ke atap gedung demi menikmati senja dengan warnanya yang syahdu merayu itu. Para petani berhenti mencangkul, nelayan berhenti menjala, sopir-sopir mematikan mesin kendaraannya, demi senja. Toko-toko tutup, restoran tutup, terminal tidak ada kegiatan, stasiun tidak berfungsi. Lalu tidak ada satupun lampu yang dinyalakan demi untuk menikmati cahaya senja.

Seperti itulah kejadiannya, Nyong. Entah karena iri atau takut pamornya runtuh, penguasa yang gerah sejak kehadiran tukang cerita itu menyita perhatian penduduk negeriku, mereka menjadi tersinggung dan menuduh tukang cerita itu telah mengganggu stabilitas negeri. Apalagi setelah stasiun-stasiun televisi berlomba menyiarkan secara langsung kegiatan tukang cerita itu. Tayangan berita, film, sinetron, infotainment kebanyakan tentang senja dan tukang cerita yang terus berkelana di negeriku. Kegiatan pemerintahan, kampanye-kampanye, kegiatan amal para istri penguasa luput dari pemberitaan. Koran dan majalah menomorkansatukan berita yang tidak berbeda. Foto-foto senja, foto-foto tukang cerita dalam banyak gaya terpampang besar-besar, mengalahkan segalanya. Radiopun seperti itu. Sekolah membuat tambahan ekstra kurikuler tentang pengetahuan senja, karena tak ada dalam kurikulumnya. Pedagang kakilima bertebaran di mana-mana, mereka menjual apa saja yang ada hubungannya dengan senja dan tukang cerita gondrong itu. Lukisan-lukisan mahal diturunkan dan dilempar ke gudang diganti dengan lukisan tentang senja yang bahkan mungkin dilukis oleh anak-anak kecil. Foto-foto senja dalam frame-frame mahal menggantikan foto para pemimpin. Senja dan segala sesuatu yang berhubungan tentang senja menggantikan segalanya.

Pemerintah geram karena tiap senja datang semua kegiatan terhenti, kecuali pemandangan jutaan, puluhan juta orang yang memandang langit barat. Tak hanya itu, ada orang-orang iseng yang mulai menyebarkan selebaran tentang sebuah negeri baru, negeri senja. Penguasa marah, mereka menyusun rancangan undang-undang anti senja, lalu diajukan ke dewan rakyat. Tak ada adu pendapat atau tarik ulur di lembaga itu. Rancangan itu langsung disetujui dan diundangkan, makan keluarlah undang-undang anti senja yang melarang setiap orang untuk menikmati, menyimpan atau melakukan aktivitas yang ada hubungannya dengan senja. Penggeledahan, penangkapan, bahkan penculikan terjadi di mana-mana. Pemusnahan benda-benda yang ada hubungannya dengan senja dilakukan. Pembreidelan terhadap media massa yang bandel terjadi. Tak hanya itu lembaga lintas iman mengharamkan senja.

Banyak yang protes, aktivis senja dan para senjais menyusun barisan melakukan demonstrasi. Pihak keamanan menanggapi dengan gas air mata, peluru karet bahkan peluru sungguhan. Penguasa tidak main-main untuk memberangus segala sesuatu tentang senja. Kritikan terhadap kebijakan penguasa bermunculan dari dalam dan luar negeriku. Para pemimpin dunia menyurati penguasa kami, aktivis kemanusiaan menyayangkan penangkapan, pemukulan dan penculikan. Seorang pemimpin yang terkenal sebagai tukang celetuk menanggapi dengan celetukan khasnya. Senja kok diurusi, imajinasi kok dilarang. Mending ngurusin kemiskinan, katanya.

Dengan pemberlakuan undang-undang itu, si tukang cerita ditetapkan sebagai buronan. Siapa saja yang membantunya lari atau menyembunyikannya akan dihukum seberat-beratnya. Jadilah negeriku, negeri yang kacau kembali setelah sejenak penuh warna. Pihak keamanan membentuk satuan khusus pemburu tukang cerita itu. Setelah itu semua, penduduk di negeriku kembali ke kehidupan seperti semula. Kajahatan di mana-mana, wajah kemiskinan berteletekan di mana-mana, pajangan-pajangan kembali lagi. Tak ada yang berani menyimpan, mengoleksi, atau memuja senja karena pasti dihukum.

Sejak saat itu para peramal, paranormal, dukun menjadi laku didatangi para pemburu hadiah yang diiming-imingkan penguasa bila bisa menunjukkan keberadaan tukang cerita senja yang telah berubah julukan menjadi buronan nomor wahid, orang paling dicari, sumber hadiah karena kampanye penguasa dan undang-undang anti senja. Orang-orang garis keras negeriku justru merasa tertantang, mereka mendeklarasikan negeri senja.

Tukang cerita yang dulunya dipuja seperti pahlawan bagi penduduk di tengah ketidakjelasan dan ketidakmenentuan nasib akhinya menjadi penjahat, menjadi orang yang dinajiskan, harus dibinasakan. Nyong, betapa mudah segala sesuatu di negeriku dibolak-balik dengan seenaknya. Para penguasa bisa tersenyum menyaksikan perubahan itu. Kampanye mereka berhasil. Mereka bisa duduk tenang kembali.

Menyadari keberadaannya tidak diinginkan lagi dan melihat betapa pihak keamanan bisa menculik, menangkap, memenjarakan orang dengan begitu mudah, tukang cerita itu lenyap entah kemana. Bukan takut kurasa, Nyong. Ia mungkin memikirkan nasib orang banyak. Ia tidak ingin ada korban lagi. Ia membuat permintaan maaf lewat sebuah saluran televisi. Jika pihak keamanan dan penguasa berniat menangkapnya maka mereka harus berusaha keras karena tak ada lembaga apapun di muka bumi ini yang bisa menangkap, memenjarakan pemikiran dan imajinasi seseorang, begitu katanya.

Namun kehidupan yang mulai bergeser itu kembali bergejolak setelah di suatu senja para penduduk yang masih sembunyi-sembunyi mengagumi datangnya senja menyaksikan betapa langit barat telah berlubang dan senja telah hilang. Lalu sebuah tayangan muncul di televisi-televisi, tukang cerita itu minta maaf lagi karena telah memotong senja untuk dibawanya pergi. Negeriku menjadi kacau kembali. Penduduk menyalahkan penguasa dan pihak keamanan yang terus memburu tukang cerita itu. Penguasa dan pihak keamanan merespon dengan penangkapan, penculikan bahkan pembunuhan massal. Aku yang hanya orang biasa dan tidak berhubungan dengan politik ataupun senja dibuat bingung. Ada senja, orang memuja ada kerusuhan. Tak ada senja, orang marah ada kerusuhan juga. Sejak saat itulah aku memutuskan untuk menjadi pengelana tanpa tujuan, hingga kini.

AKU MEMUTUSKAN UNTUK BERKELANA

Aku memutuskan berkelana karena negeri menjadi kacau dan sejak kekasihku pergi meninggalkanku, demi memburu senja yang telah dilarang di negeriku. Pacarku pergi memburu senja.

Tak ada yang menyakitkan selain ditinggal kekasih paling dicinta demi hal yang lain yang baru yang katanya lebih menarik dan mendebarkan selain diriku, Nyong. Begitulah, kekasihku pergi karena telah jatuh cinta pada senja. Aku pergi berkelana tanpa tujuan selain berkelana sambil berharap bisa menemukan kekasihku itu. Kuusung rasa setia dihatiku pada kekasihku itu. Bukankah tak ada yang lebih indah selain kesetiaan, Nyong. Bahkan senja tak bisa mengalahkannya.

Di sinilah aku sekarang. Di tengah pada gurun yang panas dan kering dalam perjalananku menuju entah kemana dan entah sampai kapan. Ada yang pernah bilang bahwa kesetiaan dalam percintaan itu omong kosong, sekarang aku merasa tertantang untuk membuktikannya. Kesetiaan adalah bagian dari cinta yang tidak bisa dipisahkan. Bilapun ada orang yang meninggalkan kekasihnya mungkin karena ia memang tidak mencintainya. Mungkin kekasihku itu juga tidak mencintaiku sejak awal, tetapi entah kenapa ia selalu bilang cinta padaku. Mungkin ia hanya kasihan padaku yang sebatang kara dan tidak memiliki seorangpun. Lalu ia mengucapkan kata cinta itu demikian merdu bertalu hingga aku kemudian jatuh cinta padanya juga. Bahkan mungkin cintaku takkan pernah bisa dihapuskan.

Cinta itu bukan permainan. Dan aku tidak pernah bermain-main dengan cinta. Cinta itu benar-benar ada Cuma kita tidak pernah bisa mendefinisikan apa itu cinta. Tetapi kita bisa merasakannya, lalu setia padanya. Apakah kau juga punya kesetiaan, Nyong? Mungkin kau akan bertanya padaku tentang keterpesonaanku pada perempuan dengan mata terindah itu. Awalnya aku tidak tertarik pada tukang cerita senja dan senja yang diceritakannya. Tetapi sejak kekasihku pergi, aku menjadi tertarik dengan senja, mungkin jika aku bisa menemukannya di tempat-tempat orang bisa menemukan senja terindah. Itu yang pertama. Yang kedua, dari cerita yang dikisahkan tukang cerita itu di suatu hari di pinggir sungai dekat tempatku tinggal, aku tahu bahwa ada rombongan perempuan bercadar di tengah padang gurun yang katanya adalah istri penguasa senja. Penguasa senja itulah yang membuat senja bisa tampak begitu indah dan memukau meski hanya sebentar saja hadirnya. Dari kedua hal itu lalu akupun menarik kesimpulan bahwa mungkin dengan berkelana aku bisa menemukan kekasihku lagi, menyerahkan kesetiaanku padanya. Terserah mau dia apakan kesetiaanku itu nantinya. Dan yang paling membuatku semakin bersemangat berkelana adalah ketika aku benar-benar bertemu dengan perempuan dengan mata terindah dan istri penguasa senja itu. Mungkin kamu sedikit bingung dan tidak mengerti dengan penjelasanku ini, Nyong. Nanti kamu akan mengerti setelah aku selesai berceritera semuanya. Tetapi yang jelas adalah aku berkelana tanpa tujuan sambil berharap bertemu kekasihku itu dan menyerahkan kesetiaanku padanya. Itu saja.

NEGERI TANPA SUARA

Aku tiba di negeri tanpa suara ditemani oleh Rakeh dan ontanya. Benar kata Rakeh, di negeri ini yang terdengar hanya desau angin yang menyapu pasir dan debu yang terhampar bagai permadani sang maha. Semua orang hanya bertatapan mata dan mereka bisa mengerti dengan sendirinya. Di negeri ini bahasa tidak diucapkan dan dituliskan. Bahasa hanya dimengerti dengan tatapan mata. Tak ada yang lebih ajaib ketimbang kenyataan yang kutemui di sini. Matahari bulat besar yang muncul saat pagi di negeri salju abadi yang kukira adalah keajaiban satu-satunya ternyata tidak lebih menakjubkan ketimbang negeri tanpa suara ini. Kamu tentu bisa membayangkan betapa sunyinya negeri ini, Nyong. Kita tidak akan pernah mengerti bila kita tidak berbicara dan memberikan tanda. Tetapi di sini semua itu tidak berlaku.

Penduduk negeri tanpa suara, baik laki-laki maupun perempuan kecuali anak-anak, mengenakan cadar. Agak sulit membedakan mereka dari belakang, kecuali tentu gaya berjalan mereka. Dan dari sinilah perempuan dengan mata terindah itu berasal. Negeri di mana ia lahir dan menjadi perempuan dengan mata terindah yang pernah ada. Menurut ceritera yang beredar kekagumannya pada senja telah menjadikan perempuan itu menghabiskan waktu setiap senja tiba dengan memandang larik-larik cahaya berkilauan di langit barat. Kebiasaannya itu membuat penguasa senja yang sering berkelana ke seluruh jagat raya jatuh hati padanya. Lalu dengan kesaktiannya melukis langit, iapun melukis senja terindah hanya di negeri tanpa suara agar bisa dinikmati perempuan itu. Dan karena setiap senja datang perempuan itu selalu memandang senja, lama-lama matanya berubah menjadi mata terindah. Masih menurut kabar yang beredar, sebenarnya perempuan itu tidak memiliki kaki sebelah. Karena itu ia menjadi penyendiri dan tidak banyak bergaul dengan orang. Kekurangannya itu tentu saja membuat para pemuda di negeri tanpa suara tidak tertarik padanya. Mereka berpaling setiap kali bertemu dengannya. Peristiwa itu membuat penguasa senja menjadi trenyuh, dengan kekuatan lewat larik-larik cahaya senja yang memesona, ia memberikan kelebihan pada mata perempuan itu. Dan ia memilih matanya karena penduduk negeri tanpa suara hanya terlihat matanya. Begitulah ceritanya. Sekarang aku telah berada di negeri tanpa suara sambil berharap bisa menemukan perempuan dengan mata terindah itu.

Dulu sebelum ada revolusi di negeri tanpa suara, pemerintahan yang berkuasa terkenal sangat kejam terhadap penduduknya. Mereka sangat represif dan membungkam suara-suara ketidakpuasan penduduk atas ketidakadilan yang terjadi terus menerus dan dipelihara untuk waktu yang sangat lama. Penduduk dilarang mengeluarkan pendapat atas segala macam kebijakan yang diambil oleh penguasa. Pengalaman hidup yang pahit itupun akhirnya membuat penduduk negeri tanpa suara menciptakan bahasa dengan pandangan mata untuk menghindari penangkapan, pembunuhan dan penculikan yang terus terjadi. Di bawah pimpinan beberapa orang sipil, penduduk negeri tanpa suara memberontak dan membunuh para penguasa. Mereka semua digantung di jalanan. Tak ada satupun yang tersisa. Lalu pemilihan pemimpin yang barupun dilaksanakan. Dan akhirnya seorang perempuan terpilih menjadi pemimpin negeri tanpa suara. Ia dibantu oleh dewan rakyat yang dipilih oleh rakyat secara langsung. Dan bahasa tatapan matapun dijadikan bahasa pemersatu di negeri tanpa suara. Revolusi itu sendiri terjadi sekitar tigapuluh tahun yang lalu.

Kini negeri tanpa sura, sepenglihatanku, sangat damai. Sebuah sungai besar dibangun dan membelah negeri tanpa suara yang terletak di tengah-tengah padang gurun yang panas. Dari sungai itulah pertanian, peternakan dan perikanan dijalankan dengan adil. Tak hanya negeri tanpa suara yang kemudian menjadi subur dengan adanya sungai buatan itu. Negeri-negeri di sekitar negeri tanpa suara yang sama-sama terletak di tengah padang gurun menjadi subur. Inilah masa kejayaan negeri tanpa suara. Segala sesuatu di negeri ini gratis. Bahkan ketika aku dan Rakeh tiba di perbatasan negeri tanpa suara, para pengawal di perbatasan menjamu kami dengan keramahan dan makanan serta minuman khas mereka. Penduduk di negeri ini telah diberi tugas masing-masing. Ada yang diberi tugas mengelola penginapan untuk para pelancong yang ingin menikmati senja, ada yang ditunjuk mengelola restoran, ada yang mengurusi transportasi. Dan semuanya gratis. Segala macam fasilitas umum diberikan dengan cuma-cuma. Tak ada mata uang di negeri ini, uang tidak berlaku sama sekali. Mereka bahkan benar-benar mandiri tanpa campur tangan negeri lain. Negeri tanpa suara sangat terbuka bagi perwakilan negeri-negeri tetangga. Anehnya mereka tidak mengirimkan perwakilan mereka sama sekali. Adakah kemandirian yang seperti ini di tempat lain, Nyong?

Aku belum menguasai bahasa tatapan mata di negeri tanpa suara. Rakeh yang menjadi penerjemahku. Aku sendiri berkomunikasi dengan Rakeh melalui tulisan, karena orang tidak boleh berbicara di negeri ini. Kalau ada pelancong yang datang, dan memang banyak sekali, pemimpin negeri ini telah menyediakan para penerjemah yang direkrut dari negeri-negeri tetangga, karena penduduk negeri tanpa suara tidak boleh berbicara, memberikan tanda atau menuliskan bahasa mereka. Para penerjemah yang ada belajar bahasa tatapan mata dari para ahli bahasa negeri tanpa suara yang diberi kewenangan khusus untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang ingin belajar bahasa tatapan mata, itupun dengan bahasa tulisan.

Entah darimana Rakeh memelajari bahasa negeri tanpa suara ini, bahasa dimengerti hanya dengan saling bertatapan mata, bahasa pengertian yang tidak harus diucapkan dan dituliskan. Kupikir awalnya orang-orang di negeri tanpa suara ini juga bisa membaca pikiran orang lain, ternyata tidak. Pikiran yang tidak dikatakan dan tidak diungkapkan dalam pandangan mata tidak pernah bisa dimengerti oleh orang manapun termasuk orang-orang negeri tanpa suara. Sejauh perjalananku hingga di padang gurun ini aku belum pernah menemukan orang yang bisa membaca pikiran. Dan kupikir sebaiknya tidak ada yang bisa melakukannya. Sebab jika ada yang bisa melakukannya maka akan kacaulah dunia ini. Apa menariknya jika kita bisa membaca pikiran orang lain, karena kita tidak perlu repot mencari ilmu pengetahuan dan tentu kita tidak akan pernah punya rahasia sama sekali. Bukankah kita perlu sedikit memiliki rahasia. Seperti kamu, Nyong. Meski kamu bilang bukan rahasia tetapi tetap saja aku tidak boleh mengetahui sedikit dari sekian banyak cerita tentang dirimu.

Bicara tentang rahasia, ada sebuah rahasia umum di negeri ini. Seperti halnya di mana saja meski rahasia milik pribadi, pada akhirnya sebuah rahasia akan beredar dan anehnya tetap menjadi rahasia. Ia kemudian berubah nama menjadi rahasia umum. Bukankah sebuah rahasia hanya milik seseorang dan jika sudah milik public sudah tidak rahasia lagi? Tetapi itulah anehnya rahasia dalam dunia kita ini. Rahasia umum itu adalah bahwa di luar sepengetahuan penguasa senja suaminya, perempuan dengan mata terindah itu sangat suka bila dipuji laki-laki. Karenanya ia selalu berkeliling dan ingin dipuji. Ini mungkin karena sejak dulu ia telah merasa dikesampingkan oleh para pemuda karena cacat. Sekarang setelah memiliki mata terindah maka ia ingin dipuji. Itulah mengapa aku juga berusaha menyatakan keterpesonaanku pada matanya. Dan ini bukan ketidaksetiaan bukan? Bukankah kesetiaan juga butuh siasat agar bisa diungkapkan? Seperti halnya cinta. Karena itu cinta dan kesetiaan tidak bisa dipisahkan. Dan kesetiaan adalah cinta terhadap seseorang yang sangat kita cintai. Mungkin yang pernah kutemui di negeri dengan salju abadi agak aneh. Di sana aku menemukan seorang perempuan yang memiliki tiga suami. Dan ia setia dengan ketiganya. Ini mungkin perlu sebuah pemecahan, tetapi aku tidak terlalu memikirkannya, karena kesetiaan bagiku hanya untuk kekasihku seorang.

