PEREMPUAN DENGAN MATA TERINDAH
Perempuan dengan mata terindah, begitulah aku menyebutnya. Sejauh petualanganku, dia perempuan dengan mata terindah yang pernah kutemui. Bayangkan apa yang lebih indah dari sepasang mata bening yang menatapmu tajam. Bukan hanya tajam tetapi juga bening penuh rasa ingin tahu. Bukankah pandangan mata yang demikian mampu menggelorakan hati siapa saja yang dipandangnya. Sudah ribuan, bahkan puluhan ribu mata perempuan yang kupandang, tetapi tak satupun yang memiliki pandangan seperti itu. Dibalik bening dua matanya tersembunyi misteri yang entah apa tetapi membuatku sangat ingin tahu. Jika engkau melihatnya Nyong, tentu kaupun akan tertarik dengan pandangan matanya. Lalu kaupun akan berpikir tentang banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi pada si pemilik mata itu.
Aku tidak tahu apa-apa tentang perempuan itu, tak ada yang kuketahui selain kedua bola matanya yang hangat dan tajam. Secara keseluruhan, ia seperti misteri yang ingin kuungkap. Bagai peta buta yang ingin kunamai, perempuan itu membuatku sungguh penasaran. Ah, jika saja mata bisa bicara atau pandangan mata bisa diterjemahkan. Tentu aku akan tahu apa yang dikatakan oleh matanya saat menatapku.
Di tengah gurun panas kering seperti ini, sepasang matanya yang menatapku itu seperti semilir angin yang menyejukkan dari sengatan matahari milik penguasa siang yang seringkali kejam pada makhluk bumi. Sepasang mata itu, ya, sepasang mata itu telah menyumbat nalarku. Aku terbawa hanyut di dalamnya.
“ Jangan pernah mencoba menerjemahkan mata perempuan itu.” Kata pemilik onta yang kusewa.
“ Aku sudah terpesona, Rakeh.” Jawabku.
Tetapi Rakeh hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjelaskan alasan apapun.
Rakeh telah hidup di padang gurun yang panas ini puluhan tahun. Pekerjaannya menyewakan onta dan mengantar para pengembara menyeberangi gurun yang panas. Biasanya mereka yang menyewa jasanya adalah para pemburu senja yang entah kenapa banyak sekali dan selalu bergerak ke arah barat. Sedikit pedagang yang menyewa ontanya karena mereka takut pada perompak yang seringkali muncul di tengah padang gurun. Tetapi menurut cerita orang banyak, Rakeh adalah satu-satunya orang yang bisa menghindar dari sergapan para perompak gurun dan selalu selamat dari terjangan badai gurun. Aku termakan cerita-cerita itu dan menyewanya selama aku berada di negeri gurun ini. Anehnya lagi, Rakeh selalu memilih-milih orang yang menyewa jasanya. Entah karena alasan apa ia tidak bertanya apa-apa dan bahkan tidak mengatakan bayaran yang diminta.
Beberapa waktu yang lalu saat di tengah gurun, tiba-tiba Rakeh memintaku merunduk. Ia menarik kepala onta ke tengah-tengah kami dan kemudian menutupi tubuh kami dan kepala onta itu dengan kain besar. Belum sempat aku bertanya, dari kejauhan kudengar suara angina yang menderu keras dan semakin keras. Lalu aku merasakan ribuan, jutaan butir pasir menerpa kami hingga kami terkubur. Itulah badai gurun pertama yang kualami. Kata Rakeh, badai itu belum ada apa-apanya, tetapi bagiku sudah sangat menakutkan. Sejak saat itu, aku menggantungkan nasib petulanganku di padang gurun pada Rakeh, lelaki yang kelihatannya masih muda tetapi terlihat tua dengan kumis, jenggot dan sorban kumal dik kepalanya itu. Setelah badai gurun itu berlalu, saat itulah aku melihat rombongan perempuan bermata terindah itu melintas.
Rombongan itu terdiri dari limapuluh perempuan termasuk perempuan dengan mata terindah itu. Pada saat aku sedang membersihkan sisa-sisa pasir di tubuhku dan rombongan itu melintas, entah kenapa hanya perempuan itu yang memandangku. Sementara yang lainnya berjalan dengan menundukkan wajah mereka, seperti tepekur memandangi pasir panas yang tak habis-habis diinjak. Semua perempuan itu mengenakan pakaian hitam panjang hingga menutup seluruh tubuh mereka. Dan hanya mata yang terlihat. Rombongan itu tidak menunggang onta, mereka hanya berjalan kaki. Menurut cerita dari seorang pencerita di negeriku yang sekarang sudah tidak bercerita lagi, yang katanya pernah menjelajah negeri gurun sendirian, merekalah rombongan perempuan yang bisa terbang. Mereka tidak berjalan di atas pasir yang panas tetapi melayang di atasnya karena itu tidak perlu onta dan mereka tidak selalu terburu-buru saat melintas di padang gurun. Masih menurut tukang cerita di negeriku itu, merekalah para pemilik senja yang akan menari saat senja tiba di antara larik-larik cahayanya yang gemerlapan. Dan salah satu dari mereka adalah istri penguasa senja, sementara yang lain adalah dayang-dayangnya. Dalam hati aku bertanya apakah perempuan yang memandangku dengan matanya yang indah itu adalah istri penguasa senja? Dan para perempuan yang menunduk itu adalah para dayang, yang masih menurut cerita, wajahnya diambil dan dipenjarakan oleh istri penguasa senja itu karena takut suaminya akan berselingkuh dengan mereka. Benarkah wajah seseorang bisa diambil dan dipenjarakan? Mungkin hanya di negeri gurun itu hal itu bisa terjadi. Negeri tempat para penguasa senja sering melintas. Aku memang hanya sebentar bertatapan mata dengan perempuan itu, tetapi bukankah yang singkat-singkat itu seringkali justru memberi kesan yang mendalam?
Aku telah bertemu dengan rombongan yang pernah diceritakan oleh tukang cerita di negeriku. Kini aku telah terpesona dengan pemimpin mereka, dengan istri penguasa senja hanya dengan berpandangan mata. Sepasang mata yang membakar kesadaranku, membuat jantungku seakan hendak melompat keluar lewat mulut, menyedak di tenggorokan. Aku benar-benar penasaran padanya. Apakah aku akan jatuh hati padanya, Nyong? Bukankah cinta sering berawal dari rasa penasaran? Tetapi tidak aku tidak ingin jatuh cinta pada perempuan dengan mata terindah itu, cintaku hanya untuk kekasihku seorang. Meski aku penasaran apakah ia telah tersenyum saat memandangku beberapa waktu yang lalu. Aku tidak tahu karena seluruh wajahnya tertutup cadar dan hanya sepasang mata terindah itu yang terlihat. Jika ada bahasa yang bisa menerjemahkan pandangan mata, aku ingin sekali memelajarinya. Tidak peduli apakah bahasa itu milik penguasa laut yang terdalam sekalipun.
“ Apakah benar mereka bisa terbang, Rakeh?” tanyaku pada laki-laki yang duduk di depanku dan mengendalikan onta itu.
“ Sebentar lagi kita sampai di sumber air. Kita tidak akan lama dan jangan bicara sampai aku beritahu.” Rakeh tidak menjawab.
Ia meraih tas kecil dipinggangnya lalu mengeluarkan sebuah buku kecil tebal dan memberikan padaku. Gambar sampul itu tidak jelas, bahasanya juga tidak aku pahami. Sejauh ini aku telah belajar banyak bahasa tetapi aku tidak mengerti dengan bahasa yang ada dalam buku kecil yang ada di tanganku.
“ Simpan baik-baik dan jangan diperlihatkan pada orang. Suatu hari buku itu akan berguna bagimu.” Kata Rakeh.