MATAHARI BULAT BESAR DI NEGERI SALJU ABADI

Bila negeriku pernah memuja senja dan negerimu begitu mendewakan sepakbola, maka negeri salju abadi menganggap matahari bulat besar yang muncul sekali dalam setahun adalah sebuah anugerah yang sangat luar biasa. Nyong, bayangkan di negeri itu tak ada tanah yang terlihat, semuanya salju yang putih. Dinginnya melebihi dingin malam paling dingin yang pernah kulewati. Bahkan aku butuh bertumpuk pakaian untuk membungkus tubuh dan membuat api unggun setiap hari agar badan terasa hangat. Tentu kehadiran matahari sangat ditunggu-tunggu. Aku pernah ke sana tetapi merasa tidak betah sama sekali. Tetapi sekali dalam seumur hidup aku juga ingin berkorban sedikit untuk bisa melihat matahari bulat besar di tengah-tengah dua puncak gunung tinggi, yang muncul hanya sekali dalam setahun itu.

Aku sebenarnya tidak ingin pergi ke sana, selain karena butuh waktu hampir seminggu untuk berjalan kaki mendaki dalam udara yang sangat dingin. Di negeri salju abadi juga tidak banyak makanan yang bisa aku makan, menurut keterangan pemandu jalanku, di sana hanya ada daging dan minuman yang terbuat dari lemak hewan peliharaan. Memang ada susu juga tetapi aku akan sangat merindukan air putih. Pemandu itu tertawa, jelas di sana ada air putih, katanya. Iming-iming tentang matahari bulat besar yang akan muncul dari balik punggung gunung sangat membuatku tertarik. Aku belum pernah melihat matahari yang katanya sangat besar dan bersinar dengan lembut tidak menyilaukan mata itu. Tidak ada di belahan manapun di bumi ini kita bisa melihat pemandangan seperti itu selain di negeri salju abadi. Tak bisa dilupakan, begitulah kesan orang-orang yang pernah ke sana dan menyaksikan munculnya matahari sekali dalam setahun itu. Negeri itu adalah negeri yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Aneh memang, saat itu kupikir mata pengetahuanku telah dibukakan dengan menjadi pengelana yang tanpa tujuan. Setelah turun dari negeri salju abadi yang tidak bisa dilupakan itu, aku sampai ke sebuah negeri yang menurut penduduknya adalah negeri yang masyarakatnya dilupakan. Negeri yang selalu bergolak karena penguasa tidak pernah memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Sungguh ironi memang. Tetapi selama di negeri salju abadi aku benar-benar merasakan bahwa banyak hal yang akan terus melekat dalam ingatanku dan tidak akan mudah dilupakan.

Pertama tentu saja matahari bulat besar yang muncul hanya sekali dalam setahun di antara dua puncak gunung yang tinggi yang menghangatkan kehidupan di negeri salju abadi. Aku belum pernah melihat matahari sebesar itu. Rasanya sangat dekat sekali, tetapi tak ada panas. Cahayanya tidak menyilaukan mata. Itulah keanehan yang kemudian diburu oleh para penikmat matahari yang datang dari seluruh penjuru bumi. Mereka berkumpul sekali dalam setahun di negeri salju abadi itu. Mereka bahkan rela membiarkan mereka begitu kedinginan hanya untuk sebuah momen sekali setahun itu. Kedua adalah ketika kutemukan sebuah kenyataan tentang bagaimana para perempuan di negeri salju abadi bisa bersuami tiga atau empat orang. Di negeriku seringkali kudengar seorang laki-laki yang memiliki isteri lebih dari satu. Sejak jaman dahulu memang sudah ada, tetapi belakangan praktek mempunyai isteri lebih dari satu itu ditentang oleh kaum perempuan yang tersadarkan. Praktek itu kemudian dilarang atas perjuangan kaum perempuan itu. Meskipun pada kenyataannya masih ada yang mau dijadikan isteri kedua, ketiga atau entah keberapa. Alasannya jelas, kalau tidak karena masalah himpitan ekonomi, juga karena alasan keyakinan. Aku tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak mau tahu dengan semua itu, karena kupikir aku sendiri tidak berniatan untuk memiliki istri lebih dari satu. Bagiku kesetiaan dan cinta hanya bisa dicurahkan pada satu orang saja, yaitu kekasihku, kekasihku yang telah pergi meninggalkan aku demi mengejar senja yang sangat memukau hatinya itu. Ada beberapa perempuan yang kulihat sendiri memiliki suami lebih dari satu di negeri salju abadi. Shresta misalnya, ia memiliki tiga orang suami. Yang pertama adalah Waseng. Waseng usianya lebih tua enam tahun dari Shresta. Dari Waseng Shresta memiliki dua orang anak. Tugas Waseng bagi keluarganya adalah menggembalakan ternak yang jumlahnya ratusan di lereng-lereng curam negeri salju abadi. Ia jarang pulang ke rumah. Biasanya ia pulang dua bulan sekali karena wilayah penggembalaannya sangat jauh. Suami Shresta yang kedua adalah Olpo. Olpo usianya sama dengan Shresta. Dari Olpo lahirlah seorang anak perempuan. Tugas Olpo merawat dan mengasuh anak-anak mereka semua. Jika Waseng pulang dan ternak-ternak dengan bulu-bulu tebal itu masuk kandang yang luas sekali, Olpo akan memerah susunya. Biasanya waktu pemerahan susu itu sampai dua minggu, agar diperoleh susu yang banyak untuk kebutuhan mereka semua. Baik untuk dijual, diminum sendiri maupun dijual. Lalu suami Shresta yang terakhir adalah Tewang. Tewang lebih muda lima tahun darinya. Tugas Tewang adalah untuk berjualan susu, daging ternak yang dipotong dan lemak yang sangat mahal di pasaran. Menurut cerita, dari ketiga suami itu hanya Tewanglah yang berhak memenuhi kebutuhan biologis Shresta. Waseng dan Olpo akan datang bila Shresta meminta mereka menemani tidur. Aneh memang. Tetapi itu yang kutemukan di negeri salju abadi itu. Para perempuan yang memiliki banyak ternak di sana bisa memiliki lebih dari satu suami untuk mengerjakan banyak hal.

Di negeri salju abadi itu, aku seperti halnya ratusan pelancong lain yang datang ke sana, diperlakukan dengan baik sepanjang kami semua mengikuti apa yang dinasehatkan oleh para tetua di sana. Seperti setiap kami beristirahat dalam perjalanan di negeri itu untuk makan maka kami harus menaburkan makanan yang akan kami makan itu ke udara agar para dewa penguasa langit yang menaungi bumi turut merasakan apa yang kami makan. Jika tidak maka para dewa akan marah, entah benar atau tidak, biasanya semua pelancong melakukan hal tersebut. Bukan membuang makanan tentu saja tetapi sebagai satu bentuk penghormatan atas aturan yang berlaku di negeri tersebut, meskipun pada akhirnya makanan yang kami taburkan itu tetap tak ada yang makan selain jatuh ke atas salju putih yang terhampar hingga batas pandangan. Di negeri salju abadi itu, para penduduknya tidak tertarik sama sekali pada para pelancong. Sepanjang yang kuketahui tak ada satupun penduduk negeri salju abadi yang menikah dengan orang luar. Walaupun tak ada larangan untuk itu, namun semacam ada kepercayaan bahwa mereka akan hidup bahagia tanpa ada keturunan asing dalam silsilah keluarga mereka. Negeri salju abadi itu dipimpin oleh seorang Illama. Illama adalah pemimpin kepercayaan yang bertugas menjaga keselarasan dan keseimbangan hidup masyarakat negeri salju abadi.

Illama tidak memiliki isteri. Mereka dilarang berhubungan badan. Merekalah representasi kehadiran dewa di bumi. Illama terdiri dari sepuluh orang yang mengatur beberapa hal seperti peternakan, perdagangan, kependudukan. Illama dipilih setiap ada anggota Illama yang meninggal. Seorang calon Illama telah dipersiapkan sejak kecil, mereka dipingit, diajari banyak pengetahuan. Pemilihan calon Illama juga sangat ruwet dan bagiku tidak masuk akal. Ada seorang Illama yang bertugas mencari anak-anak yang memiliki takdir untuk menjadi Illama, tetapi pada perkembangan selanjutnya takdir juga tidak cukup. Kemampuan mereka menyerap ilmu dan mengambil keputusan bagi orang banyak sangat menentukan. Seorang anak yang memiliki ciri calon Illama biasa sejak kecil tidak suka memiliki rambut, ia akan meminta rambut di kepalanya dicukur setiap tumbuh. Lalu ia akan lebih suka diam ketimbang bicara. Dan yang paling dicari adalah kemampuannya untuk memecahkan masalah secara adil tanpa menyakiti siapapun. Sangat sulit memang untuk mencari anak yang memiliki kemampuan seperti itu. Tetapi nyatanya tetap ada saja anak-anak yang ditemukan oleh Illama pencari itu.

Ketika aku sampai di negeri salju abadi itu, masyarakat sana sedang sibuk dengan pengangkatan seorang Illama untuk menggantikan Illama tertua yang meninggal. Upacara pengangkatan akan bersamaan dengan pemunculan matahari bulat besar dalam setahun sekali di tengah-tengah dua puncak gunung. Upacara pengangkatan itu akan dipusatkan di tengah lapangan salju yang luas di tengah-tengah negeri. Kain-kain kuning dan merah tua dipancangkan di mana-mana. Bendera-bendera kebesaran masing-masing Illama dikibarkan tinggi-tinggi. Utusan-utusan pengintai matahari telah berada di puncak gunung untuk menghitung kapan matahari bulan besar itu akan muncul. Semarak sekali suasana di negeri salju abadi itu. Belum pernah kulihat begitu banyak bendera berwarna-warni yang bisa bersanding dalam kedamaian yang suci selain di negeri salju abadi itu. Di negeriku, Nyong, bendera-bendera yang berbeda warna dan gambarnya bisa menimbulkan kerusuhan. Entah kenapa, aku tidak tahu sebabnya. Berbeda sekali dengan negeri salju itu, di sana keselarasan dan keseimbangan sungguh terjaga justru dalam perbedaan itu sendiri. Bahkan kami, para pelancong diminta untuk mengibarkan bendera-bendera negeri kami masing-masing. Tujuannya untuk menghormati Illama yang akan diangkat. Aku yang datang seorang diri tidak mengibarkan bendera apapun. Pikirku dulu sangat lucu ketika kutemukan orang-orang yang begitu fanatic dengan hanya kain yang dijahit berbagai warna dan kadang diberi gambar itu. Bahkan mereka rela mati untuk membela hanya sehelai kain itu. Tetapi kini aku baru sadar betapa kain-kain itu begitu agung dan mampu memberikan perasaan bersatu dalam perbedaan. Maka kupotong bajuku, kubentuk segitiga dan kupancangkan tinggi-tinggi di atas tiang. Aku geli sendiri karena kain itu tidak seperti bendera negeriku, bahkan tidak mirip bendera sama sekali.

Illama yang baru itu masih berusia lima belas tahun, tetapi dia akan segera dinobatkan menjadi pemimpin para Illama karena pengangkatannya bersamaan dengan munculnya matahari bulat besar di antara dua puncak gunung tinggi di negeri salju abadi itu. Begitulah tradisi di sana, siapa saja yang diangkat pada saat yang bersamaan dengan munculnya matahari bulat besar maka ia akan menjadi Illama yang tertinggi. Sementara bayi-bayi yang lahir pada saat yang bersamaan maka mereka akan diberi gelar Boa, orang-orang suci. Shresta misalnya, ia adalah satu-satunya Boa perempuan di negeri salju abadi. Karena itu ia diberi hak untuk menernakkan hewan-hewan peliharaan. Ia tidak mempekerjakan orang tetapi mengambil suami untuk kemudian bekerja bersamanya. Menurut kabar beberapa hari yang akan datang ia akan menikah lagi dengan suami keempatnya yang bertugas untuk berdagang ke luar negeri salju abadi. Laki-laki itu adalah seorang calon Illama yang gagal menjadi Illama karena dipergoki sedang mengintip Shresta yang sedang mandi. Mungkin Shresta menganggap pemuda itu suka padanya jadi ia melamar pemuda itu untuk menjadi suaminya. Entahlah, aku tidak tahu secara pasti. Aku hanya seorang pengelana yang berkelana tanpa tujuan sambil berharap menemukan kekasihku yang lari mengejar senja. Dan aku tengah berada di negeri salju abadi untuk menikmati munculnya matahari sekali setahun yang kata berita sangat menakjubkan.

Di negeriku, matahari yang muncul di musim panas seringkali dikutuk karena teriknya sangat menyengat. Bahkan mematikan sayuran dan membuat tanah terbelah. Mengeringkan danau dan menyurutkan lautan. Matahari selalu muncul setiap hari dengan panasnya. Seperti tak kenal ampun ia tanpa permisi mengeringkan rumputan makanan ternak. Matahari sering dihindari oleh masyarakat negeriku, Nyong. Mereka berlomba membawa payung ke mana-mana. Membeli produk-produk pemutih kulit. Pokoknya matahari sering tidak disukai ketimbang ditunggu kedatangannya.

Matahari bulat besar yang akan muncul di antara dua puncak gunung tertinggi di negeri salju abadi itu adalah pertanda bahwa penguasa siang akan datang untuk memberi terang dan hangat di negeri salju abadi. Pemunculan matahari itu juga pertanda bahwa musim akan berubah. Hewan-hewan ternak akan kawin dan tentu penduduk negeri salju abadi akan disibukkan dengan tambahan ternak. Bayangkan saat ini saja, jumlah ternak di negeri salju abadi dua kali lebih banyak dari jumlah orangnya. Ternak-ternak itu kemudian akan kawin dan tiap ternak betina akan melahirkan dua anak. Entah berapa lagi jumlah mereka. Meskipun setiap hari ada yang disembelih untuk dijual dagingnya, tetap saja jumlah ternak di negeri salju abadi tak terganggu. Mungkin ini berkah buat mereka. Aku sendiri bukan penikmat daging. Aku hanya mencicipi beberapa macam masakan daging sejak datang ke negeri salju itu. Masakannya juga tidak terlalu berbeda, ada yang seperti sop, sate, rendang atau dendeng. Tetap saja aku bukan orang yang suka makan daging. Aku lebih suka makan bubur gandum dan minum susu.

Saat yang dinantikan tiba, upacara pengangkatan Illama yang bersamaan dengan munculnya matahari bulat besar di antara dua puncak gunung yang terletak di sebelah timur negeri salju abadi. Negeri dengan salju yang tidak pernah mencair, sebuah negeri yang bahkan tidak ada dalam peta bumi ini. Dan hanya di negeri salju abadi itulah matahari paling besar terlihat, karena menurut kepercayaan penduduk setempat, negeri salju abadi adalah pusat bumi ini. Jadi wajar jika matahari memulai perjalanannya dari negeri mereka. Udara dingin, oksigen yang tipis karena ketinggian menemani para penduduk yang telah bersujud, sebenarnya bukan bersujud tetapi menelungkupkan badan mereka ke arah timur. Deretan paling depan adalah para Illama kemudian di belakangnya para Boa, pemimpin-pemimpin desa dan baru masyarakat kebanyakan. Kami, para pelancong diberi tempat khusus untuk menikmati matahari yang akan muncul. Sebuah dataran yang lebih tinggi dengan tempat duduk dari batu yang disusun rapi. Di situlah kami duduk dan dijamu dengan bermacam makanan dan minuman tanpa harus membayar sedikitpun. Aku baru sadar betapa mereka sangat menghargai orang yang jauh-jauh mau datang dengan mendaki lereng-lereng terjal selama seminggu untuk sampai di negeri mereka yang tidak ada dalam peta bumi.

Dari kejauhan mulai terdengar gaung suara orang-orang yang berdoa. Semakin lama semakin banyak dan semakin keras. Lalu terdengar suara gong-gong dipukul. Sejenak kemudian semua suara hilang lalu pelan-pelan cahaya keperakan yang lembut mulai muncul dari langit timur. Semua menunggu. Kudengar momen itu tidak boleh direkam sama sekali. Menurut penduduk negeri salju abadi, apa yang terjadi di negeri salju abadi biarlah terjadi di sana dan jangan dibawa keluar. Jadi tak ada yang diperbolehkan mereka, jika ada yang melanggar aturan tersebut, konon kabarnya orang itu akan mati tergelincir di lereng-lereng terjal dalam perjalanan pulang mereka. Dan itu pernah beberapa kali terjadi. Cahaya keperakan itu makin jelas. Tak lama kemudian jatuh di atas salju putih yang terhampar. Indah sekali pemdangan saat itu. Aku menunggu matahari di antara dua puncak gunung itu. Betapa kagetnya aku dan para pelancong yang baru pertama datang ke negeri salju abadi itu. Matahari yang muncul bukan berada di antara dua puncak gunung tetapi di belakang dua gunung itu. Nyong, kamu akan terkejut sekaligus takjub bila melihat sendiri. Matahari yang hanya muncul sekali setahun dan hanya di negeri salju abadi itu lebih besar dari dua gunung tinggi yang berdiri kokoh di sebelah timur negeri matahari salju abadi. Aku ternganga, terpesona sekaligus takjub luar biasa. Aku hampir tak bisa bernapas melihat pemandangan yang luar biasa itu. Anehnya lagi, cahaya yang menerpa salju dan kami tidak terasa panas sama sekali, tetapi cuma hangat. Mungkin itu juga sebabnya salju di negeri itu tidak pernah mencair. Setelah matahari benar-benar muncul secara utuh dengan bentuknya yang bulat berwarna merah kekuningan dan besarnya lebih dari dua gunung, dari tengah-tengahnya muncul bayangan-bayangan hitam berkelebatan ke sana kemari. Bayangan-bayangan itu turun dan menghampiri para lama yang kini telah duduk menghadap ke timur di depan kuil Mo yang menjadi pusat ibadah di negeri salju abadi.

“ Apakah mereka itu para dewa orang-orang negeri salju abadi?” tanyaku pada seorang pelancong yang sedari awal banyak bercerita padaku yang katanya ia datang untuk momen itu sejak sepuluh tahun yang lalu.

“ Bukan. Mereka adalah penguasa matahari.” Jawabnya sambil terus memandang matahari dengan tatapan mata kagum yang tak habis-habis.

Itukah penguasa matahari itu? Ternyata mereka seperti diriku juga, batinku. Mereka semuanya berambut panjang sebahu dengan ikat kepala merah dan kain kuning yang terikat di lengan kiri mereka. Penguasa matahari yang mungkin akan dicaci atau bahkan diserang bila muncul di negeriku. Pantaslah kiranya mereka hanya muncul di negeri salju abadi itu karena mereka menemukan kehangatan dan keramahan penduduk atas kehadiran mereka. Mungkin satu-satunya tempat di mana mereka bisa diterima dengan suka cita hanya di negeri salju abadi. Negeri dengan salju yang abadi.