“ Tetapi kenapa kau berikan padaku?”
“ Jika sudah selesai kau baca, berikan pada orang lain yang datang dari jauh. Tugasku sudah kulakukan, kau juga harus begitu.”
“ Apa isinya?”
“ Kau terlalu banyak tanya untuk ukuran seorang pengembara.”
Aku diam.
Rakeh menghentikan langkah ontanya. Kumasukkan buku itu ke dalam ranselku. Biasanya jika Rakeh berhenti mendadak ada sesuatu, kalau tidak karena badai, mungkin perompak. Aku menunggu perintahnya.
“ Rombongan itu berhenti di sumber air.” Kata Rakeh pelan.
“ Rombongan siapa? Mana ada sumber air di sini?” tanyaku.
“ Jangan cari penyakit dengan mereka.” Rakeh menepuk punuk onta agar menuruni lembah yang adadi depan kami. Onta berjalan pelan-pelan, aku ingin tahu apa yang akan terjadi. Selalu ada kejutan-kejutan di gurun panas ini dan aku percaya itu selama Rakeh yang mengucapkannya. Dan padanya aku menggantungkan nasib, setidaknya selama di gurun ini.
Ketika kaki onta yang kami naiki menjejak di atas pasir padat dan landai, kulihat ada banyak orang sedang beristirahat. Mereka makan dan minum di sisi-sisi jalan . sebenarnya bukan jalan karena semua pasir padat dan landai itu tentu bisa dijadikan jalan, tetapi karena yang biasa dilewati adalah jalur tempat kami sekarang berjalan maka aku menyebutnya jalan. Dan mereka ada di pinggir jalan. Tak ada yang bicara sama sekali. Mungkin mereka sedang menikmati makan dan minum mereka. Tak ada suara onta juga. Dari atas punggung onta aku bisa melihat di depan kami terlihat pohon-pohon yang hijau subur. Itukah tempat sumber air yang dibicarakan Rakeh? Betapa bahagia bisa menemukan sumber air di tengah padang panas seperti ini. Onta-onta minum dari ember yang terbuat dari kulit kayu. Mereka yang duduk dan makan, mungkin pengembara seperti aku atau pedagang, tidak memedulikan saat kami lewat. Rakeh turun dari punggung onta. Ia menuntun onta menuju ke sumber air.
“ Jangan turun.” Perintah Rakeh tanpa memandangku saat aku mau turun karena merasa tidak enak berada di punggung onta sementara ia menuntunnya. Meskipun aku menyewa onta dan membayar jasanya tetapi aku tidak ingin seperti bos. Mendengar katanya aku tidak jadi turun.
“ Kenapa?”
“ Agar semua orang tahu kau seorang pengembara.”
“ Memangnya kenapa?”
“ Orang-orang tidak akan memedulikanmu.”
Aku heran dengan penjelasannya tetapi aku menuruti anjurannya. Aku percaya saja apa katanya. Aku tetap berada di punggung onta.
Sungguh luar biasa yang terpampang di depanku. Sebuah mata air yang jernih, menjadi danau yang mengilat di bawah sinar matahari siang yang benderang. Ada banyak rumah di sekitar danau yang hampir seluas lapangan bola di negerimu, Nyong, negeri para penggila bola. Dari bentuk rumah dan jalanan pasir yang ada, aku tahu bahwa orang-orang yang sedang sibuk itu tinggal di sekitar danau ini. Jika engkau berada di sini, Nyong, tentu akan heran, betapa orang-orang bisa menanam sayuran, gandum dan memelihara ternak di sini. aku tersenyum, ini lebih dari sekedar desa dengan otonomi khusus. Inilah tempat yang terasa begitu merdeka di tengah siksaan panas padang gurun.
Rakeh menambatkan onta di patok kayu yang telah disediakan di dekat sebuah rumah kayu yang terletak paling pinggir. Paling pinggir karena di seberang danau, jauh dari tempatku berdiri adalah bukit pasir yang tinggi sekali. Mungkinkah bukit itu yang telah menahan badai agar tidak sampai ke desa ini? Seorang anak laki-laki datang membawa ember dari kulit kayu yang berisi air lalu meletakkan di depan onta Rakeh. Onta itu langsung minum dengan rakus sampai tandas sehingga anak itu berlari mengambil air lagi. Seorang laki-laki tua menawarkan makanan pada Rakeh. Ia menyimpannya dalam kantong dan melemparkannya padaku. Rakeh memberikan kantong-kantong air pada laki-laki tua yang segera pergi dari tampat kami. Anehnya semua itu berjalan tanpa ada percakapan sama sekali. Rakeh, anak kecil yang membawa ember, lelaki tua yang memberi kue, mereka hanya diam saja. Aku semakin heran ketika kuperhatikan sekeliling tak terdengar suara orang bicara. Seluruh kegiatan mulai dari ambil air, makan, berjalan dilakukan tanpa suara sedikitpun. Sepertinya penduduk tepi danau ini telah hafal dengan keperluan para pendatang. Tetapi tidak mungkin mereka tidak berbicara, apalagi dengan para pelancong dan pengelana yang mampir sebentar ke sumber air ini. Apa enaknya melakukan banyak hal tanpa berbicara. Ini benar-benar aneh buatku. Apakah bahasa mereka berbeda? Tetapi bagaimana bisa berkomunikasi tanpa dibantu dengan tanda-tanda? Tidak mungkin semua orang itu bisu. Ah, apakah ini bahasa tatapan mata itu? Aku jadi ingin tahu.
“ Rakeh. Kenapa tak ada orang yang berbicara di sini?” tanyaku sedikit berbisik saat Rakeh meletakkan kantong-kantong minuman di punggung onta.
Rakeh melotot, ia menggerakkan telunjuk jarinya di depan mulut seperti tanda menyuruh orang diam dalam bahasaku. Aku pernah mengajari Rakeh beberapa hal tentang negeriku termasuk kebiasaan mengupil dan menyebutkan nama-nama binatang saat marah.
Entah darimana datangnya tiba-tiba telah berlompatan sosok-sosok hitam yang kemudian mengepungku. Aku tahu mereka adalah para dayang perempuan dengan mata terindah itu. Aku benar-benar baru tahu bahwa mereka, para dayang itu memang tidak memiliki wajah sama sekali, cadar hitam yang menutupi wajah mereka seperti hanya menempel dengan bagian penutup kepala, sementara warna hitam yang gelap terlihat dari lubang tempat mata mereka. Kulihat Rakeh merapat ke tubuh ontanya, ia tidak berani memandang kepada para dayang itu. Aku tidak takut, toh aku merasa tidak berbuat sala. Sebagai pengelana yang menghabiskan waktu dalam perjalanan aku tidak pernah belajar tentang rasa takut. Tak ada yang mesti kita kalahkan selain ketakutan itu sendiri Nyong, karena ketakutan hanya akan memakan kita hingga kita habis tak bersisa.
Kuperhatikan mereka semua. Benar, merekalah para dayang perempuan dengan mata terindah yang kutemui beberapa waktu yang lalu dalam perjalananku di tengah padang gurun yang panas. Kuhitung mereka, hanya ada empat puluh sembilan. Kemana perempan dengan mata terindah itu gerangan? Sebenarnya aku agak bergidik juga memandang wajah-wajah tanpa mata yang mengepungku itu. Orang-orang di sekitar danau telah tidak ada. Mungkin mereka telah lari sembunyi ke dalam rumah masing-masing. Begitu menakutkankah para dayang ini, hingga semua orang ketakutan dan Rakeh yang kukenal sangat pemberani itu merapatkan diri ke tubuh ontanya. Kini aku sendirian tak ada yang akan membelaku jika mereka menyerangku. Kuraba pisau kecil di pinggang, aku menunggu. Para dayang itu tidak melakukan apa-apa sampai kulihat sebuah bayangan hitam terbang tinggi dan langsung berada di depanku. Ah, perempuan dengan mata terindah itu kini memandangku dengan mata terindahnya. Mungkinkah ia hendak mengajakku bercakap dengan matanya? Sayang sekali aku tidak mengerti bahasa percakapan mata. Dan mungkin dia juga tidak mengerti apa yang ingin kukatakan. Perempuan dengan mata terindah itu tidak berkata apa-apa, ia hanya memandangku. Apakah ia telah tidak punya lidah? Apakah lidahnya telah dipotong. Orang macam apakah sebenarnya perempuan di depanku ini? Perempuan dengan mata terindah, perempuan yang telah merebut hati penguasa senja dan membuang wajah para dayangnya?
Ia berjalan mendekat, mungkin bukan berjalan tetapi melayang terbang. Apakah ia juga tidak punya kaki? Atau ia hanya memiliki mata dan tidak ada bagian tubuh yang lain. Entahlah. Banyak sekali kemungkinan, aku tidak tahu jawabnya karena hanya mata terindahnya yang terlihat. Perempuan itu berhenti hanya beberapa langkah dari kami. Rakeh membalikkan badannya tetapi ia masih menunduk tak berani menatap mata perempuan terindah itu. Mungkin Rakeh takut terpesona pada perempuan itu atau mungkin ia takut dengan kesaktiannya? Sejenak perempuan itu memandang Rakeh. Rakeh mengangkat mukanya. Aku yakin mereka pasti bercakap-cakap. Seandainya saja aku mengerti bahasa percakapan mata mereka tentu aku juga ingin berbicara. Sayangnya tidak sama sekali. Hanya beberapa detik mereka bertatapan mata, lalu perempuan bermata terindah itu melayang ke angkasa diikuti oleh para dayangnya. Mereka hilang begitu saja dalam silau cahaya matahari siang menjelang sore. Para penduduk desa kecil tepi danau terlihat mulai keluar dari rumah. Pelan-pelan kudengar mereka mulai berbicara, sedikit-sedikit aku paham dengan bahasa mereka. Bahasa tengah gurun yang hanya dikuasai oleh orang-orang yang menghabiskan hidupnya di tengah gurun tanpa pernah pergi ke manapun. Mereka ini tinggal sedikit karena banyak yang meninggal karena badai gurun atau diserang para perompak gurun. Mungkin di desa inilah para penghuni gurun yang terakhir tinggal dan beranak pinak. Dari pembicaraan dan ekspresi muka mereka aku tahu bahwa mereka tidak membicarakan kejadian yang baru saja menimpaku. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing yang tadi ditinggalkan saat para dayang dan perempuan dengan mata terindah itu mengepungku karena aku berbicara. Aku jadi bertanya dalam hati, apakah mereka marah karena aku telah mengeluarkan suara saat mereka ada? Jadi begitukah mereka? Tidak ingin ada yang berbicara saat mereka ada di sekitar.
“ Apa yang kalian bicarakan?” tanyaku pada Rakeh saat menerima kantong-kantong air dari laki-laki yang tadi memberi kue.
“ Sudah waktunya pergi.” Ia selalu tidak menjawab pertanyaanku.
Sebenarnya aku sangat penasaran tetapi aku masih menahan diri untuk tidak membuat Rakeh tersinggung dan marah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Rakeh pergi dan aku sendirian berjalan di tengah gurun yang tak kukenali ini.
“ Hari ini kita masih selamat.” Kata Rakeh sambil naik ke atas onta.
“ Apakah mereka marah saat aku berbicara?”
“ Para penduduk di sini yang akan membunuh kita.” Jawab Rakeh.
“ Kenapa?”
“ Kau akan tahu nanti.”
Rupanya banyak hal hal yang belum kuketahui dan Rakeh selalu mengatakan aku akan mengetahuinya. Apakah ia akan membawaku menjelajahi gurun dan menemukan hal-hal baru yang belum pernah kuketahui? Aku menjadi bersemangat mendengar kalimat-kalimatnya. Ayo Rakeh ajak aku berkelana mencari pengalaman yang baru, kataku dalam hati.
Sebenarnya aku merasa menyesal karena tidak menuruti nasehat Rakeh agar diam. Mungkin aku akan tahu sesuatu yang baru jika diam dan tentu akan bisa menikmati mata terindah perempuan itu dalam suasana yang lebih santai dan tidak menegangkan seperti tadi. Aku tiba-tiba merasa rindu pada sepasang mata terindah perempuan itu meski hanya dua kali memandangnya. Tadi dan beberapa saat yang lalu. Seandainya aku bisa menerjemahkan padangan matanya tentu aku tidak sepenasaran ini, tetapi jika tidak penasaran maka tidak akan ada debaran-debaran itu. Ternyata keterbatasan memang dibutuhkan agar kita terus mencari makna yang belum pernah diungkap dalam hidup ini, Nyong.
TUKANG CERITA DI NEGERIKU
Dulu sekali aku pernah mendengar ceritera tentang rombongan perempuan bercadar di tengah gurun yang selalu melintas ketika hari mulai senja dari seorang tukang ceritera di negeriku. Sebenarnya ia seorang pencerita senja yang katanya telah berkeliling dunia hanya untuk menikmati senja-senja yang indah di berbagai tempat di bumi ini. Dari sekian banyak ceritanya tentang senja yang telah memesona orang banyak di negeriku, ceriteranya tentang perempuan bercadar itu yang membuatku terpana. Menurutnya perempuan bercadar itu adalah perempuan yang memiliki mata terindah di bumi ini. satu-satunya mata yang bisa menghidupkan sekian banyak kemungkinan. Tentu aku percaya karena ia telah berkeliling dunia dan pasti juga telah menemukan banyak perempuan dengan mata-mata yang indah. Sayangnya aku tidak bisa mendengar ceritera lengkapnya karena tukang cerita itu telah pergi entah kemana sejak ia diumumkan sebagai orang yang paling dicari oleh pihak keamanan dan pemerintah yang berkuasa.
Di negeriku, kekuasaan nyaris identik dengan kekerasan, kesewenangan, dan penyempitan pikiran. Dan dalam alam kekuasaan seperti itu, bila seseorang meyakini sesuatu yang diluar kebiasaan, ia dianggap gila. Tetapi jika banyak orang meyakininya, maka mereka telah berniat meruntuhkan Negara. Begitulah awalnya kenapa pencerita senja itu hilang dari peredaran. Ia yang telah lama kembali dari perjalanan jauh mencari senja-senja terindah dan memilih untuk menceritakan kembali pengalaman perjalanannya ke negeri-negeri jauh itu, awalnya dianggap gila karena menganggap senja sebagai sesuatu yang luar biasa. Sementara di negeriku, rakyatnya memandang senja itu sama saja, baik warnanya, suasananya maupun segala sesuatu yang timbul tenggelam saat senja datang. Mungkin karena kegigihannya atau malah karena ketidakpeduliannya pada tanggapan orang akan cerita-ceritanya, ia tetap saja berkeliling ke pelosok-pelosok negeri kami sambil bertutur tentang kisah-kisah senja itu. Sampai akhirnya satu dua orang menjadi pengagumnya, awalnya mereka kagum akan kegigihannya, tetapi kemudian turut larut dalam cerita-cerita itu. Mungkin mereka butuh oase di saat sedang berada pada tepian hidup yang sangat sulit ini. Negeriku masih miskin, Sang jenderal yang memegang tampuk pimpinan tertinggi di negeri kami merepresentasikan dirinya sebagai bapak bangsa, yang sangat kapabel untuk menerapkan disiplin, tentu dengan represi. Represi telah mematikan demokrasi dengan politiknya dan neoliberalisme mendorong rakyat untuk terus bekerja, menjaga mulut mereka tetap terkunci rapat, dan harus terus produktif, dengan begitu perusahaan akan tetap dapat berkompetisi dengan sempurna dalam pasar internasional. Semakin banyak sector yang diprivatisasi, termasuk kesehatan, pendididan, dan keamanan social. Kebutuhan untuk bertahan mendorong inisiatif privat ini. Rakyat miskin tetap miskin, yang kaya semakin kaya saja. Dalam keadaan seperti itu kami butuh sesuatu yang menyegarkan yang tidak pernah ditemui. Dan pada cerita-cerita keindahan senjanya itulah kami menemukan kedamaian. Lalu sampai pada satu titik, ketika pengagum senja mulai banyak dan merebak ke seantero negeri, penguasa_sang jenderal_ merasa telah dikesampingkan. Ia yang didukung penuh oleh militer kemudian menetapkan pelarangan atas cerita senja yang mereka sebut menyesatkan itu. Penguasa juga menetapkan mereka yang mengagumi senja sebagai keyakinan baru telah berniat meruntuhkan kedaulatan negeri di bawah pimpinan sang jenderal.