MASYARAKAT YANG TERLUPAKAN

Negeri salju abadi telah tidak kelihatan lagi, hanya deretan gunung dengan selimut salju yang terlihat putih berkilat dari kejauhan. Keindahan, rasa takjub dan keramahan penduduk negeri salju abadi seperti langsung hilang ketika aku menginjak tanah lagi. Sebuah ledakan hebat, rentetan senjata mesin, empat ekor kambing yang hangus dan sebuah jembatan yang ambruk menyambut perjalananku sampai di perbatasan negeri dengan masyarakat yang terlupakan. Sebuah negeri yang selalu bergejolak. Perang ada di mana-mana. Pembantaian terjadi setiap hari. Tidak hanya karena alasan politik, tetapi juga agama, ras dan kadang hanya salah paham di antara mereka yang satu agama dan satu ras juga bisa menimbulkan pertumpahan darah. Sudah bertahun-tahun semua itu terjadi. Penguasa tidak bisa menghentikannya, malah terkesan memelihara konflik yang terjadi. Masyarakat yang terlupakan, akhirnya begitulah kami menyebut diri kami di negeri kami. Begitu kata seorang laki-laki muda yang berrsedia menemaniku melintasi negeri itu. Ia dikenal dengan nama Sothe. Pengikutnya banyak dan kelompok mereka dikenal sangat pemberani, tidak hanya kepada tentara yang membacking penguasa, tetapi juga ditakuti oleh kelompok-kelompok jalanan yang lain.

Mereka menyebut diri mereka orang-orang yang terlupakan yang tidak tercatat dalam buku harian para pemimpin negeri mereka, yang tidak pernah masuk ke dalam agenda kerja mereka, yang tidak pernah terlintas dalam benak mereka untuk mereka temui. Merekalah masyarakat yang terlupakan itu. Padahal sesungguhnyalah menurut peraturan kelaziman sebuah negeri mereka yang harus bertanggung jawab atas kehidupan rakyat. Rakyatlah yang harus mereka perhatikan. Karena semua kenyataan itu maka rakyat menjadi kecewa dengan cara para pemimpin negeri mereka memimpin. Dan hal itu cukup untuk jadikan alasan untuk turun ke jalan.

Ya, kami berkumpul dan memenuhi jalanan, kata Sothe. Kami kibarkan bendera tinggi-tinggi, kami membakar ban-ban di tengah jalan, kami penuhi ruang-ruang publik dengan massa. Hanya inilah yang bisa kami lakukan agar kami diperhatikan. Agar apa yang menjadi hak kami dipenuhi. Tetapi entah kenapa setiap kami turun ke jalan, setiap kami berkumpul di ruang-ruang publik selalu ditanggapi dengan kehadiran para serdadu bersenjata yang dengan segera membubarkan kami dengan paksa. Mereka tak segan memukul, menendang, menembakkan gas air mata dan peluru karet. Banyak sudah dari kami, keluarga kami, saudara, bahkan ibu dan ayah kami jadi korban mereka. Sejak dilahirkan kami tidak memiliki keinginan untuk membasahi tangan kami dengan darah, kami tidak bercita-cita untuk menjadi pelempar batu yang handal, tidak juga menjadi pengokang senjata yang kemudian memuntahkan tidak hanya puluhan tetapi ratusan peluru. Tapi yang terjadi adalah keadaan memaksa kami untuk menjadi pelempar batu di jalanan. Menjadi penembak jitu. Dan kami melemparkan batu-batu ke arah serdadu di depan kami yang membubarkan kami saat kami berkumpul. Kami mengorganisir diri, mengangkat senjata dan mulai baku tembak dengan para serdadu.

Memang dalam perjalananku melintasi negeri yang penuh kerusuhan itu. Udara penuh dengan pekik kemarahan, bercampur dengan rintih kesakitan serta jerit ketakutan. Burung-burung menangis, ibu-ibu menjerit mencari anak dan suami mereka. Dan aku, aku seperti berjalan dalam sebuah serial kolosal sebuah film. Akulah kameramennya. Orang-orang bergelimpangan. Orang-orang kalang-kabut menyelematkan diri. Dan aku telah merekam semua itu. Ya, aku telah merekam semua kejadian itu dengan ingatanku. Bila aku seorang pembuat film documenter, entah berapa dokumenter bisa aku buat, mungkin akan aku putar dan kirimkan ke beberapa kawan yang dengan segera berkeliling memutar dokumenterku. Tetapi aku hanyalah seorang pengelana yang berjalan melintas negeri yang tidak ada hubungan apa-apa denganku. Aku hanya ingin berjalan dan berjalan tanpa tujuan. Di negeri itu aku benar-benar menemukan perbedaan menyaksikan matahari bulan besar yang dikagumi oleh orang-orang yang rela datang ke negeri salju abadi dengan menyaksikan demikian banyak pembantaian.

Terakhir kali aku berada di tengah-tengah massa yang mencoba bertahan ketika didesak oleh terjangan peluru karet dan gas air mata serdadu adalah ketika massa yang sebagian ibu-ibu menuntut keadilan atas hilangnya keluarga mereka setelah demonstrasi besar-besaran menuntut pencabutan undang-undang anti senja di negeriku. Saat itu aku sedang mencari kekasihku yang ikut berdemonstrasi. Kami semua ditangkap. Bendera-bendera, spanduk, karton-karton yang penuh tulisan cercaan disita, kaset-kaset rekaman kamera televisi yang sedang merekam kejadian dihancurkan. Kamera foto dirampas. Aku bersama dengan mereka yang tertangkap dimasukkan ke dalam truk serdadu. Kami diangkut ke kantor mereka. Dan aku menginap dalam sel dengan para lelaki yang terluka. Tak ada pengobatan bagi yang terluka, bahkan makanpun kami tidak diberi. Yang ada ketika pagi tiba kami disemprot dengan air yang entah dicampur dengan apa, tetapi membuat mata kami perih dan kulit kami gatal-gatal dan seperti terbakar. Di sel itulah aku kenal dengan Litko. Dia terluka di pelipisnya terkena pukulan pentungan karet serdadu. Aku merawatnya. Setelah sehari semalam ditahan, sebagian besar dari kami dilepaskan kecuali mereka yang dianggap sebagai penggerak unjuk rasa. Aku mengantar Litko ke toko buku miliknya yang juga dijadikan tempat tinggal. Di toko itu dulu Litko menjual segala macam cetakan tentang senja. Buku-buku, transkrip, foto, scenario tentang senja. Banyak sekali orang yang datang mencari benda-benda itu di toko Litko.

Sampai di sana, Litko memintaku untuk tinggal sementara, sebab serdadu akan menangkapi kami lagi jika kami terlihat di jalanan. Aku setuju. Aku juga meminta litko untuk mengijinkan aku membantunya sementara di toko buku. Litko memperbolehkan aku bekerja di sana sampai aku menemukan kekasihku. Selama di toko bukunya, aku membaca banyak buku tentang perlawanan di negara-negara lain dan sejarah perkembangan gerakan pembebasan yang selama ini hanya disimpan di gudang bawah tanahnya. Di ruangan itu aku tidur karena tidak ada ruang lagi bagiku di tokonya yang penuh sekali. Aku senang bisa menambah pengetahuanku. Bersama dengan perjalanan waktu aku semakin tahu bahwa ternyata serdadu dimanapun di muka bumi ini sama saja. Mereka selalu menindas dan menembaki rakyat yang tidak punya senjata. Kebencianku semakin memuncak. Litko melihat perubahan pada diriku. Tanpa disadarinya dia bercerita tentang para gerilya yang sering diberinya keterangan tentang perkembangan kota. Tetapi sayangnya aku hanya ingin membaca untuk menambah pengetahuan. Bukan untuk bergabung dengan para gerilya. Memang aku memiliki kebencian tetapi aku lebih suka pergi jika membenci sesuatu dan bukan melawan apa yang kubenci atau kebencian itu sendiri. Aku tidak ingin melawan kekerasan dengan kekerasan.

Di negeri yang baru saja aku injak ini, ternyata keadaan lebih parah dari negeriku. Pertempuran bersenjata, penangkapan, bom, demonstrasi yang diikuti dengan kerusuhan seringkali terjadi.

” Apakah perjuangan harus selalu dilakukan dengan mengangkat senjata? Tanyaku pada Sothe di suatu sore saat kami sedang beristirahat di tempat makan.

“ Kami sudah tidak mengenal bahasa selain kekerasan.” Jawabnya dengan bangga.

Selama di negeriku, aku tidak pernah mendengar atau melihat berita tentang negeri yang masyarakatnya terlupakan ini. Kalaupun aku mellihat berita dunia, aku lebih suka melihat berita olahraga terutama sepakbola sambil berharap semoga aku bisa menyaksikan engkau bertanding di layar kecil televisiku, Nyong.

Setelah hampir sebulan berjalan dengan menghindari tempat-tempat yang berbahaya, Sothe mengajakku mampir ke rumah seorang teman lamanya. Pada suatu malam kami datang ke sebuah restoran yang memiliki ruang besar di bagian belakangnya. Di sana telah ada banyak orang yang dari penampilannya cukup menakutkan, sorot mata mereka seperti tidak pernah percaya pada siapapun. Tetapi mereka semua hormat pada Sothe, dan aku datang bersamanya, jadi sikap mereka terhadapku juga cukup hormat. Mungkin teman Sothe adalah teman mereka juga. Di pintu belakang restoran itu, Sothe mengucapkan beberapa kata sandi yang tidak kumengerti. Ada dua orang bersenjata yang menjaga pintu besar itu. Ternyata untuk sampai ke ruangan besar di belakang restoran itu harus melewati beberapa pintu dengan beberapa penjaga bersenjata dan beberapa kali pula Sothe harus mengucapkan kata-kata sandi. Meskipun Sothe seorang yang sangat dihormati tetapi tetap saja ia harus memberikan kata sandi yang menurutnya berubah setiap waktu. Setelah mengucapkan kata sandi di pintu terakhir, mereka membiarkan kami menuju ke ruang pertemuan di dalam tanpa pengawalan.

Ruangan besar itu telah berisi beberapa orang muda yang tidak aku kenal sama sekali. Dilihat dari usianya, mereka seperti masih mahasiswa, beberapa lebih tua. Satu persatu mereka memperkenalkan diri mereka dengan nama samaran, begitu kata Sothe. Tak ada yang memakai nama asli. Sothe juga. Kami semua duduk di atas lantai beralaskan tikar pandan buatan tangan yang agak kasar, bersama yang lain. Aku coba mengikuti apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Bori sahabat karib Sothe ternyata pemimpin orang-orang ini. Dia yang lebih banyak bicara. Pertemuan malam itu merupakan perekrutan terhadap anggota baru. Aku merasa seperti orang asing dalam kumpulan mereka. Ternyata aku memang orang asing yang baru datang ke negeri itu. Mungkin mereka tidak tahu, dalam pikiran mereka bisa saja aku ini adalah sahabat Sothe yang selalu bersamanya kemanapun ia pergi. Atau mungkin mereka berpikir aku pengawalnya yang paing setia. Dari pembicaraan dan perkenalan mereka, aku tahu bahwa Sothe begitu dihargai oleh opera anggota gerakan bawah tanah karena ia adalah satu-satunya orang yang pernah belajar bagaimana membuat peledak.

Malam itu aku mendengar kisah seorang pemuda yang masih bau kencur, ia masih bingung dengan retorika yang diusung oleh kelompok Bori itu, tetapi dia dengan sadar mengakui bahwa keputusannya untuk bergabung dan memanggul senjata adalah secara insting memang seharusnya dia mengangkat senjata melawan serdadu ketika mereka telah berbuat sewenang-wenang terhadap penduduk yang tidak memegang senjata. Karena menurut dia, senjata hanya bisa dilawan dengan senjata. Cara terbaik untuk mengelak dari senjata adalah dengan mengangkat senjata lebih cepat dari musuh. Di lingkungan tempatnya bergaul ide-idenya tidak pernah diterima oleh teman-temannya, dia memutuskan untuk masuk menjadi anggota gerilya dan meninggalkan lingkungan dan keluarganya. Itulah yang aku dengar pertama kali dalam pertemuan itu. Selanjutnya berturut-turut semuanya bercerita tentang alasan mereka masuk menjadi anggota gerilya. Tak ada interupsi ketika ada yang bercerita, tak ada kecurigaan apa-apa. Seolah mereka begitu terbuka untuk keanggotaan yang baru. Wajah orang-orang itu begitu bersemangat. Ada semacam kalimat yang tak terucapkan oleh Bori pada para anggota yang baru, sebuah kalimat yang aku terjemahkan sebagai ucapan selamat datang, saudaraku, mari kita berjuang bersama. Atau mungkin lebih dari itu.

Kontak dengan para gerilya itu telah membawaku kembali pada buku-buku yang kubaca di gudang Litko saat aku menginap di tempatnya beberapa saat sambil mencari kekasihku yang pergi berdemonstrasi yang kemudian aku temukan baru keluar dari penjara bersama dengan para ibu yang ditangkap di jalanan. Memang Cuma sebentar aku berada di tempat Litko tetapi buku-bukunya begitu melekat dalam otakku. Meski begitu aku masih tidak tertarik dengan apa yang dikerjakan Litko dengan teman-temannya yang menyebut diri mereka sebagai senjais. Mereka membuat tulisan-tulisan, menyebarkan selebaran, mengorganisir perlawanan terhadap pemberlakuan undang-undang anti senja. Dan bahkan lebih dari itu mereka telah mengibarkan bendera negeri senja yang mereka proklamirkan. Aku bisa menarik sebuah garis kesamaan pemikiran Litko dan teman-temannya dengan Sothe, Bori dan lainnya di negeri yang penuh gejolak ini. Aku menemukan sebuah keajaiban dalam pola pikir para anak muda tersebut bahwa ketidakadilan bukanlah bagian dari sifat alamiah manusia, tetapi lebih merupakan sebuah aberasi pikiran. Pendirian mereka telah menjelaskan kepadaku pandangan yang membedakan antara hidup manusia dengan kelahirannya. Tetapi Nyong, aku tetap tidak memutuskan untuk bersama mereka, menghidupkan perjuangan, sampai kemudian, melayani perjuangan itu sendiri. Perjuangan untuk hidup yang lebih baik agar kelahiran menjadi tidak sia-sia. Karena aku hanya ingin berkelana tanpa tujuan sambil berharap akan bertemu dengan kekasihku yang pergi karena telah jatuh cinta pada senja.

Soothe memperkenalkan aku dengan kehidupan gerilya, ini menjadi sebuah tantangan atas perang terhadap ketakutanku; seperti sebuah pertempuran melawan ruang gelap hanya bersenjatakan pendengaran, ini sangat berbeda dengan melawan serdadu bersenjata dengan mengangkat senjata. Telah lama aku hidup dalam kerasnya kehidupan pengelanaan, dan aku yakin aku telah kehilangan rasa takutku. Aku tidak pernah menyerah ataupun angkat tangan melawan para penjahat jalanan yang sering aku temui, atau meminta ampun ketika polisi memukuliku di halaman penjara. Kekerasan telah menjadi hal yang rutin bagiku, tetapi aku tidak pernah membayangkan bagaimana bisa aku harus terlibat dengan para gerilya sesungguhnya. Bukan di negeriku sendiri tetapi di negeri orang dalam perjalanan berkelanaku.

Sothe membawaku melewati tempat-tempat yang penuh gejolak. Ia juga mengajakku sat dirinya mengajari para anggota baru untuk menjalankan misi gerakan di kota, membuat graffiti di tembok-tembok, mencetak selebaran, memasang poster-poster, mencuri barang-barang miliki serdadu di pos-pos jaga. Ada semacam ketegangan yang mengasyikkan, yang memompa jantung berdetak lebih cepat. Anehnya aku mau saja ketika Sothe mengajariku membuat bom kecil yang bahkan bisa menghancurkan sebuah mobil. Ia mengajari bagaimana menyabotase listrik agar padam, menaikkan moral kawan yang jatuh serta teknik menginterogasi. Semua itu kujalani sambil melakukan perjalanan melewati negeri yang masyarakatnya terlupakan tersebut.

Hampir semua surat kabar memberitakan aksi-aksi yang mereka sebut kriminal itu, tetapi secepat itu pula kelompok gerilya melakukan serangan balik lewat media tentang aksi-aksiku dengan kelompok kecil buatanku itu yang dianggap sebagai tindak kriminal tersebut hanyalah rumor belaka. Lewat percetakan-percetakan kecil atau radio milik gerilya, mereka melakukan kampanye melawan kampanye media massa. Dan semua revolusioner muda itu menggunakan segala kemungkinan untuk memobilisasi massa agar berani turun ke jalan, meski mereka seringkali menemui kebuntuan dan ketidaberpihakan rakyat karena rasa takut.

Dari kota ke kota, Sothe mengantarku sambil membuat konsolidasi. Menguatkan barisan perlawanan. Lalu kami sampai juga di gunung. Tempat para gerilya hidup, disanalah orang-orang terbaik mereka berada, tempat senjata-senjata mereka disimpan, tempat tumbuhnya akar revolusi. Gema teriakan hancurkan ketidakadilan bergaung, matilah penguasa yang lalim. Kenyataan di gunung sedikit membuatku bingung, para gerilya memiliki lebih banyak kata ketimbang senjata. Aku hanya menjadi pendengar, tetapi secara tidak sadar aku juga merasakan gemuruh itu ada dalam dadaku.

Hal pertama yang kupelajari tentang kehidupan di gunung adalah bukan menyerang lalu hilang setelah menang seperti layaknya perang-perang para gerilyawan, tetapi lebih bagaimana aku berani untuk berkorban. Pengorbanan yang pertama adalah bagaimana menerima rasa sakit. Sothe melibatkan aku dalam kelompok-kelompok yang berjalan bersamanya. Berjalan terus dengan tas yang berisi puluhan kilo bekal, mulai dari pakaian, bekal makan, tenda, dan lainnya. Aku bahkan diberi tugas untuk membawa obat-obatan. Kami tidak boleh istirahat di sembarang tempat, harus terus bergerak, berjalan, mendaki, naik, turun, tanpa berbicara. Kadang perbekalan makanan menipis atau tanpa makanan yang pasti, tanpa air, sampai seluruh otot di tubuhku terasa menonjol, hingga telapak tanganku berair dan mengeras, dan kaki berdarah lalu kering lagi tanpa sempat melepas sepatu.

Dan sunyi. Dalam hamparan hijau hutan, aku belajar memahami arti sunyi, belajar bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, seperti hembusan angina. Meski tidak terlibat emosi secara langsung, bagiku musuh rasanya sangat dekat. Dan musuh yang paling dekat adalah penderitaan. Rasa sakit yang luar biasa, kelaparan. Tetapi rasa lapar harus dilawan. Hujan, nyamuk, lintah, semua datang silih berganti. Pada awalnya aku selalu merasa tersesat, aku tidak bisa melihat kemana akan pergi atau tidak tahu mendaki apa karena jalanan adalah rumput tinggi, semak-semak, bebatuan, terkadang pohon-pohon tinggi dan besar yang menghalangi sinar matahari. Tetapi pelan-pelan mataku mulai bisa menyesuaikan diri bahkan semakin tajam seperti mata harimau gunung dan mulai tahu di mana aku berada. Aku mulai jarang tersenyum, wajahku mengeras, kulitku menjadi hitam dan kotor, ekspresiku menjadi dingin. Kesunyian berubah menjadi sesuatu yang lebih menakutkan dibandingkan rasa lapar. Pelan tapi pasti aku kehilangan sentuhan fisik dari siapapun, jangankan perempuan dengan merekapun aku tidak pernah terlibat kontak fisik. Kami tidak pernah bersentuhan, dengan kawan, juga dengan masa lalu, dengan rasa takut dan bahkan harapan. Aku mulai lupa dengan perjalananku yang tanpa tujuan, aku lupa kekasihku yang jatuh cinta pada senja.