Sayangnya rakyat negeriku suka dengan kekuasaan. Mereka percaya bahwa militer telah “membersihkan” semuanya. ‘mereka telah menghilangkan kesemrawutan, kita tidak lagi melihat adanya graffiti di tembok-tembok, semuanya begitu bersih, dan terimakasih bahwa suami-suami kami pulang ke rumah selalu tepat waktu’. Seorang tetangga berkata demikian padaku. Baginya yang tidak terkena dampak langsung: dia beruntung anak-anaknya tidak diPHK tanpa kompensasi atau ditahan pihak keamanan.
Di negeriku Nyong, yang telah aku tinggalkan bertahun-tahun lalu, persahabatan dan kekeluargaan menjadi sesuatu yang sangat penting, meskipun bila ada sesuatu terjadi orang-orang hanya bisa menjelaskan dampak yang diakibatkannya bukan penyebabnya, mungkin karena ketakutan telah hidup begitu lama dalam jiwa manusianya. Pengkhianatan dan saling menjatuhkan mengangkangi kehidupan di sana; semua itu terjadi dan berlangsung di sekitar kami, oleh siapa saja; teman, orang yang tidak dikenal bahkan kerabat sendiri, tujuannya jelas memperoleh keuntungan sendiri. Dalam banyak kasus, tak ada yang terdengar menggugat. Rakyat terpecah menjadi pengikut Negara yang di-backing militer dan yang melawannya tanpa suara; hidup dalam ketidaksalingpercayaan, ketakutan telah meracuni hubungan manusia. Demokrasi telah diganti dan hilang sejak beberapa decade lalu, tetapi beruntungnya, cita-cita itu tetap hidup meski hanya dalam hati segelintir orang.
Jika engkau miskin itu salahmu, dan jika engkau komplain, hal itu akan mengakibatkan dirimu dianggap komunis. Hal itu hidup terus di negeriku selama sang jenderal itu berkuasa.
Lalu hampir seluruh penduduk negeriku turut mencarinya. Pihak keamanan bahkan menggeledah lubang semut kawatir pria dengan rambut panjang dan kumis jenggot yang juga panjang itu bersembunyi di sana. Bahkan pemerintah membuat sayembara bagi siapa saja yang bisa menunjukkan di mana letak persembunyian tukang cerita itu. Hadiahnya sangat menggiurkan, uang yang jumlahnya tidak akan habis tujuh turunan. Siapa yang tidak tertarik di jaman yang sedang susah apalagi di negeriku yang sebagian penduduknya miskin dan sedikit yang kaya tetapi tidak mau berbagi.
Lucunya pemerintah negeriku bekerjasama dengan negeri-negeri tetangga untuk memerangi tukang cerita dan ceritera-ceriteranya tentang senja itu. Perang melawan senja begitu judulnya. Ceritera tentang senja telah menjadi terror, para pengikut tukang cerita itu disebut senjais dan mereka ditangkap lalu dipenjarakan. Dari pengumuman di televise, radio, koran dan majalah, aku tahu ia menjadi buronan karena dua kesalahan besar yang telah dibuatnya. Pertama, ia telah mengisahkan senja-senja terindah dan sangat romantis di seluruh sudut bumi. Ceritera-ceriteranya telah membuat penduduk negeriku menjadi sangat terpesona. Apalagi para pemuda dan pemudi yang diharapkan bisa menggantikan generasi tua di negeriku. Akibat kisah-kisahnya itu, orang-orang menjadi lupa segalanya. Seperti ada semacam janji dalam setiap kisahnya. Kedamaian, ketentraman, kenyamanan yang luar biasa setiap menikmati senja. Mereka lupa pekerjaan, keluarga, anak istri, suami, kekasih bahkan kewajibannya sebagai warga Negara. Semua orang tergila-gila pada senja. Senja diburu, senja dinikmati, senja dipuja.
Tentu saja fenomena itu membuat gusar dan resah penguasa di negeriku. Kesalahan yang kedua dan terbesar adalah membuat rakyat yang memujanya kecewa, saat semua orang telah memuja senja dan memburunya. Ia dengan semena-mena memotong senja di negeriku. Ia mengantonginya sendiri. Dari sebuah rekaman pengakuannya dalam siaran berita televisi, tukang cerita itu memotong senja untuk kekasihnya seorang. Kenyataan ini tentu saja membuat penduduk negeriku marah atas keegoisan tukang cerita itu. Ini kemudian dimanfaatkan oleh pemerintah dan pihak keamanan, merekapun menjadikan tukang cerita itu sebagai musuh bersama. Dan rakyat berduyun-duyun mengiyakan pernyataan itu.
Mungkin sampai sekarang, aku telah berkelana puluhan tahun, negeriku masih tanpa senja. Tentu kau bisa membayangkannya, Nyong. Kalau kau berada di negeriku, engkau tidak akan menemukan senja. Setelah siang dan sebelum malam, langit barat bolong, berwarna hitam pekat. Tak ada lagi warna merah, ungu, jingga atau larik-larik cahaya kemilauannya. Setelah siang kegelapan menyelimuti negeriku. Lalu malam datang menambah kepekatannya.
Nyong, kaupun pasti pernah melihat senja kan? Pada waktu aku melawat ke negerimu, negeri yang tak habis-habis memuja sepakbola, dan bermain di tepi danau yang selalu dipenuhi pelancong yang tiap senja datang memberi makan ikan-ikan besar di sana, kita pernah melewati senja sambil bermain bola. Memang di negerimu senja tidak terlalu diperhatikan, sepakbola adalah segalanya. Pagi, siang, malam atau senja semua orang sibuk dengan pertandingan sepakbola. Entah sekedar bermain-main, menyaksikan pertandingan-pertandingan sepakbola dari televise atau menjadi bagian dari pertandingan-pertandingan besar. Semua orang memujua sepakbola. Mungkin bedanya di negerimu, pemujaan terhadap sepakbola menjadi bagian yang menarik dan justru membuat negerimu menjadi pencetak pesepakbola-pesepakbola paling jago di bumi ini. Aku ingat, di tepi danau itu pertama kali kita bertemu. Kaupun mengajariku menari, tarian yang harus dikuasai lebih dulu oleh setiap orang yang ingin belajar sepakbola. Aku sering melihat tarian-tarian itu di layar kecil televisiku saat para pemain dari negeri bermain sepakbola di benua-benua lain. Dan senja di negerimu menjadi hal yang biasa. Seperti makan, kencing, atau tidur.