Aku menjadi satu dari sekian ratus hewan yang menghuni gunung. Tidak ada yang lain selain insting, refleks, getaran, kediaman, tulang, otot, kulit, rambut panjang, jenggot dan kumis, perut yang mengeras. Aku selalu terjaga bahkan dalam keadaan tertidur sekalipun. Aku benar-benar telah berubah, perubahan yang bahkan tidak aku mengerti sama sekali. Aku menjadi begitu jatuh cinta dengan para gerilya, Ingin kuberikan seluruh hidupku untuk mereka. Dan tak ada yang lain selain mereka serta cita-cita mereka.

Persahabatan bagi para gerilyawan seringkali adalah sebuah kebetulan. Mereka kebetulan memiliki jalan pikiran yang sama dalam hal berjuang dan memperjuangkan sesuatu. Jika Gom, seorang anggota baru, dan Miro, salah satu anak buah Sothe, berteman. Hal ini disebabkan mereka memiliki tujuan yang sama dalam perjuangan mereka. Dan displin adalah segalanya, setiap orang harus bisa menjaga emosi dan perbuatannya sendiri. Tentu dalam kesepian hutan tak banyak yang bisa dilakukan, namun dalam kesepian semacam itu siapa yang bisa mengatasi gejolak dalam diri masing-masing. Dialog dalam diri yang bukan monolog sungguh menjadi beban yang sangat berat. Kebanyakan waktu kami adalah sebuah kesunyian. Kami hanya diam. Bahkan ketika kami berjalan untuk patroli, kami hanya menggunakan bahasa isyarat. Bahkan waktu-waktu istirahat kamipun, tidak ada percakapan sama sekali.

Begitulah kehidupan kami selama di gunung. Entah apa sebabnya ada semacam kecintaan yang mulai tumbuh dalam diriku, justru pada saat aku harus pergi dari negeri itu. Saat harus mengatakan salam perpisahan pada Sothe yang telah memberi begitu banyak warna dalam perjalananku.

“ Kalian salah menyebut diri kalian.” Kataku sambil mencoba menghalau kepedihan yang tiba-tiba muncul dalam hatiku. Sothe hanya tertawa, lalu memberikan sebuah kain.

“ Untuk menyeka airmatamu.” Katanya.

Aku tidak sadar telah menangis saat harus pergi. Apakah aku telah benar-benar mencintai mereka? Perjuangan mereka? Aku tidak tahu. Tetapi aku merasa sedih harus berpisah dengan Sothe dan kawan-kawan di gunung. Dari kejauhan kulihat mereka melambaikan tangan. Lambaian tangan yang tanpa kata-kata ternyata lebih pedih rasanya. Kepedihan yang tentu berbeda dengan kepedihan ditinggalkan kekasihku. Tetapi tetap saja kepedihan itu terasa seperti menyayat hati. Ngilu dan perih. Apapun yang menyebabkan kepedihan itu muncul. Sothe memberiku sebuah pisau pendek miliknya yang telah menemaninya bertahun-tahun, pisau yang telah menewaskan banyak serdadu, pisau yang juga membantunya membuat bom atau menjinakkan bom. Pisau itulah yang sampai kini terus berada di pinggangku. Pisau yang entah kenapa menambah kepercayaan diriku semakin tinggi.

Masih pagi benar ketika aku keluar dari negeri penuh gejolak yang masyarakatnya menyebut diri mereka masyarakat yang terlupakan. Yang kemudian pergi ke gunung, menjadi gerilya dan melakukan perlawanan dengan pengorbanan yang begitu besar.

“ Aku tidak akan pernah melupakan kalian. Kalian akan terus berada dalam ingatanku, dalam hatiku.” Entah kenapa aku menjadi terbata-bata saat mengucapkan kalimat terakhir itu pada Sothe. Sothe, seperti biasanya, selalu tersenyum. Dibalik tampangnya yang garang, ia adalah lelaki lembut yang pernah kutemui. Ia terlihat tidak sedih. Aku sadar, ia telah belajar dan akhirnya akrab dengan kesedihan yang menjadi bagian hidupnya, juga hidup rakyat di negerinya. Kuambil sebuah buku dari tas ranselku. Sebuah buku karangan tukang cerita yang telah pergi karena menjadi buronan, yang kecewa dengan penguasa di negeriku dan yang telah memotong senja hingga langit barat bolong tiap hari sebelum malam tiba. Sebuah buku tentang senja.

“ Aku pernah mendengar kisahnya.” Kata Sothe sambil berbalik lalu hilang di balik rimbunan hutan.

Aku diam sejenak. Apakah tukang cerita itu pernah datang ke negeri Sothe.

SEBUAH BUKU TENTANG SENJA

Sothe adalah orang pertama yang kuberi sesuatu sebagai tanda perpisahan. Belum pernah aku memberikan sesuatu kepada orang lain saat aku berpisah dengan mereka. Mungkin juga karena aku merasa belum pernah berpamitan pada seorangpun saat pergi dari suatu tempat. Jika bisa disebut hadiah, itu juga hadiah pertama yang kuberikan pada orang lain. Bahkan kepada kekasihku yang telah bersamaku selama bertahun-tahun aku belum pernah memberi apapun. Saat ia ulangtahun, saat ia dipromosikan di kantornya, saat ia lulus kuliah dengan nilai terbaik. Tak ada hadiah apapun, hanya ucapan selamat. Sisanya aku akan kembali asyik dengan pekerjaanku. Entah apa yang menyebabkan aku memberikan buku itu pada Sothe. Buku itu sendiri adalah buku yang kuminta dari Litko. Kupikir waktu itu ia punya banyak buku yang sama yang belum terjual dan hanya tersimpan dalam ruang bawah tanahnya. Litko sendiri tidak keberatan, bahkan ia menyuruhku mengambil buku apa saja yang kusuka. Saat itu aku hanya mengambil dua buku, buku tentang senja itu dan sebuah buku tentang pengkhianatan yang sering terjadi pada waktu malam berjalan dengan kepekatannya.

Kupikir aku juga perlu tahu tentang senja yang begitu dipuja di negeriku. Buku itu sendiri lebih dari cukup mengungkapkan senja, karena dikarang sendiri oleh si tukang cerita itu. Hanya dicetak sekali dan langsung habis di pasaran. Mungkin Litko menyimpan banyak buku itu untuk dijadikan pegangan bagi para senjais yang sering berkumpul di tempatnya yang kini telah memproklamasikan negeri senja yang tentu dianggap sebagai cikap bakal perpecahan di negeriku oleh penguasa. Para pengikutnya diburu juga seperti mereka memburu tukang cerita itu. Mereka dituduh hendak maker dan menggulingkan pemerintahan yang sah. Aku geli sendiri, bagaimana mungkin Litko dan kelompoknya yang hanya memiliki kata-kata bisa menjungkalkan sebuah negeri yang ditopang oleh kekuatan militer begitu dahsyat dan kejam. Aku sendiri melihat bagaimana kekuatan bersenjata yang dipimpin Sothe dan Bori saja tidak pernah bisa berbuat banyak selain mempraktekkan taktik gerilya. Itupun masih dipenuhi dengan para pengkhianat yang tidak saja sering menggagalkan operasi mereka tetapi membuat banyak anggota gerilya tertangkap dan dihukum mati.

Buku tentang senja itu ditulis si tukang cerita ketika ia sudah dilarang memberi ceramah atau membacakan cerita dan puisinya tentang senja di negeriku. Tetapi karena sudah berada di pihak penerbit dan telah dicetak maka buku tersebut tetap diedarkan. Bukankah buku-buku yang dilarang akan semakin laku di pasaran meskipun penjualannya tidak dilakukan dengan terang-terangan? Selain dijual dari tangan ke tangan, beberapa toko buku yang tidak lazim, maksudku toko-toko yang berada di luar industri besar pertokobukuan, seperti toko buku Litko juga menjual buku tersebut. Tentu saja tidak semua orang bisa dengan mudah membeli buku tersebut. Jadilah buku terakhir tentang senja karangan tukang cerita berambut gondrong dengan kumis dan jenggot panjang itu laku di pasaran. Saat tinggal beberapa saat di toko buku Litko itu aku telah berkali-kali membaca buku karangan tukang cerita yang paling laku itu. Entah kenapa sampai sekarang aku masih belum mengerti dan belum bisa menangkap tentang isi bukunya apalagi sampai begitu tergila-gila pada senja seperti orang-orang di negeriku. Bagiku senja sama saja dengan waktu lainnya, yang membedakan tentu hanyalah soal cahaya dan kepentingan orang-orang yang menjalaninya. Cahaya senja memang berwarna ungu kemerahan tetapi apa indahnya cahaya seperti itu. Toh cahaya jika dipendarkan maka akan ada banyak warna dan ungu serta merah adalah salah satunya unsurnya. Cahaya senja ataupun senja itu sendiri buatku tak terlalu bisa membangun suasana romantis atau apa saja yang bisa dihubungkan dengan cinta. Senja yang demikian hanyalah karangan orang agar orang-orang lainnya terpengaruh dan menyetujui apa yang menjadi pendapatnya. Dalam persoalan ini aku juga berpendapat seperti itu tentang buku senja karangan tukang cerita itu. Senja, seperti kataku tadi, menjadi beda karena kepentingan orang-orang yang menjalaninya. Sebagai contoh misalnya waktu senja memang waktu orang-orang kantoran pulang, atau ayam kembali ke kandang, atau saat di mana ribuan kelelawar keluar dari sarang-sarang mereka. Justru kemacetan yang ada di jalanan saat senja tiba. Langit barat juga tidak terlihat apa-apa karena telah tersamarkan oleh asap kendaraan yang jumlahnya ribuan. Lalu di manakah keindahan senja itu terletak?

Menurut buku itu, senja terlihat indah jika dipandang dari pantai atau tempat-tempat tertentu di mana langit barat bisa dipandang tanpa halangan. yang dinikmati tentu warna langit barat yang ungu kemerahan agak jingga atau apalah namanya aku sendiri tidak tahu jenis warna campuran seperti itu. Apalagi jika ada awan sedikit yang menghalangi cahaya senja, maka larik-larik cahaya senja akan terlihat jelas dari langit, menembus celah-celah mega lalu jatuh di atas lautan yang maha luas membuat permukaan laut menjadi indah. Atau cahaya-cahaya itu menyelip di antara daunan dan pohonan lalu jatuh di atas tanah basah sehabis hujan seharian. Bahkan yang membuatku agak geli adalah bagaimana cahaya senja bisa berada di antara gedung-gedung tinggi dan memantul lewat kaca-kacanya. Aku telah lama tinggal di kota dengan gedung-gedung semacam itu tetapi tak ada cahaya senja yang sampai ke sana. Tetapi itu memang mungkin terjadi di suatu tempat entah di mana di bagian bumi ini, tetapi yang kelas tidak mungkin cahaya yang demikian bisa ditemui di kotaku itu. Atau di kota manapun di negeriku yang kini mungkin masih melarang orang membicarakan senja dan masih memberlakukan undang-undang anti senja.

Yang paling menarik buatku adalah bagaimana tukang cerita itu bisa memotong senja di negeriku hingga tak satupun manusia di negeriku bisa menikmatinya lagi. Aku tidak yakin ia bisa memotong hanya pisau daging yang biasa ada di restoran, apalagi dengan pisau roti yang tumpul itu. Bahkan dengan pisau tukang cukur yang bisa memotong rambut-rambut kecil di janggut orang juga tak akan bisa. Entah dengan apa ia memotong senja itu. Dengan apapun ia memotongnya, yang jelas tukang cerita itu telah mengambil senja di negeriku. Senja yang begitu dipuja sekian lama karena kisah-kisah indah, sendu dan menentramkan yang sering didongengkan oleh tukang cerita itu. Senja yang telah membuat geger di negeriku, senja yang kemudian dilarang untuk dinikmati dan akhirnya senja yang hilang diambilnya dengan semena-mena agar tak ada lagi orang bisa menikmati keindahannya.

Tak ada yang tersisa dari senja di negeriku, tentunya selain langit bolong di sebelah barat karena senja telah dipotong. Mungkin masih ada sedikit kenangan tentang senja di sana, mungkin juga tidak. Bagaimana mungkin orang masih bisa menikmati jika senja bahkan telah diharamkan, ketika senja menjadi barang terlarang. Tetapi mungkin masih ada segelintir orang yang masih punya sedikit kenangan tentang senja. Litko dan teman-temannya yang mengaku mereka adalah kaum senjais di negeriku dan telah dengan berani memproklamirkan negeri senja. Aku jadi ingat Litko, apakah dia masih bertahan dengan orang-orangnya, ataukah ia telah ditangkap bersama yang lainnya? Aku tidak tahu, tentu saja tidak tahu, karena kini aku telah berada jauh dari negeriku. Aku telah berada di tengah padang gurun yang kering dan panas yang dipenuhi badai dan perompak yang ganas serta misteri tentang perempuan yang memiliki mata terindah.

Buku yang mengisahkan tentang senja itu memang sengaja aku berikan kepada Sothe sebagai sebuah ungkapan terimakasih telah menemaniku berkelana di negerinya yang penuh dengan gejolak itu. Meski tidak percaya dengan keseluruhan kisah tentang senja yang telah menggegerkan negeriku itu tetapi entah mengapa dalam hati kecil aku berharap Sothe dan negerinya bisa menemukan kedamaian dalam pelukan senja. Ah, mungkin dalam diri setiap orang memang selalu ada dua sisi yang berbeda. Yang berlawanan dan tidak pernah saling akur. Mungkin, siapa yang tahu.

KAUM SENJAIS DI NEGERIKU

Negeriku adalah negeri yang berisi berbagai macam manusia yang entah kenapa sulit sekali dimengerti. Rakyat bukanlah suatu kekuatan yang besar, tetapi sebuah obyek dari kekuatan besar yang bernama pemerintah. Pemerintahan yang berkuasa adalah pemerintahan yang berisi dan dibentuk oleh organisasi militer. Kelompok mereka menguasai semuanya setelah berhasil meredam gejolak yang datang dari arus bawah. Ketika rakyat tidak puas dengan pemerintahan yang ada, mereka bersatu untuk meruntuhkan rejim. Tetapi sayangnya semua terjadi begitu cepat. Tidak ada yang bisa melanjutkan perjuangan itu setelah pemerintahan yang berkuasa jatuh. Bahkan parahnya kaum muda yang menjadi pemimpin pergerakan itu tidak tahu mau diapakan lagi hasil perjuangannya. Jadilah rakyat seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Sampai akhirnya militer mengambil alih kekuasaan yang kosong dan merangkul para pemimpin pemuda tersebut. Bahkan beberapa anggota gerilya yang melakukan perlawanan bersenjata terhadap pemerintahan yang dulu, berhasil mereka rangkul juga. Sampai kini, mungkin pemerintahan yang berkuasa adalah militer dan orang-orangnya.

Sementara itu anggota Dewan Rakyat kami berisi orang-orang yang merasa paling mengerti dengan kepentingan rakyat. Saking mengertinya anyak diantara mereka memilih diam dan tidur pada saat rapat. Mereka bahkan berpendapat, hal tersebut adalah salah satu cara menjaga harmoni dengan semua unsur yang ada. Namanya kearifan, kata mereka. Semakin mereka diam, itu berarti semakin baik. Banyak bicara dan selalu protes dianggap membuat ribut tanpa hasil apapun. Mereka lebih sibuk mengurusi rumah dinas, kenaikan gaji, tunjangan jabatan, dan lainnya yang ada hubungannya dengan posisi mereka sebagai anggota Dewan Rakyat. Jadi bisa dikatakan yang paling sibuk dalam tubuh Dewan Rakyat adalah bagian kerumahtanggaan yang mengurusi segala sesuatu yang ada hubungannya dengan Dewan dan anggota-anggotanya.

Dewan Rakyat negeri ini dipilih dalam sebuah mekanisme pemilihan yang melibatkan rakyat secara keseluruhan. Mereka diharapkan bisa mewakili rakyat dengan memperjuangkan hak rakyat dan menjadikan kehidupan rakyat agar lebih baik. Cuma masalahnya, biasanya calon anggota Dewan Rakyat adalah orang-orang partai yang dicalonkan oleh partai-partainya. Jadi rakyat sudah diberi pilihan agar mereka memilih pilihan yang sudah ada. Sekali lagi, kami, rakyat, adalah orang-orang yang dipaksa memilih. Bukan dengan sukarela memilih pilihannya. Dan begitulah, orang-orang partai yang akhirnya terpilih ini pada akhirnya mengambil jarak dengan rakyat. Padahal mereka juga bagian dari rakyat.

Sebenarnya ada beberapa anggota Dewan Rakyat yang tidak seperti itu. Tetapi mereka tidak ingin membuat keributan sampai-sampai sikap kritis mereka tidak selalu diperlihatkan. Demi menjaga iklim agar tidak dituding macam-macam itu tadi. Mereka takut dijegal di jalan dan dicopot keanggotaannya. Sebagian lagi adalah klompok kompromis yang hanya mencari selamat sendiri. Mereka berpendapat bahwa tidak semua kekecewaan harus diungkapkan dalam sidang-sidang dewan terhormat itu. Bahkan kekecewaan, rasa tidak puas dan lainnya harus disimpan. Sampai ada momentum yang tepat untuk bicara. Sayangnya mereka selalu menunggu momentum, bukan menciptakannya.

Di negeriku, kami semua sadar bagi kalangan pemerintahan, anggota dewan, politisi, pihak keamanan bahkan ilmuwan dan agamawan, kritik masih dianggap sebagai sebuah ancaman. Bersuara asal bersuara dianggap sebagai sesuatu yang tidak mencerminkan kedewasaan. Sementara bersuara secara dewasa tak selalu menggambarkan sikap intelektual. Sebab kearifan inelektual itu lain, bagi mereka tak semua yang diketahui harus dikatakan. Tapi apa yang dikatakan haruslah sesuatu yang diketahui. Disinilah masalahnya, mereka tidak mengetahui apapun tentang persoalan rakyat. Dulu pernah ada beberapa kasus dalam tubuh Dewan rakyat negeri ini, anggotanya dicopot justru oleh partainya sendiri. Kata pimpinan partainya, ia berbeda pendapat dengan partainya. Padahal seharusnya beda pendapat itu sebuah keharusan dan idealnya orang yang menganggap beda pendapat sebagai sesuatu yang haramlah yang harus dipecat.

Partai-partai di negeriku belum bisa menjadi wadah bagi tumbuhnya benih demokrasi. Bahkan parahnya, pemerintah yang berkuasa sama sekali tidak percaya pada partai-partai itu, dan menggunakan kesalahan-kesalahan mereka sebagai senjata untuk menekan partai agar diam dan taat pada pemerintah yang berkuasa. Akhirnya yang terjadi adalah pembenaran-pembenaran terhadap sikap pemerintah yang seperti itu, padahal dibalik itu pemerintah yang berkuasa telah memperkosa semuanya. Agar apa yang mereka katakan selalu benar. Tentu dengan todongan senjata di kepala orang-orang yang mereka takuti. Pertanyaannya adakah orang yang tidak takut dan justru semakin lantang teriakannya ketika ada senjata yang telah dikokang menempel di pelipisnya? Jawabannya tidak ada. Pun ketika rancangan undang-undang anti senja yang diajukan oleh pemerintah kepada pihak Dewan Rakyat, semua tahu rancangan itu akan segera disyahkan menjadi undang-undang dan diberlakukan dengan cara penguasa. Karena menurut mereka tukang cerita yang Cuma seorang diri itu dengan kisah-kisah senjanya bisa mengganggu keutuhan hidup berkebangsaan yang entah kehidupan seperti apa yang mereka maksudkan.

Dari situlah kemudian muncul kaum-kaum senjais yang kebanyakan anak-anak muda yang tidak puas dengan penguasa yang tidak becus mengurusi pemerintahan. Kaum senjais itu terdiri dari berbagai unsur. Dulunya mereka adalah aktivis yang dibungkam oleh penguasa dengan todongan senjata. Mereka ini termasuk golongan yang menolak bergabung dengan penguasa seperti teman-teman mereka yang katanya mau mengubah sistem dari dalam dengan cara masuk ke dalam struktur kekuasaan. Tetapi nyatanya mereka mandul. Sistem yang telah dijalankan bertahun-tahun dan didukung oleh orang-orang yang mengangkangi ekonomi serta militer tak bisa mereka goyahkan. Akhirnya mereka justru hanyut di dalamnya karena fasilitas-fasilitas yang belum pernah mereka dapatkan atau tidak akan pernah mereka peroleh jika tetap berseberangan dengan penguasa. Segelintir orang yang masih teguh pendiriannya untuk tetap berada di luar lingkaran itu, kemudian mendeklarasikan diri mereka sebagai kaum senjais. Aku melihatnya sebagai sebuah pemanfaatan momen, karena pada saat itu pemujaan terhadap senja dan segala sesuatu yang berhubungan dengan senja sedang diberangus maka kemudian orang-orang itu merespon dengan menyebut diri mereka kaum senjais. Bagiku itu sah-sah saja.

Di barisan itulah Litko berdiri. Setahuku ia anak dari lingkungan kelas menengah dan memimpin sebuah komunitas film dokumenter. Ia pernah membuat sebuah documenter tentang anak-anak pejabat yang sering membuat onar di jalanan. Mereka ini sering mengendarai motor-motor besar dan mobil-mobil mewah dengan jumlah yang banyak pada saat malam hari. Litko berhasil merekam kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan di berbagai sudut kota, seperti memukuli para waria yang sering mangkal di sebuah taman yang memang sangat terkenal sebagai tempat waria menjajakan jasa seks mereka kepada para lelaki iseng. Mereka juga sering mengobrak-abrik rumah-rumah kardus di pinggir jalan rel kereta api tanpa alasan yang jelas selain hanya untuk kesenangan belaka. Dan bersama dengan waktu yang berjalan, polisi sering menangkap mereka, membawa mereka ke kantor polisi, menelepon orang tua mereka dengan baik-baik dan segera melepaskan mereka kembali tanpa menahan atau menjatuhkan denda kepada mereka. Pimpinan polisi akan bilang dengan bijaksana, suatu saat mereka akan besar dan dewasa, mereka akan mengganti celana jeans dan kaos oblong mereka dengan jas dan dasi lalu memimpin bisnis orang tua mereka. Atau menjadi anggota Dewan Rakyat atau masuk partai dan menduduki posisi pengambil keputusan. Kamu bisa bayangkan akan menjadi apa negerimu jika suatu hari kelak dipimpin oleh orang-orang yang dengan mudah bisa melakukan tindak kekerasan kepada sesame, Nyong.

Litko dan teman-temannya kemudian membuat kampanye anti kekerasan terhadap masyarakat sipil lewat film. Tetapi kamu tahu sendiri bagaimana respon yang keluar dari pihak penguasa, Nyong. Litko dan teman-temannya ditangkap, mereka dipenjarakan. Karena seringnya keluar masuk sel dan terlalu banyaknya pukulan yang diterima, Litko dan teman-temannya merasa ketakutan akan rasa sakit telah menjadi hilang dari diri mereka. Mereka semakin sadar bahwa ada sesuatu yang harus diperjuangkan. Ada sesuatu yang harus terus disirami agar selalu tumbuh dan tidak mati hanya karena ancaman represif pihak keamanan. Salah satu teman Litko yang paling terkenal adalah Bastia. Kekerasan yang dialami dan dilihatnya terus membekas dalam dirinya, ia membentuk kelompok bersenjata untuk melawan kekerasan dengan kekerasan. Aku sendiri heran, di banyak tempat_kecuali negeri salju abadi_kekerasan telah menjadi sesuatu yang lazim dan kemudian akan dilawan dengan kekerasan pula, seperti di negeri dan negeri Sothe yang selalu bergejolak. Kelompok Bastia yang bergaris keras kemudian berkembang dengan pesat ketimbang kelompok Litko yang berjuang dengan media film. Tetapi mereka saling mendukung dalam perjuangan. Mereka itulah yang memproklamirkan berdirinya negeri senja untuk mengakhiri kekerasan yang dilakukan penguasa dan pihak keamanan. Senja adalah tujuan dimana ketentraman dan kedamaian akan bisa dibangun dalam balutan warnanya yang menentramkan, begitu kata Litko saat aku berpamitan untuk pergi dari rumahnya setelah tahu kekasihku pergi mengejar senja yang hilang dari negeriku.

CERITA RAKEH DI NEGERI TANPA SUARA

Seperti itulah waktu berjalan dalam pengelanaanku, Nyong. Begitu banyak hal terjadi, begitu banyak peristiwa datang dan pergi. Tinggal sisa-sisa kenangan yang ada dalam ingatanku, maknanya sendiri belum sampai kutemu. Kini aku masih bersama Rakeh di negeri tanpa suara dimana orang-orangnya tidak ada yang berbicara atau memberi tanda, mereka bisa membaca dan mengartikan pandangan mata. Inilah negeri paling sunyi yang pernah kutemui, negeri yang paling menakutkan di antara negeri-negeri yang menakutkan. Karena selama di negeri ini, entah berapa lama, aku tidak akan pernah bicara sedikitpun selain hanya berpandangan mata dengan orang-orang di negeri ini. Juga dengan Rakeh. Aku berkomunikasi dengan Rakeh hanya sesekali itupun di dalam kamar penginapan sambil diam-diam menuliskan apa yang kami bicarakan, karena aku belum menguasai bahasa pandangan mata yang menjadi bahasa negeri tanpa suara.

Kami baru saja selesai makan di restoran penginapan. Entah mengapa, selesai makan, Rakeh mengajakku langsung ke dalam kamar. Ia mengunci pintu, menutup semua jendela lalu mengambil lembaran-lembaran kertas dari dalam tasnya. Aku heran, untuk apa ia menyimpan kertas-kertas itu sementara tidak pernah sekalipun aku melihatnya menulis sesuatu. Rakeh yang kukenal tidak banyak bicara, apalagi suka menulis. Satu-satunya buku yang pernah kulihat adalah buku kecil yag diberikannya padaku saat sedang berada di tengah gurun sebelum sampai di sumber air tempat di mana aku bertemu dengan perempuan dengan mata terindah itu untuk kedua kalinya. Rakeh sore ini sangat berbeda, tatapan matanya seperti ingin bicara sesuatu tetapi sayang aku tidak bisa membaca bahasa matanya, iapun tak bisa membaca mataku karena aku belum memahami bahasa tatapan mata. Jadi bahasa tatapan mata hanya akan bisa dimengerti dan dipahami oleh orang-orang yang sudah bisa menguasai bahasa tatapan mata. Ia membagi kertas-kertas menjadi dua, satu bagian untukku dan satu bagian untuknya. Rakeh memberiku sebuah pensil. Tak ada yang beda antara kertas dan pensil milik Rakeh yang menghuni padang gurun seumur hidupnya dengan diriku yang berasal dari negeri yang jauh. Rakeh mulai menulis.

“ Aku punya cerita untukmu.” Tulisnya.

“ Apa itu?” balasku dengan tulisan. Dan selanjutnya kami bertukar kertas hingga kertas-kertas itu penuh dengan tulisan hanya untuk berkomunikasi, karena aku tidak bisa menerjemahkan tatapan mata. Sambil sekali-kali melihat kanan kiri atau berhenti menulis ketika ada langkah-langkah kaki mendekat.

bersambung….



{December 29, 2007}   TEMAN YANG SELALU PERGI

Di dunia ini ada dua jenis manusia yang kukenal, yang pertama adalah manusia yang selalu menetap dan tidak pernah pergi kemanapun, dan manusia yang tidak bisa tinggal, ia selalu pergi kemana saja yang ia suka. Temanku ini adalah tipe manusia yang kedua. Ia bisa bangun suatu pagi di suatu tempat lalu tidur pada malam harinya di tempat yang berbeda. Ia selalu pergi dan pergi. Sampai suatu saat ia akan kembali lagi ke tempat di mana ia memulainya, tapi aku yakin ia akan pergi lagi. Entah kapan, tetapi pasti ia akan pergi. Dan disinilah ia sekarang, di tempat ia memulai semuanya. Sudah terlalu sering aku ditinggalkan oleh orang-orang dekat, tetapi aku tetap tak biasa dengan perpisahan. Kali inipun sepertinya aku tidak siap untuk ditinggalkan oleh sahabatku itu. Seperti ada perasaan yang mendesakku untuk memintanya atau setidaknya membuat dia agar betah tinggal di sini. Ia memang tidak seperti orang-orang yang kukenal. Tidak seperti sahabat-sahabat yang lainnya. Ia tidak ingin bekerja. Ia betah tinggal di rumah. Siangnya ia menulis, lalu malam harinya ia menonton berita-berita di televisi. Ia selalu melihat perang di mana-mana, Ia menyaksikan perang dari hari ke hari. Kadang ia menghampiri layar televisi, menyentuhnya dan berharap bisa merasakan betapa menyedihkan perang itu. Kadang saat duduk di kursi sambil melihat perang-perang itu ia berpikir tentang mati dalam peperangan. Kadang ia berpikir untuk pergi jauh, agar tidak melihat perang-perang itu, tetapi sayangnya perang telah ada di mana-mana bahkan di halaman rumahnya sendiri, di negeri ini.

Mungkin itulah yang mengakibatkan perubahan besar dalam dirinya. Dari seseorang yang bercita-cita menjadi pemain sepakbola profesional menjadi seseorang yang menghabiskan waktunya di jalanan untuk berjalan. Entah apa yang dicarinya, sampai ia menjadi seorang pejalan kaki seperti itu. Tetapi nyatanya meski hanya menganggur dan terus berjalan, ia masih bisa bertahan hidup sampai sekarang.

***

Ketika ia tiba di rumahku dua hari yang lalu, aku melihat gelagat yang berbeda dari biasanya. Kupikir ada perubahan yang mendasar dalam dirinya. Karena baru saja ia menanyakan apakah ada pekerjaan yang bisa dia lakukan.

” Sejak kapan kau butuh pekerjaan?” kusodorkan kopi buatanku. Kopi yang telah kucampur dengan kayu manis dan kapulaga kesukaannya.

” Sejak aku kembali lagi ke sini.” Ia mencium aroma kopi itu.

” Agar kau mendapatkan uang dan bisa pergi lagi?” Tanyaku.

” Kau takut aku akan pergi lagi?”

” Apakah kau tidak lelah untuk terus pergi dan pergi?”

Ia menghela napas, kopi yang masih panas itu diminumnya pelan-pelan.

” Mungkin sudah seharusnya begini hidupku.”

” Begini bagaimana?”

” Aline menyebutnya sebagai kegelapan.”

” Apakah kau sadar berada dalam kegelapan itu?”

” Aku sadar.”

” Bagaimana kau bisa menikmati hidup seperti ini. Hidup yang tanpa masa lalu dan tidak ada masa depan sama sekali.”

” Bukankah segalanya berasal dari kegelapan?”

” Maksudmu?” Ia berdiri, menghampiri rak yang berisi CD lagu-lagu. Sebentar ia mengamati CD-CD itu.

” Kelihatannya selera musikmu berubah. Kulihat ada banyak lagu jazz di deretan paling atas.” Ia mengambil salah satu CD, lalu memutarnya.

” Coba dengar. Musik Jazz berasal dari lorong-lorong yang gelap. Berangkat dari gelapnya kafe-kafe bawah tanah yang muram, milik orang-orang kulit hitam yang juga muram. Reggae besar dari gelapnya hati seorang Marley melihat kaumnya. Capoeira muncul dari gelapnya masa lalu kaum budak Afrika. Revolusi Bolshevik, Kuba, Che Guevara, Liebneckt, Mandela. Semuanya.”

” Konteksnya berbeda.”

” Dimana bedanya?” Ia duduk persis di sampingku. Ada hawa aneh saat ia berada di sampingku.

” Lagi pula mereka menyikapi kegelapan dengan hati yang terang, mereka menyalakan api dalam hati. Kau? Kau malah mematikan nyala api dalam hatimu.” Entah kenapa aku merasa tersinggung.

” Cahaya itu telah mati ketika aku kesana.”

” Kenapa bisa mati.”

” Aku sendiri tidak tahu.”

” Bagaimana mungkin kau tidak tahu? Itu kan hatimu sendiri.”

” Itu bedanya kita. Aku tidak pernah tahu apa maunya hati dan pikiran. Bagiku mereka adalah bangunan-bangunan sendiri yang tidak bisa dimengerti.” Ia selalu seperti itu.

” Lalu dimana kau dalam tubuhmu itu.”

” Aku cuma tamu yang kemudian secara tidak sengaja kenal dan tahu ada bangunan-bangunan yang juga tinggal dalam tubuh yang sama ini.”

” Aneh. Kau memang selalu jadi orang aneh. Dan selalu membuat orang lain tidak ingin mengenalmu.”

” Aku selalu bilang jangan pernah berusaha untuk mengenalku.”

” Bukannya kau punya peta yang bisa memberitahu arah dan jalannya.”

” Aku tidak punya peta.”

” Lalu bagaimana kau melangkah selama ini?”

” Arah bukan lagi masalah buatku. Dalam kegelapan ini, aku tidak lagi bertanya tentang arah dan tujuan.”

” Lantas?”

” Aku hanya berjalan dan berjalan untuk menghindari kesedihan.”

” Kau selalu berusaha menghindari kesedihan tetapi selalu menciptakan kesedihan yang baru buat orang lain.”

” Aku rasa tidak.”

” Kau tidak menyadarinya atau kau tidak mau tahu?”

” Aku tidak meninggalkan kesedihan apapun.”

” Bagaimana dengan Aline?”

Wajahnya berkerut. Ia memandangiku dengan penuh selidik.

Tetapi kemudian ada perubahan yang cepat di wajahnya ketika kusebutkan nama Aline. Sepertinya ia masih punya masa lalu, ia hanya mencoba mengingkarinya.

Aku tahu persis kisah cinta mereka berdua. Ternyata banyak hal yang tak selesai hanya dengan amarah.Juga cinta yang hidup dalam ruang tak terjamah. Aku tahu ia begitu telanjang mengucapkan cintanya pada Aline. Mungkin kejujuran adalah sesuatu yang sangat indah. Tetapi bisa menjadi sesuatu yang sangat menyedihkan. Apalagi jika kejujuran itu disertai dengan airmata.

“ Aku ingin menikahi Aline, karena itu aku butuh pekerjaan.” Matanya menerawang jauh entah kemana.

***

Agak siang aku bangun. Badanku terlalu lelah beberapa hari ini. Aku bahkan sedang berpikir untuk mengambil cuti dan istirahat di rumah atau pergi berlibur ke suatu tempat agar otakku tidak jenuh dan badanku bisa beristirahat dengan baik. Aku masih memikirkannya dan belum mengambil keputusan apapun. Sinar matahari sudah mulai terlihat masuk ke dalam rumah lewat jendela. Kulihat jam, aku terlambat setengah jam dari kebiasaanku bangun setiap paginya. Air putih adalah tujuan pertamaku. Sampai di

dapur, kulihat meja telah rapi dan bahkan sarapan pagi telah siap. Semua yang biasa aku makan untuk sarapan pagi telah berada di meja. Ah, apakah aku sedang bermimpi? Apakah temanku itu yang menyediakan sarapan untukku. Sambil membawa gelas air putih aku pergi ke kamarnya. Aku tidak menemukannya di kamar, bahkan kamarnya telah rapi. Semuanya telah rapi dan bersih. Ruang tengah, ruang tamu, semuanya. Gila.

Aku bahkan tidak mendengarnya membersihkan meja, dan mencuci gelas. Apakah aku terlalu lelap tidur atau dia melakukannya semuanya dengan diam-diam? Aku berpikir kembali tentang keputusannya untuk bekerja. Apakah ini ada hubungannya? Atau ini malah sebuah tanda bahwa ia akan pergi lagi?

Aku kembali ke kamarnya. Semuanya lengkap. Semuanya masih ada. Pakaian dan tasnya masih ada. Sepatu bututnya juga ditinggal. Mungkin ia memakai sepatu yang lebih pantas untuk mencari pekerjaan.

Sudahlah, ia sudah berangkat keluar lebih dulu. Lagipula aku harus segera ke kantor. Ada rapat untuk presentasi ke Departemen Energi. Dan aku harus menyiapkan beberapa bahan presentasi yang berhubungan dengan pengolahan data elektronik di beberapa anak perusahaan. Dalam hati aku berdoa untuk sahabatku itu. Semoga ia bukan lagi angin musim yang selalu berubah arah. Bukan lagi teman lama yang tidak beraturan hidupnya. Ia, teman yang selalu pergi kini ingin menetap dan hidup beraturan.



{December 29, 2007}   2015


PROLOG

Rebah di atas dipan kayu, saat angin pagi membangunkan dari mimpi-mimpi yang dingin, aku ingat hari ketika aku dibawa kesini. Sudah hampir setengah tahun. Aku masih belum tahu apa kesalahanku. Dapatkah aku keluar dari sini?

Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya petani kecil dengan tujuh petak sawah. Aku hanya berurusan dengan bagaimana memenuhi kebutuhan makan, membeli sandang beberapa bulan sekali dan berusaha agar atap rumah tinggalku tidak bocor. Aku tidak pernah belajar dan diajari tentang struktur pemerintahan, atau mengetahui bagaimana sebuah negara bisa dianggap dalam keadaan bahaya. Aku penduduk biasa yang jika waktunya tiba membayar tagihan bulanan RT dan sumbangan kelurahan datang, maka aku harus membayar. Karena aku tahu semua itu untuk perbaikan jalan dan pengairan. Satu-satunya perkumpulan yang aku ikuti tentu saja perkumpulan tani dimana aku bisa tahu tentang takaran pupuk dan berapa kali harus menebarnya sampai panen tiba, juga tentang tatacara menyiangi rumputan yang mengganggu padi. Dan terakhir bagaimana menjual hasil panen ke koperasi. Itu saja. Tak lebih.