Mungkin hingga kini orang-orang di negerimu menganggap senja sebagai bukan sesuatu yang istimewa. Tetapi tidak di negeriku, Nyong. Dulu, saat tukang cerita itu berkeliling untuk mengisahkan ceritera-ceritera tentang senja, negeriku menjadi semarak. Banyak orang mengekspresikan dan memaknai senja dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang tiba-tiba jadi pelukis, penulis cerita, tukang foto, pedagang barang-barang yang berhubungan dengan senja dan masih banyak lagi. Tukang ceritera itu berkeliling hingga pelosok-pelosok desa terpencil, sampai puncak-puncak gunung, tepian pantai, hanya untuk mengisahkan keindahan senja. Negeriku menjadi negeri yang penduduk begitu bersemangat memandang kehidupan. Tanpa disadari, kisah-kisah tentang senja telah memberi inspirasi semua orang. Kehidupan ekonomi penduduk miskin membaik karena mereka bisa membuat apa saja tentang senja dan orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya bisa menikmati senja dari pernik-pernik kecil yang dibuat oleh industri rumahan. Tingkat kreativitas penduduk juga naik drastis, kegiatan seni dimana-mana. Kurasakan kehidupan semakin bergairah di mana-mana. Kisah-kisahnya telah menahbiskan senja menjadi saat paling istimewa dari waktu yang berjalan.
Ia membuat para pendengarnya dengan pujaan-pujaan tentang senja. Ia berceramah, membacakan puisi, mendongeng tentang senja di berbagai tempat di bumi ini. Awalnya hanya satu dua orang yang mau mendengar, kebanyakan mencibir pada kisahnya. Tetapi karena situasi yang sulit terus banyak orang stress karena pekerjaan serta kehidupan yang tidak menentu dan orang-orang butuh semacam lagu nina bobo yang bisa membuai akhirnya pendengar ceriteranya menjadi banyak sekali. Anehnya dari pengakuan mereka, ada semacam ketenangan setelah mendengar kisah-kisah itu. Tak lama kemudian orang berduyun-duyun mencarinya untuk mendengar kisah-kisah itu.
Begitulah, akhirnya tukang cerita itu kemudian dijuluki pengelana senja, ada yang menyebutkan pengabar senja, ada yang menghadiahi nama pengisah terhebat bahkan orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai pengikut tukang cerita itu menyebutnya sebagai orang yang menerima wahyu senja. Tukang cerita itu selalu muncul bersamaan dengan datangnya senja. Ia membacakan kisahnya dalam balutan senja merah keunguan yang indah sekali. Ia tidak butuh berteriak lantang, ia hanya bicara dengan biasa saja, karena tak ada yang berbicara, menyela bahkan menahan batuk saat dia sedang bercerita. Kadang tukang cerita itu berbisik lirih, meneriakkan lantang puisinya, bersenandung lagu-lagu merdu lewat suaranya yang serak. Ia hanya muncul sekali di suatu tempat. Hari ini mungkin ia berada di sini, besok saat senja datang ia telah berada di tempat lain.
Setelah berhari-hari, berbulan-bulan, kisah tentang tukang cerita yang memiliki banyak julukan itu menjadi sangat terkenal. Semua penduduk di tempat-tempat tinggi dimana senja dapat disaksikan dengan sangat sempurna menunggu kedatangannya untuk berceritera dalam balutan senja yang berkilauan. Orang-orang gunung, lembah, pantai, desa, kota terbuai oleh kisah-kisahnya. Di kota-kota besar, para pekerja di gedung-gedung tinggi yang sering mengenakan dasi tetapi lebih mirip penjerat leher agar tidak bisa lari kemana-mana itu tidak pulang cepat-cepat ketika sore waktunya pulang ke rumah. Mereka berdesakan di bagian barat dari gedung tempat mereka bekerja sambil membuka jendela kaca lebar-lebar, atau naik ke atap gedung demi menikmati senja dengan warnanya yang syahdu merayu itu. Para petani berhenti mencangkul, nelayan berhenti menjala, sopir-sopir mematikan mesin kendaraannya, demi senja. Toko-toko tutup, restoran tutup, terminal tidak ada kegiatan, stasiun tidak berfungsi. Lalu tidak ada satupun lampu yang dinyalakan demi untuk menikmati cahaya senja.
Seperti itulah kejadiannya, Nyong. Entah karena iri atau takut pamornya runtuh, penguasa yang gerah sejak kehadiran tukang cerita itu menyita perhatian penduduk negeriku, mereka menjadi tersinggung dan menuduh tukang cerita itu telah mengganggu stabilitas negeri. Apalagi setelah stasiun-stasiun televisi berlomba menyiarkan secara langsung kegiatan tukang cerita itu. Tayangan berita, film, sinetron, infotainment kebanyakan tentang senja dan tukang cerita yang terus berkelana di negeriku. Kegiatan pemerintahan, kampanye-kampanye, kegiatan amal para istri penguasa luput dari pemberitaan. Koran dan majalah menomorkansatukan berita yang tidak berbeda. Foto-foto senja, foto-foto tukang cerita dalam banyak gaya terpampang besar-besar, mengalahkan segalanya. Radiopun seperti itu. Sekolah membuat tambahan ekstra kurikuler tentang pengetahuan senja, karena tak ada dalam kurikulumnya. Pedagang kakilima bertebaran di mana-mana, mereka menjual apa saja yang ada hubungannya dengan senja dan tukang cerita gondrong itu. Lukisan-lukisan mahal diturunkan dan dilempar ke gudang diganti dengan lukisan tentang senja yang bahkan mungkin dilukis oleh anak-anak kecil. Foto-foto senja dalam frame-frame mahal menggantikan foto para pemimpin. Senja dan segala sesuatu yang berhubungan tentang senja menggantikan segalanya.
Pemerintah geram karena tiap senja datang semua kegiatan terhenti, kecuali pemandangan jutaan, puluhan juta orang yang memandang langit barat. Tak hanya itu, ada orang-orang iseng yang mulai menyebarkan selebaran tentang sebuah negeri baru, negeri senja. Penguasa marah, mereka menyusun rancangan undang-undang anti senja, lalu diajukan ke dewan rakyat. Tak ada adu pendapat atau tarik ulur di lembaga itu. Rancangan itu langsung disetujui dan diundangkan, makan keluarlah undang-undang anti senja yang melarang setiap orang untuk menikmati, menyimpan atau melakukan aktivitas yang ada hubungannya dengan senja. Penggeledahan, penangkapan, bahkan penculikan terjadi di mana-mana. Pemusnahan benda-benda yang ada hubungannya dengan senja dilakukan. Pembreidelan terhadap media massa yang bandel terjadi. Tak hanya itu lembaga lintas iman mengharamkan senja.
Banyak yang protes, aktivis senja dan para senjais menyusun barisan melakukan demonstrasi. Pihak keamanan menanggapi dengan gas air mata, peluru karet bahkan peluru sungguhan. Penguasa tidak main-main untuk memberangus segala sesuatu tentang senja. Kritikan terhadap kebijakan penguasa bermunculan dari dalam dan luar negeriku. Para pemimpin dunia menyurati penguasa kami, aktivis kemanusiaan menyayangkan penangkapan, pemukulan dan penculikan. Seorang pemimpin yang terkenal sebagai tukang celetuk menanggapi dengan celetukan khasnya. Senja kok diurusi, imajinasi kok dilarang. Mending ngurusin kemiskinan, katanya.
Dengan pemberlakuan undang-undang itu, si tukang cerita ditetapkan sebagai buronan. Siapa saja yang membantunya lari atau menyembunyikannya akan dihukum seberat-beratnya. Jadilah negeriku, negeri yang kacau kembali setelah sejenak penuh warna. Pihak keamanan membentuk satuan khusus pemburu tukang cerita itu. Setelah itu semua, penduduk di negeriku kembali ke kehidupan seperti semula. Kajahatan di mana-mana, wajah kemiskinan berteletekan di mana-mana, pajangan-pajangan kembali lagi. Tak ada yang berani menyimpan, mengoleksi, atau memuja senja karena pasti dihukum.