Bapak mengajariku bagaimana aku menghitung musim hujan dan musim kemarau, meski sudah lama sekali tidak jelas kapan musim berganti dan datang. Dan di sawah hari-hariku habis berlalu. Dengan lumpur aku belajar mengerti kehidupan. Dengan hujan aku belajar dimana letak kebijakan alam. Dan pada Tuhan aku selalu meminta kemurahanNya. Alam telah memberikan segalanya. Kemurahan yang tiada tara.

Sawah, hujan dan waktu bergumul dalam diriku. Waktu kecil aku bertanya kepada ibu, kenapa ia menanam padi sambil mundur. Kata ibu, kita harus bisa menghormati padi yang memberi kita kesejahteraan. Lalu ibu mendongeng tentang Dewi Sri, lambing kesuburan bagi para petani. Makanya setiap gagal panen nada ruwatan dan jika panen raya berhasil selalu ada selamatan. Bila malam purnama kami duduk di atas dipan bambu di halaman rumah dan bapak menceritakan padaku kisah Gatotkaca yang rela mati demi keluarga dan negerinya.

Perkumpulan petani tempatku banyak belajar, sedang mengadakan rapat pembagian air, saat tiba-tiba terdengar suara kentongan dipukul dari arah desa. Kami segera bergegas menuju kesana tanpa sempat merapikan gubug. Para perempuan mengangkat rantang nasi dan tikar pandan. Kami yang laki-laki membawa peralatan bersawah, cangkul, arit dan linggis bekas membuat lubang untuk memperbaiki tiang gubuk yang telah lapuk. Kami tahu bunyi kentongan yang dipukul terus menerus adalah tanda bahaya. Kami tidak tahu apa yang terjadi di desa. Jadi pikiran kami hanya bagaimana segera sampai di rumah dan mengetahui keadaan rumah dan keluarga yang lainnya baik-baik saja.

Jalanan desa yang berbatu dan kaki kami yang telanjang, angin yang berhembus pelan, suara kentongan yang semakin banyak, lalu langit yang mulai mendung dan kami yang terus berlari. Semua itu tak kami sadari sebagai hari terakhirku. Jarak persawahan kami dengan desa tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu limabelas menit berjalan kaki. Dengan berlari kami lebih cepat sampai, apalagi ada kekuatan yang entah darimana datangnya tetapi membuat kaki-kaki telanjang kami seperti menngambang di udara.

Setibanya di desa, banyak orang telah berkumpul di jalanan, mereka kebanyakan baru datang juga dari ladang dan sawah. Cangkul, arit dan peralatan lainnya masih berada di tangan mereka. Dadaku turun naik, napas tidak beraturan ketika aku berhenti di tengah-tengah kerumunan. Aku tidak tahu apakah yang lainnya sudah sampai atau belum, mungkin aku berlari terlalu cepat dibandingkan yang lainnya.

“ Kita disuruh pergi.” Kata seseorang dari sampingku.

Aku tidak tahu siapa yang menyuruh pergi dan pergi kemana.

“ Kata mereka ada perintah dari pimpinan untuk mengosongkan desa.” Sahut yang lainnya. Aku menjadi semakin bingung ada apa ini. Apa yang sedang terjadi?

“ Tidak! Ini tanah kita. Kita telah turun temurun berada di sini. Tak ada hak mereka menyuruh kita pergi.” Teriak yang lainnya disusul dengan teriakan yang kemudian saling sahut menyahut.

Kudekati seorang teman yang menjadi kepala karang taruna desa. Kutanya padanya apa yang sedang terjadi. Ia menjelaskan bahwa semua penduduk desa tidak boleh tinggal lagi di desa karena tanah desa bukan milik kami, tanah tempat kami tinggal, membangun rumah, membuka sawah dan ladang adalah tanah milik tentara.

Aku bingung, sejak masih kecil aku telah berada di sini. memang kami orang pindahan dari seberang karena di sana telah tidak aman untuk kami tinggali. Lalu kami dipindahkan ke sini oleh pemerintah. Aku tidak tahu alasan waktu itu kenapa kami dipindahkan ke daerah ini. Daerah yang tidak kami ketahui sama sekali. Daerah yang hanya ditumbuhi belukar, ilalang dan pohonan tinggi. Daerah ini lebih mirip hutan ketika kami datang dan mulai tinggal. Setelah itu kami membuka ladang dan sawah. Puluhan tahun kami telah berada di sini. selama itu tak ada masalah apapun, kami juga telah mulai melupakan masa lalu yang gelap. Masa lalu yang penuh dengan darah dan air mata. Di tanah yang baru ini kami menata hidup lagi, menatap masa depan yang lebih baik. kini tiba-tiba kami disuruh pergi, diusir dari tanah tempat kami hidup.

Kalaupun disuruh pergi aku tidak akan sudi. Tidak, aku tidak akan pernah mau pergi. Kemana lagi kami harus pergi. Apakah kami harus selalu pergi dan tidak pernah boleh menetap di suatu tempat? Dulu nenek moyangku disuruh transmigrasi, setelah puluhan tahun kami dipulangkan lagi karena daerah transmigrasi tidak aman untuk ditinggali. Sekarang setelah kami bisa tinggal dan hidup lebih baik, diusir lagi. Apakah kami tidak boleh berdiam di negeri kami sendiri?

Beberapa utusan desa kembali dari pertemuan. Kulihat mereka berjalan kaki. Wajah mereka lesu dan tidak bersemangat.

“ Mereka dipanggil tentara.” Bisik temanku yang ketua karang taruna.

“ Kenapa kamu tidak ikut?” tanyaku.

“ Hanya orang-orang tua yang diundang.”

Dan kulihat memang hanya pak kepala desa, sekretaris desa serta beberapa orang yang dituakan. Mereka tidak bicara sama sekali ketika berjalan ke arah kami. Kami yang masih kebingungan hanya bisa diam melihat mereka tertunduk. Begitu sampai mereka dihujani dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi. Pak kepala desa mengangkat tangannya agar semua diam. Tetapi cukup sulit untuk mendiamkan sekian puluh orang yang berbeda isi kepalanya. Ada banyak perempuan yang mulai histeris, anak-anak mulai menangis, para lelaki yang berteriak-teriak. Setelah agak lama, dan dibantu oleh yang lainnya semua orang mau diam, kecuali anak-anak yang terus menangis.

Pak Lurah yang bijaksana itu terdengar bergetar saat bersuara. Aku tahu ia sedang bimbang. Keresahan itu tak bisa ia sembunyikan di balik wajahnya yang berkumis.

“ Mereka tidak mau menerima tawaran kita.” Katanya yang lalu disambut dengan sekian mulut yang bicara entah apa tetapi berisi makian kecewa, marah, putus asa. Keadaan menjadi semrawut lagi. Kali ini mereka tidak bisa disuruh diam, sampai pak Lurah harus naik ke sebuah tong bekas minyak yang diambil dari sebuah warung pinggir jalan.

Memang sudah beberapa hari ini keadaan di desa kami agak memanas karena tentara menyuruh kami pindah dari tanah yang katanya milik mereka ini. Aku tidak tahu yang benar yang mana, kami dipindahkan ke sini biar bisa tinggal di sini setelah ada kerusuhan di daerah kami yang dulu. Sekarang ketika kami sudah mapan hidup di sini malah disuruh pindah lagi. Aku tidak mengerti di mana kebenaran itu berada.

Hampir semua orang menolak untuk pindah, karena kami tidak tahu lagi dengan cara apa kami hidup jika harus pindah. Pindahpun kami tak tahu kemana. Belum lagi anak-anak yang sekolah, mereka akan sekolah di mana. Suasana semakin kacau dan memanas saat pak kepala desa bilang bahwa tentara sudah ada di pinggir desa. Mereka mau ke desa ini. Para perempuan makin histeris, anak-anak makin keras menangis, hatiku mulai panas. Ketua karang taruna meminta para pemuda berkumpul, ia meminta kami untuk menyuruh ibu-ibu yang membawa anak mereka. Kumpulkan di sebuah rumah, katanya. Kamipun segera bergerak. Aku ingat suasana seperti ini pernah kualami waktu masih kecil, di daerah transmigrasi. Bahkan lebih mencekam dari ini. Tetapi entah kenapa kami masih tidak terbiasa dengan suasana begini meski telah berulangkali mengalami.

Setelah semuanya telah dikumpulkan di rumah seorang warga, kami kembali ke jalan. Bergabung dengan yang lainnya. Puluhan laki-laki kini telah berkumpul di jalanan, hanya ada beberapa perempuan. Kita menunggu saja, kata pak kepala desa. Dan kamipun menunggu. Mungkin bicara di desa akan lebih baik, apalagi mereka datang dan melihat kondisi kami seperti apa. Mudah-mudahan mereka akan tersentuh hatinya dan mengubah keputusan mengusir kami.

Dari jauh ada barisan tentara berpakaian loreng, berbadan tegap membawa senjata yang berjalan kea rah kami, jumlahnya puluhan. Jantungku berdetak kencang, tidak tahu apa yang akan terjadi. Semuanya hanya diam. Mungkin karma kepanikan atau apa yang menyebabkan kami lupa bahwa di tangan kami masih ada peralatan bersawah dan berladang. Dalam keadaan seperti itu ada beberapa orang yang berlari meninggalkan tempat itu karena ketakutan. Dan entah dari mana datangnya setan itu. Mereka tiba-tiba menembak ke arah kami. Tentu saja hal itu membuat kami kalang kabut dan bubar melarikan diri, aku sendiri segera lari menuju ke arah kebun pisang di seberang jalan lalu menjatuhkan diri di antara gedebok pisang yang habis dipanen. Beberapa orang juga melakukan hal yang sama, yang lainnya kabur entah kemana. Suasana kepanikan bertambah ketika para tentara itu merangsek maju. Mereka masih menembak sambil teriak-teriak agar semua orang bubar, beberapa orang termasuk pak lurah yang tiarap di jalanan disuruh lari jika tidak ingin ditembak. Tetapi ketika sudah laripun, mereka tetap ditembaki. Kulihat beberapa orang roboh di jalan, ada darah yang mengalir. Dan ada perempuan di sana.

Kami hanya petani, tak mungkin melawan. Bagaimana kami bisa melawan, bisa berpikir dan berdoa agar kami selamat pada saat itu sudah merupakan anugerah yang sangat besar. Seumur hidup kami tidak pernah belajar berkelahi kecuali dengan nasib yang seringkali tak berpihak pada kami. Saat sepasukan tentara bersenjata itu kemudian datang dan menembaki kamipun, kami tidak melawan sama sekali. Kami hanya bisa lari menyelamatkan diri, ada yang tiarap tak karuan di tanah, bahkan ada beberapa yang harus terjun masuk parit dan sembunyi di tepi pematang. Dua orang petani yang ketakutan dan lari menyelamatkan diri bahkan terkena tembakan di punggung mereka. Mereka tersungkur dan darah bercampur dengan tanah yang kecoklatan mengalir deras. Para perempuan menjerit dan menangis, meraung-raung karena sangat ketakutan. Aku yang sembunyi di kebuh pisang hanya bisa pasrah pada takdir.

Ketika mereka berhenti menembak dan pak kepala desa berbicara pada pimpinan mereka. Kamipun mulai dikumpulkan lagi. Aku keluar dari kebun pisang dengan tangan terangkat di atas kepala. Para tentara itu menjajarkan kami di tepi jalan, mereka mengumpulkan peralatan bersawah kami yang berserakan. Mereka menganggap kami akan melawan mereka dengan senjata-senjata itu. Aku bingung bagaimana bisa dianggap seperti itu, jelas-jelas kami baru berada di sawah ketika kentongan berbunyi. Pasti kami akan membawa peralatan itu. Kami petani pasti bawa cangkul dan arit. Tetapi mereka tidak mau menerima penjelasan itu, bahkan tanpa bicara mereka justru memukuli kami yang bicara. Aku bahkan berkali-kali dijambak, dipukul, ditendang dan kemudian diseret ke tepi jalan. Di sana tenganku diikat dengan lengan beberapa pemuda lainnya, kemudian kami dijajar. Seorang laki-laki yang sangat kukenal berdiri diantara mereka. Ia ketua karang taruna itu. Ia disuruh oleh pimpinan tentara untuk memisahkan orang asli desa itu dan pendatang. Aku ingin memanggilnya ketika kemudian ia mengambil kayu, memeriksa kami satu persatu. Ketika kayu itu dipukulkan ke bahu salah satu diantara kami tentara langsung membawa orang itu ke atas truk yang datang setelah penembakan membabi buta itu, sedang yang tidak dipukul dilepaskan dan disuruh lari sekencang-kencangnya kea rah desa. Dan inilah pertunjukan mereka yang mengundang tawa terbahak-bahak, ketika ada yang dilepas dan disuruh lari, beberapa tentara menembakkan peluru ke sekitar orang yang lari itu. Karena ketakutan mereka jatuh, tersungkur atau terjerembab di aras jalanan berbatu tetapi segera berlari sekuat tenaga lagi agar bisa selamat dari tempat itu.

Ketika ketua karang taruna yang membawa kayu dan memukul orang-orang itu datang menghampiriku aku ingin bertanya sebenarnya ada apa. Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi. Tetapi ia hanya mengatakan maaf lalu dengan keras memukul bahuku, rasanya perih dan sakit. Dua orang tentara segera menyeretku tanpa sempat aku membuka mulut dan bertanya padanya. Sampai di ujung bak truk tentara yang terbuka, aku diangkat dan dilemparkan ke dalam seperti sekarung beras. Di dalam truk telah ada beberapa orang dan juga beberapa tentara yang masih terus memukul dan menendang kami. Mereka melarang kami untuk saling bicara. Mata kami ditutupi. Terakhir kali yang kulihat adalah beberapa orang tentara membawa semua perempuan kami dari tempat itu. Entah kemana, tetapi yang jelas tidak ke dalam truk tempat kami. Karena aku rasakan truk langsung berjalan. Menuju entah kemana. Aku mulai berpikir untuk apa permintaan maaf ketua karang taruna itu sebelum memukulku. Tetapi aku tidak menemukan jawabannya.

Betapa tidak nyamannya berada dalam perjalanan yang tidak kita tahu kemana arah yang akan dituju dan tidak mengetahui apa yang akan terjadi kemudian. Apalagi dalam keadaan seluruh badan sakit dan tulang seperti remuk. Mata ditutup rapat-rapat, tangan diikat dengan rantai dan digembok. Bayangan ketakutan itu benar-benar muncul dalam benakku. Ketakutan yang sesungguhnya. Ketakutan seperti inikah yang akan membawaku pada kematian, tanyaku dalam hati. Tidak. Aku tidak ingin mati. Aku masih ingin hidup. Aku masih muda, masih banyak hal yang bisa kulakukan. Jadi apa salahnya jika berontak. Namun saat aku sedang berusaha untuk berdiri, ada benda keras yang menghantam dadaku. Aku tidak tahu benda apa itu, yang kutahu rasanya keras dan sakit sekali. Tulang igaku seperti remuk. Aku jatuh menimpa seseorang, mungkin salah satu teman petaniku, karena kudengar suara mengaduh dari tubuh yang tertimpa badanku.

Truk berjalan. Hanya berdoa yang aku bisa. Kurasakan darah mengucur di wajahku. Aku tak sempat berpikir apa-apa lagi. Aku tak berpikir bagaimana nasib teman-teman petaniku. Apakah mereka juga kesakitan seperti aku, apakah mereka tidak ada yang terluka parah, atau bagaimana nasib orang-orang yang dilepas dan para perempuan itu. Aku telah tidak sempat lagi berpikir tentang mereka. Yang aku pikirkan hanyalah apakah aku akan selamat dan akan dibawa kemana kami ini? Sisanya aku memikirkan keluargaku, ayah ibuku, kedua adik perempuanku, dan kemudian bayangan kekasihku yang hitam manis. Beberapa kali kudengar teriakan kesakitan, atau suara-suara aneh seperti mendengkur tetapi bukan mendengkur. Inikah suara kematian itu?

Truk berhenti setelah beberapa lama. Tutup mataku dibuka, cahaya matahari menyilaukan mataku. Kulihat teman-teman petaniku tersungkur, beberapa bersandar di dinding truk. Darah tercecer di mana-mana. Kuhitung semuanya, ada tujuh termasuk aku. Sepuluhan tentara yang ada dalam bak truk menyeret kami, melemparkan kami ke tanah. Suara gedebug badan yang terantuk ke tanah membuatku semakin ketakutan. Aku tak sempat membuat kuda-kuda ketika didorong ke bawah. Badanku limbung begitu menyentuh tanah, aku rubuh seperti yang lainnya. Dan dengan cepat kami diangkat berdiri. Keenam teman petaniku didorong maju melangkah ke depan sambil ditendang punggung dan pantat mereka. Aku masih dipegang oleh dua orang tentara. Dari beberapa tempat kulihat orang-orang yang juga terikat berjalan kea rah lapangan juga. Kulirik ke sekeliling, ada beberapa truk dibelakang dan didepan truk yang membawaku. Entah berapa jumlahnya. Tetapi orang-orang yang digiring menuju tengah lapangan ada puluhan. Mungkinkah mereka juga melakukan penembakan dan penangkapan di desa-desa sebelah?

Lapangan itu terletak di pinggir hutan, aku tidak tahu tempat ini. Aku belum pernah ke sini sebelumnya. Lapangan itu seperti baru dibuat, tumpukan belukar yang ditumpuk di pinggir lapangan masih hijau. Di ujung lapangan yang seluas lapangan bola itu kulihat ada gundukan tanah. Aku memutar otak ada apa di sana. Saat aku sedang mencari tahu, ada beberapa orang yang tiba-tiba muncul di antara lapangan dan gundukan tanah itu. Lubang. Ya mereka baru saja naik dari sebuah lubang yang besar. Orang-orang yang digiring itu berhenti di pinggir lubang. Mereka kemudian dijajar seperti hendak antri besar. Tentara yang berada di sekitarku, jumlahnya puluhan juga segera maju dan berjajar pula, setelah itu mengokang senjata mereka. Lalu sebuah pukulan keras mengenai tengkukku. Kesadaranku hilang.

######

Aku bermimpi ketemu dengan kekasihku yang hitam manis itu. Usianya lebih muda empat tahun dari umurku. Ia anak tetangga sebelah. Meskipun kami bertetangga tetapi jaraknya lebih lumayan jauh karena rumah-rumah di desaku masih jarang. Ayahnya seorang juragan, sawahnya banyak, buruhnya puluhan. Kekasihku sekolah SMA di kota kecamatan. Ia naik sepeda motor. Tangkas sekali jika mengendarainya. Aku senang melihatnya naik sepeda motor. Aku sendiri tidak bisa mengendarai sepeda motor. Aku hanya lulus SD, naik sepeda tua dan tidak pernah memakai sepatu. Sepatu dan sepeda motor barang yang mahal buat keluargaku. Sekolahku dulu berjarak tiga kilo dari rumah. Setiap hari aku berjalan kaki, saepasang sepatuku yang Cuma satu-satunya yang kumiliki hingga kini harus kujinjing dari rumah sampai dekat sekolah. Baru kemudian di tepi parit dekat sawah ujung desa aku mencuci kaki dan memakai sepatu. Hamper semua anak sekolah di desaku melakukan hal yang sama.