Sejak saat itu para peramal, paranormal, dukun menjadi laku didatangi para pemburu hadiah yang diiming-imingkan penguasa bila bisa menunjukkan keberadaan tukang cerita senja yang telah berubah julukan menjadi buronan nomor wahid, orang paling dicari, sumber hadiah karena kampanye penguasa dan undang-undang anti senja. Orang-orang garis keras negeriku justru merasa tertantang, mereka mendeklarasikan negeri senja.
Tukang cerita yang dulunya dipuja seperti pahlawan bagi penduduk di tengah ketidakjelasan dan ketidakmenentuan nasib akhinya menjadi penjahat, menjadi orang yang dinajiskan, harus dibinasakan. Nyong, betapa mudah segala sesuatu di negeriku dibolak-balik dengan seenaknya. Para penguasa bisa tersenyum menyaksikan perubahan itu. Kampanye mereka berhasil. Mereka bisa duduk tenang kembali.
Menyadari keberadaannya tidak diinginkan lagi dan melihat betapa pihak keamanan bisa menculik, menangkap, memenjarakan orang dengan begitu mudah, tukang cerita itu lenyap entah kemana. Bukan takut kurasa, Nyong. Ia mungkin memikirkan nasib orang banyak. Ia tidak ingin ada korban lagi. Ia membuat permintaan maaf lewat sebuah saluran televisi. Jika pihak keamanan dan penguasa berniat menangkapnya maka mereka harus berusaha keras karena tak ada lembaga apapun di muka bumi ini yang bisa menangkap, memenjarakan pemikiran dan imajinasi seseorang, begitu katanya.
Namun kehidupan yang mulai bergeser itu kembali bergejolak setelah di suatu senja para penduduk yang masih sembunyi-sembunyi mengagumi datangnya senja menyaksikan betapa langit barat telah berlubang dan senja telah hilang. Lalu sebuah tayangan muncul di televisi-televisi, tukang cerita itu minta maaf lagi karena telah memotong senja untuk dibawanya pergi. Negeriku menjadi kacau kembali. Penduduk menyalahkan penguasa dan pihak keamanan yang terus memburu tukang cerita itu. Penguasa dan pihak keamanan merespon dengan penangkapan, penculikan bahkan pembunuhan massal. Aku yang hanya orang biasa dan tidak berhubungan dengan politik ataupun senja dibuat bingung. Ada senja, orang memuja ada kerusuhan. Tak ada senja, orang marah ada kerusuhan juga. Sejak saat itulah aku memutuskan untuk menjadi pengelana tanpa tujuan, hingga kini.
AKU MEMUTUSKAN UNTUK BERKELANA
Aku memutuskan berkelana karena negeri menjadi kacau dan sejak kekasihku pergi meninggalkanku, demi memburu senja yang telah dilarang di negeriku. Pacarku pergi memburu senja.
Tak ada yang menyakitkan selain ditinggal kekasih paling dicinta demi hal yang lain yang baru yang katanya lebih menarik dan mendebarkan selain diriku, Nyong. Begitulah, kekasihku pergi karena telah jatuh cinta pada senja. Aku pergi berkelana tanpa tujuan selain berkelana sambil berharap bisa menemukan kekasihku itu. Kuusung rasa setia dihatiku pada kekasihku itu. Bukankah tak ada yang lebih indah selain kesetiaan, Nyong. Bahkan senja tak bisa mengalahkannya.
Di sinilah aku sekarang. Di tengah pada gurun yang panas dan kering dalam perjalananku menuju entah kemana dan entah sampai kapan. Ada yang pernah bilang bahwa kesetiaan dalam percintaan itu omong kosong, sekarang aku merasa tertantang untuk membuktikannya. Kesetiaan adalah bagian dari cinta yang tidak bisa dipisahkan. Bilapun ada orang yang meninggalkan kekasihnya mungkin karena ia memang tidak mencintainya. Mungkin kekasihku itu juga tidak mencintaiku sejak awal, tetapi entah kenapa ia selalu bilang cinta padaku. Mungkin ia hanya kasihan padaku yang sebatang kara dan tidak memiliki seorangpun. Lalu ia mengucapkan kata cinta itu demikian merdu bertalu hingga aku kemudian jatuh cinta padanya juga. Bahkan mungkin cintaku takkan pernah bisa dihapuskan.
Cinta itu bukan permainan. Dan aku tidak pernah bermain-main dengan cinta. Cinta itu benar-benar ada Cuma kita tidak pernah bisa mendefinisikan apa itu cinta. Tetapi kita bisa merasakannya, lalu setia padanya. Apakah kau juga punya kesetiaan, Nyong? Mungkin kau akan bertanya padaku tentang keterpesonaanku pada perempuan dengan mata terindah itu. Awalnya aku tidak tertarik pada tukang cerita senja dan senja yang diceritakannya. Tetapi sejak kekasihku pergi, aku menjadi tertarik dengan senja, mungkin jika aku bisa menemukannya di tempat-tempat orang bisa menemukan senja terindah. Itu yang pertama. Yang kedua, dari cerita yang dikisahkan tukang cerita itu di suatu hari di pinggir sungai dekat tempatku tinggal, aku tahu bahwa ada rombongan perempuan bercadar di tengah padang gurun yang katanya adalah istri penguasa senja. Penguasa senja itulah yang membuat senja bisa tampak begitu indah dan memukau meski hanya sebentar saja hadirnya. Dari kedua hal itu lalu akupun menarik kesimpulan bahwa mungkin dengan berkelana aku bisa menemukan kekasihku lagi, menyerahkan kesetiaanku padanya. Terserah mau dia apakan kesetiaanku itu nantinya. Dan yang paling membuatku semakin bersemangat berkelana adalah ketika aku benar-benar bertemu dengan perempuan dengan mata terindah dan istri penguasa senja itu. Mungkin kamu sedikit bingung dan tidak mengerti dengan penjelasanku ini, Nyong. Nanti kamu akan mengerti setelah aku selesai berceritera semuanya. Tetapi yang jelas adalah aku berkelana tanpa tujuan sambil berharap bertemu kekasihku itu dan menyerahkan kesetiaanku padanya. Itu saja.
NEGERI TANPA SUARA
Aku tiba di negeri tanpa suara ditemani oleh Rakeh dan ontanya. Benar kata Rakeh, di negeri ini yang terdengar hanya desau angin yang menyapu pasir dan debu yang terhampar bagai permadani sang maha. Semua orang hanya bertatapan mata dan mereka bisa mengerti dengan sendirinya. Di negeri ini bahasa tidak diucapkan dan dituliskan. Bahasa hanya dimengerti dengan tatapan mata. Tak ada yang lebih ajaib ketimbang kenyataan yang kutemui di sini. Matahari bulat besar yang muncul saat pagi di negeri salju abadi yang kukira adalah keajaiban satu-satunya ternyata tidak lebih menakjubkan ketimbang negeri tanpa suara ini. Kamu tentu bisa membayangkan betapa sunyinya negeri ini, Nyong. Kita tidak akan pernah mengerti bila kita tidak berbicara dan memberikan tanda. Tetapi di sini semua itu tidak berlaku.