SD tempatku sekolah dinding temboknya sudah banyak yang rusak, atapnya keropos dan jika hujan sering bocor. Guru-gurunya galak, sering mengatai kami anak-anak desa yang bodoh dan jorok. Tak jarang mereka memukul kami dengan penggaris kayu, melempari kami dengan kapur tulis. Aku beberapa kali kena marah dan pukulan karena terlambat datang ke sekolah atau tidak mengerjakan PR yang kurasa sangat banyak dan sulit. Di sekolah aku juga sering jadi bahan ejekan karena tubuhku kecil, sepatuku bolong-bolong, baju seragamku kotor. Teman-temanku yang besar sering mengolok-olok aku dan meminta makanan yang kubawa. Aku tidak bisa apa-apa karena aku tidak punya banyak teman di sekolah.

Sejak kecil aku sering bermain dengan kekasihku yang hitam manis dan bertahi lalat di dagunya itu. Mobil-mobilan dari kulit jeruk yang kupungut dari tempat sampah rumahnya sering kubuatkan. Juga kuda-kudaan dari pelepah pisang. Jika malam purnama banyak anak-anak yang datang ke halaman rumah orang tuaku bermain petak umpet setelah pulang maghrib dari langgar. Dan rimbunan pohon pisa sering jadi tempat favoritku untuk sembunyi meski kadang aku takut karena orang-orang dewasa sering menakuti hantu pohon pisang akan mengambil anak-anak yang bandel tak mau pergi ke langgar untuk mengaji.

Kekasihku kini kelas tiga SMA dan ia sering mengunjungi aku yang sedang mencangkul di sawah. Ia bilang suka aku karena aku jujur. Suatu sore saat ia mengantar emak ke sawah, ia bilang jatuh cinta padaku. Jadi aku bertanya padanya.

“ Kenapa?”

“ Kok cinta ditanyakan.” Ia justru bingung.

“ Ya.”

“ Kenapa?” Ganti dia yang bertanya padaku.

“ Aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu apa itu cinta.”

“ Cintaku itu tidak untuk ditanyakan, cukup untuk dirasa dan dijalani.”

“ Aku juga tidak tahu itu.”

Aku memang benar-benar tidak tahu apa itu cinta. Tidak tahu apakah aku merasakannya. Kalaupun merasakannya, aku tidak tahu bagaimana menjalaninya.

“ Kenapa tidak tahu terus?”

“ Pengetahuanku terbatas. Aku Cuma lulus SD Inpres. Menghitung takaran pupuk saja aku masih sering salah.”

“ Kenapa tidak belajar?”

“ Siapa bilang tidak belajar. Aku selalu belajar.”

“ Kamu mau belajar mencintaiku?”

“ Lebih sulit mana? Belajar matematika atau mempelajari cinta?”

“ Berapa nilai matematikamu saat sekolah?”

“ Selalu merah.”

“ Kalau begitu kamu bisa mempelajari dan merasai cinta.”

“ Apa kamu sering memberi janji?”

“ Ini harapan. Kita harus punya harapan biar nasib bisa berubah.”

“ Aku mau nasibku berubah.”

“ Itu baru punya harapan. Bagaimana dengan cinta?”

“ Aku tidak tahu.”

Saat itu aku memang tidak tahu apa itu cinta. Jangankan cinta, untuk tahu nanti malam aku akan makan apa, aku tidak tahu. Pengetahuanku memang sangat terbatas. Sepanjang yang kulihat di kampong, jika ada dua orang yang berpasangan yang tidak memiliki hubungan famili, sudah bisa dipastikan bahwa mereka akan ke penghulu. Apakah mereka juga mengalami hal yang sama denganku? Bertemu dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Bapak dan Ibu tidak mengajariku tentang cinta. Mereka bilang sayang sama aku.dalam pikiranku waktu itu, sayang adalah perasaan yang ada untuk keluarga. Cinta itu untuk orang lain yang berlainan jenis agar bisa membentuk sebuah keluarga. Apakah aku harus mencintai agar bisa membina keluarga? Apa aku memang butuh cinta? Lalu dimana aku harus meletakkan makan, minum, tidur dalam hidupku jika yang kubutuhkan adalah cinta?

Bagiku yang tidak pernah tinggal di rumah dan selalu berada di tengah sawah, apakah cinta masih diharuskan? Untuk bisa ke sawah setiap hari aku hanya butuh badan yang sehat. Badan yang sehat kudapat dari makan dan tidur yang cukup. Setiap kali berangkat ke sawah yang jaraknya hamper dua kilo dari rumah, atau jika pulang sebelum maghrib, aku sering mendengar lagu-lagu yang meneriakkan cinta, atau sandiwara-sandiwara radio yang orang-orangnya mengucapkan cinta. Pernah suatu ketika kubaca dari Koran bekas bungkus teri emak dari pasar cerita tentang cinta. Kata Koran itu, cinta harus diagungkan dan disucikan. Jangan diobral atau digadaikan. Kata Koran itu, cinta ada di mana-mana, di gedung bertingkat sampai rumah-rumah pinggir kali. Dari puncak gunung hingga garis pantai. Cinta, katanya lagi, juga tercecer di jalanan yang macet dan ruang-ruang rapat orang-orang berdasi. Cinta hinggap di hati presiden sampai gembel. Ketika membaca Koran itu aku tidak tahu apa itu cinta Karena tidak ada keterangan yang menjelaskan cinta itu apa. Sampai ketika kekasihku yang hitam manis itu menanyakannya padaku.

Dalam Koran itu juga, aku tidak melihat keterangan tentang sawah atau petani. Jadi siapa yang bilang petani di sawah butuh cinta. Tetapi kenapa dia bilang cinta padaku yang jelas-jelas tidak ada dalam keterangan di Koran itu? Atau jangan-jangan karena bapaknya pernah berdasi waktu ketemu pak Bupati dulu itu? Atau karena rumahnya di pinggir kali sehingga ia akhirnya menjadi tahu dan perlu cinta?

####

Tentara menurunkan kami di depan penjara. Aku tersaruk-saruk saat dipaksa berjalan karena badan yang sakit dan mata tertutup darah yang mulai kering. Di tengah halaman penjara aku dan puluhan orang yang tidak dibawa ke tengah lapangan disuruh ke tengah halaman penjara. Di sana kami disemprot dengan air dari mobil besar yang sepertinya terbuat dari besi semua. Banyak sekali orang yang menonton dan berteriak agar kami dibunuh, entah apa yang menyebabkan mereka menginginkan kami agar dibunuh. Apakah mereka tidak tahu bahwa aku ini Cuma petani biasa. Kenapa aku harus dibunuh? Apa salahnya menjadi petani? Kenapa kami ditembak, dipukul dan dibawa ke penjara ini?

Di tengah halaman itu pula aku dan yang lainnya masih menjadi mainan para tentara itu. Dipukul, ditendang dan dilempar ke sana-sini. Aku hanya bisa berdoa agar semua ini bisa segera berakhir. Jika memang aku harus dipenjara karena sesuatu yang tidak kulakukan, biarlah aku dipenjara asalkan tidak disiksa begini.

Hampir dua jam kami dijemur di tengah halaman tanpa diberi minum sama sekali. Matahari siang terasa menyengat, kami dijajar menghadap ke dinding. Matahari serasa membakar kulit punggung dan leher. Sebagian dari kami tidak mengenakan kaos. Entah bagaimana rasanya. Aku sendiri yang masih memakai kaos merasakan perih di punggungdan leher belakang. Aku dan kami semua memilih untuk membungkukkan badan agar wajah kami terlindungi dari sinar matahari. Selama hampir dua jam itu telah banyak yang jatuh tersungkur karena tidak kuat berdiri lagi. Tendangan di punggung dan kaki, pukulan di perut dan muka, sengatan matahari sungguh telah membuat kami tidak kuat menyangga tubuh agar tegak berdiri. Aku juga mulai terhuyung-huyung, kepalaku pening, mataku berkunang-kunang. Kucoba untuk mengalihkan pikiranku dengan mencoba memperhatikan tembok penjara yang tinggi dan diatasnya diberi kawat berduri serta pecahan-pecahan kaca. Tembok itu sudah tidak rata lagi catnya, mulai berlubang di sana-sini. Tetapi kelihatannya sangat tebal dan kokoh. Percuma berpikir untuk merobohkan tembok itu atau melompatinya. Pandangan mataku mulai kabur. Dan samara-samar kulihat para penjaga itu mendekat. Mereka berhenti di belakang kami semua. Ini bukan perasaan yang nyaman dan mengenakan. Aku ingat orang-orang yang diturunkan dan disuruh berjalan ke tangah lapangan yang ada lubang besarnya lalu tentara mengokang senjata mereka. Aku sekarang bisa memastikan mereka semua ditembak mati lalu dikuburkan secara massal. Mungkin hidupku akan berhenti di sini, di halaman penjara ini, bahkan tinggal beberapa langkah dari pintu penjara. Hidupku berakhir sudah. Aku ingin bilang kepada orang di sampingku yang masih kuat berdiri. Apakah dia siap untuk mati? Tetapi kami semua dilarang bicara, sekali mengeluarkan suara maka pukulan dan tendangan akan kami terima. Bahkan ketika kami merasakan sakit tidak boleh teriak sama sekali. Setahuku berteriak adalah cara terbaik untuk mengurangi rasa sakit , tetapi bagaimana rasanya sakit dipukul tetapi tidak bisa teriak? Itu yang kini kami alami. Akupun diam, semuanya diam. Betapa menakutkan ketika tidak bisa berbicara dalam keramaian seperti ini.

Untuk menghalau rasa galau dan pikiran-pikiran yang putus asa, aku mulai memperhatikan tembok itu yang memanjang itu lagi. Tembok yang menjadi pembatas antara kebebasan dan ketidakbebasan. Sekarang aku masih berada di luar tembok itu tetapi telah merasakan ketidakbebasan, bagaimana jika aku berada di dalamnya? Betapa tipis batas itu. Mataku turun, memandang rumputan yang tidak hijau sama sekali karena kemarau. Tanah kering dan berdebu. Aku berjanji akan tetap hidup bahkan di balik tembok penjara itu sekalipun. Jika memang takdirku harus berhenti di sini, apa boleh buat. Aku sadar beberapa orang akan mati, yang lainnya akan tetap di dalam penjara dan jika beruntung sebagian lagi akan dibebaskan. Aku tidak tahu akan menjadi bagian yang mana.

Dari jauh kudengar perintah agar kami semua merapat ke tembok penjara. Aku bergerak pelan dengan rasa pening di kepalaku yang membuat semua benda berputar. Entah kenapa ketika tubuhku bergerak pusing itu semakin menjadi-jadi. Aku bersyukur bisa mencapai tembok, sementara yang jatuh atau tidak kuat berjalan diseret paksa. Mereka menyuruh kami duduk menghadap tembok. Perasaan lega menjalar ketika aku bisa duduk dan meluruskan kakiku. Sayangnya kelegaanku tidak berlangsung lama. Dari ujung sebelah kanan seorang penjaga yang memegang kayu memukul pundak salah seorang dari kami dan menyuruhnya lari ke dalam penjara lewat sebuah satu-satunya pintu yang terletak di sebelah kiri kami. Kulihat ia lari tersaruk-saruk hingga sampai ke pintu dan tidak kelihatan lagi. Berikutnya orang yang berada di samping orang pertama tadi, begitu seterusnya.

Waktu seperti berhenti. Di mana orang-orang yang telah lari itu? Apa yang terjadi pada mereka ketika sampai di dalam sana? Pikiranku menghadirkan bayangan-bayangan yang mengerikan. Bayangan-bayangan itu timbul tenggelam. Hadir tiba-tiba lalu hilang dan menyeruak dalam kepalaku lagi.

Beberapa saat kulihat orang-orang disebelahku ketakutan. Napas mereka tersengal-sengal, mata kuyu mereka pasrah dan berair.

Kapan giliranku tiba?

Pertanyaan itu sungguh menakutkan buatku. Aku tidak bisa menjelaskan ketakutan yang seperti apa. Yang jelas aku sangat merasa takut. Apalagi bayangan seorang penjaga yang memanjang itu kini berhenti di depanku menghalangi cahaya matahari sore. Lalu pundakku terkena pukulan, tidak terlalu keras namun cukup untuk membuatku kesakitan karena mengenai tulang yang tadi ditendang seorang tentara saat aku terjatuh. Dengan segenap tenaga aku berdiri dan berlari ke arah pintu tanpa sempay berpikir apa yang menungguku di balik pintu itu. Aku sudah pasrah, jika memang aku harus mati setibanya di sana, biaralah aku mati. Tetapi yang kulihat pertama kali adalah sebuah halaman yang luas, deretan sel, sebuah mushola di sebelah kanan beberapa bangunan di sebelah kiri. Lalu dua orang penjaga menarik lenganku, membawaku ke salah satu gedung di sebelah kiri. Di dalam gedung itu ada banyak meja dan kursi, banyak penjaga dan orang-orang yang tadi lari terlebih dahulu. Mereka duduk menghadap dua orang penjaga yang menanyai mereka. Ada gelas di atas meja. Aku berharap itu minuman untuk kami. Penjaga yang membawaku menunjuk sebuah kursi yang kosong. Aku melangkah ke kursi itu. Setelah duduk seorang penjaga menyuruhku minum. Lega rasanya tenggorokan kena air setelah lama dijemur. Jika bisa aku ingin menambah minuman lagi tetapi jelas tidak mungkin. Kutaruh lagi gelas plastic itu di samping mesin ketika dan tumpukan kertas.

“ Kamu petani?” seorang penjaga menanyaiku dengan nada membentak.

“ Iya Pak.” Aku tidak berani mengangkat muka karena takut mereka akan marah.

“ Nama?” Penjaga itu mecatat semua jawabanku dalam mesin ketik. Suaranya keras sekali, sahut menyahut dengan mesin-mesin ketik yang lain dan bentakan-bentakan yang membuatku siapapun akan ciut dalam keadaan seperti ini.

“ Prastowo.”

“ Berapa lagi anggotamu yang ada di luar sana?”

Aku tidak tahu anggota apa yang dimaksudkannya.

“ Berapa?!” penjaga itu membentak.

“ Tidak ada lagi Pak. Semua dibawa kesini.” Aku menjawab sekenanya sambil memikirkan orangtuaku, adik-adikku. Aku baru ingat mereka. Apa yang terjadi pada mereka? Siapa yang akan memanen sawah?

“ Kalian sering rapat?”

Kini aku tahu yang dimaksudkan dengan anggota adalah perkumpulan petani itu.

“ Dua minggu sekali.” Jawabku singkat.

“ Siapa yang kalian undang?”

“ Penyuluh, Pak.”

“ Dari?”

“ Kecamatan.”

“ Selain itu ada rapat-rapat yang lain?”

“ Tidak ada.”

Penjaga yang dari tadi mengetik semua jawabanku membisikkan sesuatu pada temannya yang menanyaiku. Lalu ia mengangkat tangannya. Setelah itu penjaga membawaku keluar dari ruangan itu menuju ke dalam sel.

####

Kudengar ada demonstrasi di luar penjara. Lelaki berkumis dan berambut kemerahan itu yang berkata. Sudah beberapa hari gelombang demonstrasi mendatangi penjara, mereka meminta agar kami dibebaskan. Alangkah bahagia dan bangga ketika masih ada yang mau membela kami.

“ Apakah mereka orang-orang desaku?” tanyaku pada laki-laki yang rambutnya kemerahan itu.

“ Bukan. Mereka mahasiswa dan orang-orang yang peduli atas ketidakadilan ini.” Katanya.

“ Jadi orang-orang desaku tak ada yang datang ke sini?”

“ Tidak ada. Warga pendatang telah pindah, mungkin keluargamu juga, kami belum mendapat kabar lagi.” Ia mengeluarkan kertas dan memintaku menuliskan nama-nama keluargaku.

“ Warga asli daerah itu?”

“ Mereka masih di sana karena tidak menggunakan tanah sengketa itu.”

“ Setahuku kami dipindahkan ke sana karena tanah itu kosong dan kami juga punya girik tanah.” Aku membela diri.

“ Ya, kami sedang mengusahakan hal itu. Makanya kami butuh bertemu dengan keluargamu untuk minta kopian girik.” Ia menerima kertas itu kembali, melipatnya dan memasukkan ke dalam kantong.

“ Apakah aku akan terus dipenjara?” Aku takut nasibku akan terus berada dalam penjara ini.

“ Kami akan terus berusahan untuk bisa mengeluarkan semuanya. Jadi bersabarlah.

Lelaki berambut merah itu lalu pamit kepada kami. Ia hanya meninggalkan pesan agar kami tabah dan sabar. Ada saatnya nanti kita akan menang, katanya. Dan kata-kata itu cukup menentramkan kami.

Setelah lelaki berkumis dan berambut merah itu pergi, kami dibawa kembali ke dalam sel oleh para penjaga. Entah kenapa para penjaga itu tidak mengasari kami selama lelaki itu ada bersama kami, tetapi setelah ia pergi mereka membentak dan bahkan menendang kami lagi. Dalam hati aku bertanya-tanya siapa lelaki itu? Lelaki yang merelakan dirinya datang ke penjara ini hanya untuk membantu kami. Aku penasaran dengannya, karena sebelum ini aku tidak mengenalnya sama sekali.

Waktu berjalan dan aku mulai terbiasa dengan ruangan sempit tempat aku dan laki-laki berkumis itu terkunci. Meski cuma berukuran 2×2 dan lebih kecil dibandingkan dengan sel-sel yang lainnya, tidak berlampu, banyak nyamuk karena berada di ujung lorong dan tidak ada ventilasi ditembok karena langsung berbatasan dengan tembok penjara, aku bersyukur karena masih bisa menghirup udara. Aku bersyukur tidak mati ditembak waktu ditangkap di sawah, atau tidak menjadi salah satu orang yang ditembak di lapangan itu. Aku bersyukur ternyata aku masih kuat melewati siksaan-siksaan hingga bisa berada di sini, dalam ruangan sempit dan berteman laki-laki berkumis yang sudah menghuni sel beberapa lama. Satu-satunya hal yang membuatku kini merasa berat hati adalah ketika pikiran-pikiran tenang orangtua dan adik-adikku muncul. Aku sangat rindu dengan mereka. Bagaimana nasib mereka? Apakah mereka mencari-cari aku? Kebingungan tidak tahu harus kemana mencari atau mereka ketakutan sehingga merelakanku. Dalam keadaan begini aku berharap tiba-tiba mereka datang ke penjara ini, tidak usah menebuskan, karena katanya orang yang dipenjara bisa ditebus, tetapi darimana mereka mendapat uang. Seandainya aku bisa memberitahu mereka bahwa aku baik-baik saja dalam penjara, tentu akan sangat membahagiakan diriku. Tetapi tak ada yang bisa kulakukan, semua itu Cuma bisa aku hidupi dalam pikiran-pikiranku.

Beberapa kali lelaki berambut merah itu datang ke penjara, bertemu denganku dan beberapa orang lainnya. Hanya dia yang selama ini sering datang, tak ada orang lain. Pernah sekali ia datang dengan seorang temannya, tetapi temannya juga tidak bisa masuk ke dalam penjara sedang lelaki itu bisa masuk ke dalam sel. Ia memastikan bahwa kami tidak apa-apa. Tetapi tentu saja para penjaga itu mengancam kami bahwa jika kami bicara dan cerita apa adanya maka kami akan dihajar. Itu tak membuatku takut, aku tetap bercerita semua hal yang kami terima di dalam sel. Mulai dari makanan yang Cuma sekali sehari, pemukulan-pemukulan, kebiasaan mereka menjemur kami di halaman penjara dan siksaan-siksaan yang lain.

#####

Setelah hampir tiga bulan gelombang pemindahan penghuni penjara dilakukan. Aku dan lelaki berkumis itu menjadi bagian dari pemindahan. Menurut cerita, kami akan dibawa ke penjara luar kota yang penjaganya terkenal kejam. Tak ada pilihan lain, kami harus ikut. Kalaupun ada pilihan lain mungkin hanya kematian. Dengan truk pula kami diangkut. Berdesakan di dalam bak truk tentara yang berpenutup. Hanya sedikit lubang seperti jendela di kain tebal penutup bak truk. Itupun lubang yang sangat kecil. Hampir seharian, tanpa sempat berganti posisi duduk kami berada dalam truk. Bukan pegal lagi badan, tetapi sudah tak berasa apa-apa lagi. Ada beberapa truk, entah berapa tetapi aku tahu truk yang membawa kami beriringan. Mungkin dua atau tiga truk. Jika satu truk berisi tigapuluh orang berarti ada sekitar seratus orang yang diangkut.

Akhirnya truk berhenti entah di mana. Ada yang bergetar dan terus merasuki seluruh sel tubuhku.

####

Kemanakah perginya waktu?

Mencari kegelapan dan sembunyi dalam debu detak jarum jam atau

Tersesat dalam gerak bulan yang statis di angkasa tinggi?

Kekasihku yang hitam manis, dimanakah engkau kini berada? Lihatlah aku, lelakimu, kini punya puisi. Bukan aku yang menulisnya memang, tetapi lelaki kurus berambut ikal itu yang menulisnya. Tetapi setidaknya kini ia menjadi milikku. Karena diberikan padaku. Aku telah belajar menulis puisi kekasihku, tetapi aku tidak ingin membacakannya sekarang. Nanti kalau takdir berubah dan aku bisa bebas, tentu akan kuberikan puisi-puisi itu padamu. Tetapi, kekasihku, jangan terlalu berharap banyak, bahasaku jelek, tulisanku jelek. Kamu tahu sendiri aku ini Cuma lulus SD, tetapi kata lelaki berambut ikal itu, pengetahuan bisa dicari dimana saja. Sekolah bahkan tidak memberi pengetahuan tentang hidup yang sesungguhnya. Jika aku ingin tahu tentang hidup maka aku harus mencari pengalaman-pengalaman yang hanya bisa kutemukan dalam perjalanan. Aku sendiri Cuma mengiyakan kata-katanya padahal aku tak terlalu paham.

Dimanakah kamu sekarang?



nyong, kamu pernah melihat dua film itu kan? gimana kita dihadapkan pada pemandangan tentang massacre. sejenak setelah menontong film itu aku tercenung, di mana aku sekarang ini berdiri?

aku ingat ambon, sampit, poso, sambas.

ah, kamu bilang ngeri melihat film seperti itu, aku juga. dan aku juga telah capek melihat darah.

aku tulis ini, ketika hujan di luar mulai reda dan kamu menuliskan kata kangen di blogku ini. aku pun juga merindukanmu, Nyong, amat sangat.



{December 29, 2007}   hujan

Hujan yang selalu datang tiap tahun dan sering kali mengganggu aktivitas kita semua Nyong, apalagi kamu naik motor kemana-mana. Agak ribet mesti pake jas hujan atau mantel. Kadang-kadang kemalasan membuat kita malas untuk memakainya, apalagi bila jarak yang ditempuh sangat pendek atau juga karena hujan yang hanya gerimis mengundang.

 

Dulu ketika kecil, waktu hujan adalah waktu yang sangat aku suka, nyong. Karena di saat seperti itulah aku bisa bermain apasaja. Entah bermain bola sambil ‘gelosor’ sana sini dan bermain Lumpur. Ada juga permainan kecil yang aku suka, membuat mainan perahu lalu di taruh diatas air yang mengalir deras. Pada perkembangan selanjutnya aku kemudian suka memancing ikan di kolam milik seorang haji yang katanya pelit, jadilah aku bersama teman-teman masa kecil memancing di kolam-kolamnya, atau kadang menunggu durian jatuh di kebun orang yang sama.

Sementara sekarang, di sini, hujan begitu bermasalah. Banjir, air menggenang, macet menjadi menu tambahan. Entahlah, aku tadi bawa payung kok waktu ke warnet dan nulis ini. Jadi kita harus sedia payung sebelum hujan. He..he..

Di luar masih hujan, masih ingatkah engkau Nyong, pertama kali kita bertemu?

Kutulis kata-kata ini untukmu, ya hanya untukmu Nyong, perempuan yang kucinta.



 

hilang bahasa

hanya kekerasan membawa kami

serta,

kata,

terluka teriak sakit dan amarah

 

sepulang pulang ke lorong gelap

menanti lain pertempuran

tanpa bahasa

hanya keringat,

sedang kata lunglai dalam kecupan

 

Ada yang lebih dari kata

dalam diri kami, merah dan putih

serdadu meraba pecinta yang sama

menjelma waktu, menjelajah

dengusan yang sama

Tanpa tahu ruangan itu menuju tempat lain seperti labirin

Menuju dunia bawah yang entah



{December 28, 2007}   MENJAHIT HATI


Kisah cinta yang indah itu tak harus dilakukan dengan hal-hal besar. Justru semuanya berasal dari hal-hal kecil. Seperti saat kau lelah karena kerja seharian, lalu ada seseorang yang sangat mengerti, mengajakmu berbicara dan bisa membuatmu merasa nyaman. Itu sudah cukup. Dan hal yang terbaik bagiku setiap kali pulang ke rumah adalah berjalan di halaman yang rumputnya ia potong setiap hari minggu, yang bunga-bunganya ia siram setiap pagi lalu membuka pintu dan mendapatinya telah berdiri di belakang pintu sambil tersenyum. Semuanya terasa sangat membahagiakan. Hari-hariku seperti menjadi lengkap. Rasa lelah karena pekerjaan dan jalanan yang macet hilang seketika saat ia tersenyum dan memelukku.

Bahkan dulu ketika kami belum menikah ada saja hal-hal kecil yang entah mengapa selalu menjadi bagian dari perjalanan cinta kami. Siapa yang menyangka bahwa kami jatuh cinta karena hal kecil, seperti memungut sampah plastik yang dibuang sembarangan oleh orang-orang. Kami dipertemukan oleh kecintaan kami pada kebun binatang. Setiap akhir pekan, atau setiap kali liburan, aku selalu menyempatkan waktu untuk pergi ke kebun binatang. Awalnya sekedar jalan-jalan, selain murah, kebun binatang tidak terlalu jauh dari rumah kontrakanku. Tiket yang murah, serta pemandangan yang tidak biasa di mana orang-orang datang bersama dengan keluarga mereka. Bersenang-senang, tertawa. Atau pasangan-pasangan bergandengan tangan, berpelukan. Semuanya adalah pemandangan yang sangat menyenangkan. Belum lagi pohonan yang tinggi dan rindang. Suara-suara binatang, terutama bermacam burung yang suaranya sangat merdu. Dari sanalah aku mengenalnya.

Suatu ketika saat sedang berada di dekat kandang orang utan, aku sendirian memperhatikan sepasang orang utan yang bermain-main dengan bergelayutan di antara ban-ban bekas yang diikat dengan tambang-tambang besar, ia berjalan memutari kandang orang utan. Memunguti sampah, kadang kulihat ia berbicara pada pengunjung agar tidak memberi makan sembarangan pada orang utan apalagi melemparkan makanan yang masih dibungkus dengan plastik.

” Nanti kalau orangutannya makan makanan yang salah bisa sakit perut. Jika sakit perut ia tidak boleh dikeluarkan. Kalau sudah begitu adik-adik tidak bisa melihatnya lagi.”

Aku masih ingat dengan kalimat-kalimat sederhananya itu pada anak-anak kecil yang sedang menonton.

Ketika dia beristirahat di bangku sebelahku. Aku menyapanya. Ia tersenyum. Kamipun segera banyak berbicara tentang kebun binatang itu, pengunjungnya, binatang-binatangnya juga sampah-sampahnya. Hari-hari berjalan dan kami lewati di kebun binatang.

” Aku mencintaimu.” katanya suatu ketika.

” Mengapa?” tanyaku.

” Apakah cinta harus dipertanyakan?”

” Ya.”

” Bisa kamu jelaskan?” ia justru bertanya padaku.

” Kamu dulu yang harus menjelaskan kenapa mencintaiku.” tentu aku tidak mau kalah dengan gaya bahasanya.

” Bukankah cinta tidak untuk dijelaskan. Cinta untuk dirasakan dan dijalani maka biarkan aku mencintaimu.” jelasnya.

Mungkin pada saat itu aku memang sedang tidak ingin jatuh cinta atau tepatnya tidak jatuh cinta padanya. Aku mungkin memang tidak tahu apa itu cinta. Jangankan cinta, untuk tahu aku akan makan apa malam harinya, pada saat itu, aku tidak tahu. Pengetahuanku memang terbatas, apalagi tentang cinta. Tetapi jangan tanya aku tentang nama dan jenis-jenis rumputan, aku hafal semuanya. Bagi seseorang yang ingin selalu berpetualang seperti aku, apakah cinta masih diharuskan? Masih dibutuhkan? Dalam umurku yang waktu itu masih cukup muda aku telah banyak mengetahui banyak cerita cinta. Cinta yang diagungkan, cinta yang disucikan. Ada cinta yang diobral, ada juga cinta yang digadaikan. Aku juga banyak menemukan orang yang jatuh cinta. Mulai dari gedung-gedung bertingkat di pusat kota sampai gubuk-gubuk reot di pinggir kali. Dari desa-desa di puncak gunung hingga garus pantai. Mereka juga tercecer di jalanan dalam hati para gelandangan. Tetapi apakah cinta itu? Aku tidak tahu. Memang semua orang selalu berkata, berbincang, mengungkapkan cinta dengan berbagai alasannya. Aku banyak mendengar kata-kata cinta.

” Aku kira aku telah jatuh cinta padanya.”

” Aku cinta kamu, sungguh!”

” Jangan tola cintaku.”

” Lebih baik aku mati daripada tidak mendapat cintamu.”

” Aku mencintaimu karena kamu baik.”

” Aku cinta kamu, karena aku cinta kamu. Titik.”

Dari telepon, perbincangan di kafe, jalanan, sampai taman. Di bangku sekolah, teras rumah, dalam mobil, tempat pelacuran, sampai kamar hotel. Aku mendengar banyak sekali orang berkata tentang cinta. Tapi apa artinya?

Pada waktu itu aku hanya ingin konsentrasi pada kuliahku. Lagipula ia juga masih kuliah, belum bekerja sama sekali. Tetapi anehnya meski kami kuliah di fakultas yang sama, kami tak saling kenal. Bahkan sejak bertemu di kebun binatang untuk pertamakalinya, kami juga tidak saling bertemu. Dan kami hanya bertemu tiap akhir pekan di kebun binatang. Hal itu berlangsung sekitar tiga bulan, sampai akhirnya ia mengatakan cintanya padaku.

Rupanya ia cukup dewasa ketika aku menolak cintanya, kami masih sering bertemu dan sikapnya biasa-biasa saja kepadaku, sama seperti sebelumnya. Kami tetap berteman.

Selesai kuliah, aku bekerja. Dia bekerja. Tetapi tiap akhir pekan kami masih ke kebun binatang. Berbeda seperti saat dulu masih kuliah, waktu untuk pergi ke kebun binatang tidak terlalu panjang. Kadang kami menyambung pertemuan kami sambil makan bersama di restoran. Ia telah banyak berubah, maksudku penampilannya, tetapi cara berpikirnya masih sama. Itu yang aku suka darinya. Tidak buang sampah sembarangan, tidak merokok, tidak menggunakan parfum atau produk lain yang mengandung bahan berbahaya. Setahun semenjak lulus kuliah, ia mengulang lagi kata-katanya yang dulu.

” Apakah kamu telah mencintaiku?” pertanyaannya suatu sore di tepi kandang orangutan membuatku tersenyum.

” Apakah aku harus mencintaimu?”

” Kamu selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.”

” Karena sebuah jawaban akan menimbulkan pertanyaan lainnya.”

” Kamu tidak kasihan kepadaku?” ia berpura-pura seperti hendak menangis.

” Jangan pernah berkata seperti itu?” aku hanya bisa menggelengkan kepala, ternyata ia rapuh soal cinta.

” Kenapa?”

” Jika cinta berhubungan dengan kasihan maka akan buruk hasilnya.”

” Lalu?”

” Cinta yang seperti itu hanya akan memenjara, tidak akan pernah membebaskan. Ia akan jadi belenggu yang akhirnya tidak menyalakan api cinta tetapi justru memadamkannya.” Kukatakan saja apa yang ada dalam kepalaku. Meski sebenarnya aku malas untuk membahas urusan cinta itu.

” Trus?” ia seperti mendapat semangat lebih. Dan ini sudah telanjur.

” Apanya yang terus?”

” Kalau begitu jangan penjarakan aku dalam cintaku sendiri.”

Sekali lagi aku hanya menggelengkan kepalaku.

” Kalau begitu jangan masukkan dirimu dalam penjara itu.” Kataku sambil tersenyum. Entah senyum apa.

Jalanku telah jauh. Ribuan kilometer mungkin dan ribuan orang telah kutemui. Ada banyak cinta yang beterbangan. Mungkin cinta tetapi mungkin juga bukan cinta. Karena itu aku tidak berani menyimpulkannya. Seperti juga aku tidak mau menyimpulkan apakah aku punya perasaan lebih padanya atau tidak. Seorang teman pernah berkata jangan mudah jatuh cinta, kalau mudah jatuh cinta tidak akan pernah bisa setia. Benarkah sudah tak ada lagi orang yang setia? Benarkah cinta sering muncul tanpa adanya unsur cinta itu sendiri? Bukan lagi sebuah perasaan yang sakral tetapi permainan yang menggairahkan? Alangkah menyedihkan cinta. Tetapi seorang teman lain berkata bukan cinta yang menyedihkan, tetapi kitalah yang menyedihkan. Cinta juga tidak pernah salah, tapi kita dan ribuan orang seperti kitalah yang salah. Cinta punya jalan sendiri, kita yang merusak jalannya, mencemari kemurniannya dan menghancurkan keberadaannya. Ketika teman itu kutanya di mana cinta yang sesungguhnya itu akan kutemukan? Ia tidak tahu.

Suatu sore di pinggir kandang orangutan, ia kembali mengatakan perasaannya padaku, setelah satu tahun kemudian.

” Aku punya puisi.” katanya.

Aku hanya tersenyum dan mendengar puisi-puisinya tentang sampah, bukan tentang cinta.

Dan jauh hari sebelum saat itu aku telah merasa merindukannya. Apakah rindu itu awal dari cinta? ataukah rindu adalah dampak dari cinta? Setahun kemudian kami menikah, lalu punya anak. Tinggal di rumah sendiri, hasil patungan. Ia sangat penyayang. Padaku dan pada anak kami.

Aku bekerja di sebuah kantor konsultan kehutanan. Ia lebih banyak banyak di rumah, selain melukis ia juga kontributor di beberapa majalah dan surat kabar. Jadi dia yang lebih banyak bersama anak kami yang masih berumur satu tahun. Tiap pagi kami bergantian memasak, menyuapi anak kami. Dan setiap akhir pekan kami membawa anak kami ke kebun binatang. Mengenalkannya dengan banyak binatang, bahkan di rumah kami punya banyak boneka binatang. Anak kami laki-laki tetapi ia sangat suka dengan boneka-boneka itu.

Suatu sore saat pulang dari kantor aku berjalan di halaman yang rumputnya ia potong setiap hari minggu, yang bunga-bunganya ia siram setiap pagi lalu membuka pintu dan mendapatinya berada di ruang kerjanya. Duduk di kursi kesayangannya menghadap komputer, di sebelahnya kereta bayi yang di sekitarnya penuh dengan boneka binatang. Aku tidak ingin mengejutkan mereka. Seperti biasa aku pergi ke kamar, mencuci muka, berganti pakaian baru ke ruang kerjanya dan menyapa mereka berdua. Ketika ia aku peluk, tak ada reaksi apa-apa. Ia hanya diam, dan saat kucium pipinya kepalanya terkulai lemah, ia terjatuh ke samping. Aku kaget, kulihat anakku, kepalanya juga lunglai. Kugoyang-goyangkan badan suamiku, ia tak bergerak. Anakku kuangkat, ia juga tak bergerak. Badannya dingin. Mereka berdua telah tidak bernapas. Aku berteriak. Aku menangis sejadi-jadinya. Lalu aku merasa beku. jika aku bisa bertanya pada Tuhan, kenapa ini terjadi. Tentu aku akan bertanya padaNya. Aku bisa saja memukul atau menendang apa saja. Tapi mereka tak akan kembali. Hanya karena aku lupa. Dan ini sangat fatal sekali. Itu penderitaan yang sangat menyakitkan. Ternyata aku tidak bisa memilih apa yang akan terjadi, aku tidak bisa memilih agar hal itu tidak terjadi. Aku tidak tahu bagaimana hari-hariku akan berlalu tanpa mereka. Aku berpikir jika saja, jika saja dan jika saja. Jika saja aku tidak lupa tentu ini tidak akan terjadi. Jika saja aku tidak buru-buru dan mematikan mobilnya tentu aku masih bisa melihat mereka. Jika saja pagi tadi aku tidak uring-uringan tentu aku tidak akan sesedih ini. Tetapi waktu tidak berhenti pada jika saja. Semua terjadi hanya karena aku lupa. Aku lupa mematikan mesin mobilnya. Saat mau berangkat ke kantor, mesin mobilku mati. Kupikir mungkin accunya lalu kupancing dengan mobil suamiku. Sayangnya aku lupa mematikan mesin mobil itu. Aku segera berangkat ke kantor. Garasi kututup lagi. Dan suami serta anakku meninggal karena karbon monoksida yang memenuhi ruangan. Tentu suamiku tak bisa kemana-mana, ia masih harus memakai kursi roda setelah terjatuh dari pohon di belakang rumah seminggu yang lalu saat memotong dahannya.

Setelah peristiwa itu aku menyalahkan diriku sendiri, aku keluar dari pekerjaanku. Rumah kujual dan aku tidak pernah lewat jalan itu lagi. Aku takut berbuat kesalahan lagi. Kini aku tinggal bersama orangtuaku. Aku merasa sangat tersiksa sekali. Rasa bersalah ternyata lebih kuat dari hal lainnya dalam diriku. Aku menyesal dan selalu berpikir tentang jika saja dan jika saja. Ternyata kisah cinta yang indah bisa berakhir menyedihkan bukan karena hal-hal besar, tetapi juga karena hal kecil. Keteledoran. Seperti saat aku harus terburu-buru pergi ke kantor tanpa sempat mengecek kondisi rumah, pada saat itulah bencana yang tidak akan terlupakan seumur hidup terjadi. Ibu kini merawatku, sedikit demi sedikit ia menjahit hatiku yang terkoyak.



et cetera