Penduduk negeri tanpa suara, baik laki-laki maupun perempuan kecuali anak-anak, mengenakan cadar. Agak sulit membedakan mereka dari belakang, kecuali tentu gaya berjalan mereka. Dan dari sinilah perempuan dengan mata terindah itu berasal. Negeri di mana ia lahir dan menjadi perempuan dengan mata terindah yang pernah ada. Menurut ceritera yang beredar kekagumannya pada senja telah menjadikan perempuan itu menghabiskan waktu setiap senja tiba dengan memandang larik-larik cahaya berkilauan di langit barat. Kebiasaannya itu membuat penguasa senja yang sering berkelana ke seluruh jagat raya jatuh hati padanya. Lalu dengan kesaktiannya melukis langit, iapun melukis senja terindah hanya di negeri tanpa suara agar bisa dinikmati perempuan itu. Dan karena setiap senja datang perempuan itu selalu memandang senja, lama-lama matanya berubah menjadi mata terindah. Masih menurut kabar yang beredar, sebenarnya perempuan itu tidak memiliki kaki sebelah. Karena itu ia menjadi penyendiri dan tidak banyak bergaul dengan orang. Kekurangannya itu tentu saja membuat para pemuda di negeri tanpa suara tidak tertarik padanya. Mereka berpaling setiap kali bertemu dengannya. Peristiwa itu membuat penguasa senja menjadi trenyuh, dengan kekuatan lewat larik-larik cahaya senja yang memesona, ia memberikan kelebihan pada mata perempuan itu. Dan ia memilih matanya karena penduduk negeri tanpa suara hanya terlihat matanya. Begitulah ceritanya. Sekarang aku telah berada di negeri tanpa suara sambil berharap bisa menemukan perempuan dengan mata terindah itu.
Dulu sebelum ada revolusi di negeri tanpa suara, pemerintahan yang berkuasa terkenal sangat kejam terhadap penduduknya. Mereka sangat represif dan membungkam suara-suara ketidakpuasan penduduk atas ketidakadilan yang terjadi terus menerus dan dipelihara untuk waktu yang sangat lama. Penduduk dilarang mengeluarkan pendapat atas segala macam kebijakan yang diambil oleh penguasa. Pengalaman hidup yang pahit itupun akhirnya membuat penduduk negeri tanpa suara menciptakan bahasa dengan pandangan mata untuk menghindari penangkapan, pembunuhan dan penculikan yang terus terjadi. Di bawah pimpinan beberapa orang sipil, penduduk negeri tanpa suara memberontak dan membunuh para penguasa. Mereka semua digantung di jalanan. Tak ada satupun yang tersisa. Lalu pemilihan pemimpin yang barupun dilaksanakan. Dan akhirnya seorang perempuan terpilih menjadi pemimpin negeri tanpa suara. Ia dibantu oleh dewan rakyat yang dipilih oleh rakyat secara langsung. Dan bahasa tatapan matapun dijadikan bahasa pemersatu di negeri tanpa suara. Revolusi itu sendiri terjadi sekitar tigapuluh tahun yang lalu.
Kini negeri tanpa sura, sepenglihatanku, sangat damai. Sebuah sungai besar dibangun dan membelah negeri tanpa suara yang terletak di tengah-tengah padang gurun yang panas. Dari sungai itulah pertanian, peternakan dan perikanan dijalankan dengan adil. Tak hanya negeri tanpa suara yang kemudian menjadi subur dengan adanya sungai buatan itu. Negeri-negeri di sekitar negeri tanpa suara yang sama-sama terletak di tengah padang gurun menjadi subur. Inilah masa kejayaan negeri tanpa suara. Segala sesuatu di negeri ini gratis. Bahkan ketika aku dan Rakeh tiba di perbatasan negeri tanpa suara, para pengawal di perbatasan menjamu kami dengan keramahan dan makanan serta minuman khas mereka. Penduduk di negeri ini telah diberi tugas masing-masing. Ada yang diberi tugas mengelola penginapan untuk para pelancong yang ingin menikmati senja, ada yang ditunjuk mengelola restoran, ada yang mengurusi transportasi. Dan semuanya gratis. Segala macam fasilitas umum diberikan dengan cuma-cuma. Tak ada mata uang di negeri ini, uang tidak berlaku sama sekali. Mereka bahkan benar-benar mandiri tanpa campur tangan negeri lain. Negeri tanpa suara sangat terbuka bagi perwakilan negeri-negeri tetangga. Anehnya mereka tidak mengirimkan perwakilan mereka sama sekali. Adakah kemandirian yang seperti ini di tempat lain, Nyong?
Aku belum menguasai bahasa tatapan mata di negeri tanpa suara. Rakeh yang menjadi penerjemahku. Aku sendiri berkomunikasi dengan Rakeh melalui tulisan, karena orang tidak boleh berbicara di negeri ini. Kalau ada pelancong yang datang, dan memang banyak sekali, pemimpin negeri ini telah menyediakan para penerjemah yang direkrut dari negeri-negeri tetangga, karena penduduk negeri tanpa suara tidak boleh berbicara, memberikan tanda atau menuliskan bahasa mereka. Para penerjemah yang ada belajar bahasa tatapan mata dari para ahli bahasa negeri tanpa suara yang diberi kewenangan khusus untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang ingin belajar bahasa tatapan mata, itupun dengan bahasa tulisan.
Entah darimana Rakeh memelajari bahasa negeri tanpa suara ini, bahasa dimengerti hanya dengan saling bertatapan mata, bahasa pengertian yang tidak harus diucapkan dan dituliskan. Kupikir awalnya orang-orang di negeri tanpa suara ini juga bisa membaca pikiran orang lain, ternyata tidak. Pikiran yang tidak dikatakan dan tidak diungkapkan dalam pandangan mata tidak pernah bisa dimengerti oleh orang manapun termasuk orang-orang negeri tanpa suara. Sejauh perjalananku hingga di padang gurun ini aku belum pernah menemukan orang yang bisa membaca pikiran. Dan kupikir sebaiknya tidak ada yang bisa melakukannya. Sebab jika ada yang bisa melakukannya maka akan kacaulah dunia ini. Apa menariknya jika kita bisa membaca pikiran orang lain, karena kita tidak perlu repot mencari ilmu pengetahuan dan tentu kita tidak akan pernah punya rahasia sama sekali. Bukankah kita perlu sedikit memiliki rahasia. Seperti kamu, Nyong. Meski kamu bilang bukan rahasia tetapi tetap saja aku tidak boleh mengetahui sedikit dari sekian banyak cerita tentang dirimu.
Bicara tentang rahasia, ada sebuah rahasia umum di negeri ini. Seperti halnya di mana saja meski rahasia milik pribadi, pada akhirnya sebuah rahasia akan beredar dan anehnya tetap menjadi rahasia. Ia kemudian berubah nama menjadi rahasia umum. Bukankah sebuah rahasia hanya milik seseorang dan jika sudah milik public sudah tidak rahasia lagi? Tetapi itulah anehnya rahasia dalam dunia kita ini. Rahasia umum itu adalah bahwa di luar sepengetahuan penguasa senja suaminya, perempuan dengan mata terindah itu sangat suka bila dipuji laki-laki. Karenanya ia selalu berkeliling dan ingin dipuji. Ini mungkin karena sejak dulu ia telah merasa dikesampingkan oleh para pemuda karena cacat. Sekarang setelah memiliki mata terindah maka ia ingin dipuji. Itulah mengapa aku juga berusaha menyatakan keterpesonaanku pada matanya. Dan ini bukan ketidaksetiaan bukan? Bukankah kesetiaan juga butuh siasat agar bisa diungkapkan? Seperti halnya cinta. Karena itu cinta dan kesetiaan tidak bisa dipisahkan. Dan kesetiaan adalah cinta terhadap seseorang yang sangat kita cintai. Mungkin yang pernah kutemui di negeri dengan salju abadi agak aneh. Di sana aku menemukan seorang perempuan yang memiliki tiga suami. Dan ia setia dengan ketiganya. Ini mungkin perlu sebuah pemecahan, tetapi aku tidak terlalu memikirkannya, karena kesetiaan bagiku hanya untuk kekasihku seorang.
MATAHARI BULAT BESAR DI NEGERI SALJU ABADI
Bila negeriku pernah memuja senja dan negerimu begitu mendewakan sepakbola, maka negeri salju abadi menganggap matahari bulat besar yang muncul sekali dalam setahun adalah sebuah anugerah yang sangat luar biasa. Nyong, bayangkan di negeri itu tak ada tanah yang terlihat, semuanya salju yang putih. Dinginnya melebihi dingin malam paling dingin yang pernah kulewati. Bahkan aku butuh bertumpuk pakaian untuk membungkus tubuh dan membuat api unggun setiap hari agar badan terasa hangat. Tentu kehadiran matahari sangat ditunggu-tunggu. Aku pernah ke sana tetapi merasa tidak betah sama sekali. Tetapi sekali dalam seumur hidup aku juga ingin berkorban sedikit untuk bisa melihat matahari bulat besar di tengah-tengah dua puncak gunung tinggi, yang muncul hanya sekali dalam setahun itu.
Aku sebenarnya tidak ingin pergi ke sana, selain karena butuh waktu hampir seminggu untuk berjalan kaki mendaki dalam udara yang sangat dingin. Di negeri salju abadi juga tidak banyak makanan yang bisa aku makan, menurut keterangan pemandu jalanku, di sana hanya ada daging dan minuman yang terbuat dari lemak hewan peliharaan. Memang ada susu juga tetapi aku akan sangat merindukan air putih. Pemandu itu tertawa, jelas di sana ada air putih, katanya. Iming-iming tentang matahari bulat besar yang akan muncul dari balik punggung gunung sangat membuatku tertarik. Aku belum pernah melihat matahari yang katanya sangat besar dan bersinar dengan lembut tidak menyilaukan mata itu. Tidak ada di belahan manapun di bumi ini kita bisa melihat pemandangan seperti itu selain di negeri salju abadi. Tak bisa dilupakan, begitulah kesan orang-orang yang pernah ke sana dan menyaksikan munculnya matahari sekali dalam setahun itu. Negeri itu adalah negeri yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Aneh memang, saat itu kupikir mata pengetahuanku telah dibukakan dengan menjadi pengelana yang tanpa tujuan. Setelah turun dari negeri salju abadi yang tidak bisa dilupakan itu, aku sampai ke sebuah negeri yang menurut penduduknya adalah negeri yang masyarakatnya dilupakan. Negeri yang selalu bergolak karena penguasa tidak pernah memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Sungguh ironi memang. Tetapi selama di negeri salju abadi aku benar-benar merasakan bahwa banyak hal yang akan terus melekat dalam ingatanku dan tidak akan mudah dilupakan.
Pertama tentu saja matahari bulat besar yang muncul hanya sekali dalam setahun di antara dua puncak gunung yang tinggi yang menghangatkan kehidupan di negeri salju abadi. Aku belum pernah melihat matahari sebesar itu. Rasanya sangat dekat sekali, tetapi tak ada panas. Cahayanya tidak menyilaukan mata. Itulah keanehan yang kemudian diburu oleh para penikmat matahari yang datang dari seluruh penjuru bumi. Mereka berkumpul sekali dalam setahun di negeri salju abadi itu. Mereka bahkan rela membiarkan mereka begitu kedinginan hanya untuk sebuah momen sekali setahun itu. Kedua adalah ketika kutemukan sebuah kenyataan tentang bagaimana para perempuan di negeri salju abadi bisa bersuami tiga atau empat orang. Di negeriku seringkali kudengar seorang laki-laki yang memiliki isteri lebih dari satu. Sejak jaman dahulu memang sudah ada, tetapi belakangan praktek mempunyai isteri lebih dari satu itu ditentang oleh kaum perempuan yang tersadarkan. Praktek itu kemudian dilarang atas perjuangan kaum perempuan itu. Meskipun pada kenyataannya masih ada yang mau dijadikan isteri kedua, ketiga atau entah keberapa. Alasannya jelas, kalau tidak karena masalah himpitan ekonomi, juga karena alasan keyakinan. Aku tidak tahu, atau lebih tepatnya tidak mau tahu dengan semua itu, karena kupikir aku sendiri tidak berniatan untuk memiliki istri lebih dari satu. Bagiku kesetiaan dan cinta hanya bisa dicurahkan pada satu orang saja, yaitu kekasihku, kekasihku yang telah pergi meninggalkan aku demi mengejar senja yang sangat memukau hatinya itu. Ada beberapa perempuan yang kulihat sendiri memiliki suami lebih dari satu di negeri salju abadi. Shresta misalnya, ia memiliki tiga orang suami. Yang pertama adalah Waseng. Waseng usianya lebih tua enam tahun dari Shresta. Dari Waseng Shresta memiliki dua orang anak. Tugas Waseng bagi keluarganya adalah menggembalakan ternak yang jumlahnya ratusan di lereng-lereng curam negeri salju abadi. Ia jarang pulang ke rumah. Biasanya ia pulang dua bulan sekali karena wilayah penggembalaannya sangat jauh. Suami Shresta yang kedua adalah Olpo. Olpo usianya sama dengan Shresta. Dari Olpo lahirlah seorang anak perempuan. Tugas Olpo merawat dan mengasuh anak-anak mereka semua. Jika Waseng pulang dan ternak-ternak dengan bulu-bulu tebal itu masuk kandang yang luas sekali, Olpo akan memerah susunya. Biasanya waktu pemerahan susu itu sampai dua minggu, agar diperoleh susu yang banyak untuk kebutuhan mereka semua. Baik untuk dijual, diminum sendiri maupun dijual. Lalu suami Shresta yang terakhir adalah Tewang. Tewang lebih muda lima tahun darinya. Tugas Tewang adalah untuk berjualan susu, daging ternak yang dipotong dan lemak yang sangat mahal di pasaran. Menurut cerita, dari ketiga suami itu hanya Tewanglah yang berhak memenuhi kebutuhan biologis Shresta. Waseng dan Olpo akan datang bila Shresta meminta mereka menemani tidur. Aneh memang. Tetapi itu yang kutemukan di negeri salju abadi itu. Para perempuan yang memiliki banyak ternak di sana bisa memiliki lebih dari satu suami untuk mengerjakan banyak hal.
Di negeri salju abadi itu, aku seperti halnya ratusan pelancong lain yang datang ke sana, diperlakukan dengan baik sepanjang kami semua mengikuti apa yang dinasehatkan oleh para tetua di sana. Seperti setiap kami beristirahat dalam perjalanan di negeri itu untuk makan maka kami harus menaburkan makanan yang akan kami makan itu ke udara agar para dewa penguasa langit yang menaungi bumi turut merasakan apa yang kami makan. Jika tidak maka para dewa akan marah, entah benar atau tidak, biasanya semua pelancong melakukan hal tersebut. Bukan membuang makanan tentu saja tetapi sebagai satu bentuk penghormatan atas aturan yang berlaku di negeri tersebut, meskipun pada akhirnya makanan yang kami taburkan itu tetap tak ada yang makan selain jatuh ke atas salju putih yang terhampar hingga batas pandangan. Di negeri salju abadi itu, para penduduknya tidak tertarik sama sekali pada para pelancong. Sepanjang yang kuketahui tak ada satupun penduduk negeri salju abadi yang menikah dengan orang luar. Walaupun tak ada larangan untuk itu, namun semacam ada kepercayaan bahwa mereka akan hidup bahagia tanpa ada keturunan asing dalam silsilah keluarga mereka. Negeri salju abadi itu dipimpin oleh seorang Illama. Illama adalah pemimpin kepercayaan yang bertugas menjaga keselarasan dan keseimbangan hidup masyarakat negeri salju abadi.
Illama tidak memiliki isteri. Mereka dilarang berhubungan badan. Merekalah representasi kehadiran dewa di bumi. Illama terdiri dari sepuluh orang yang mengatur beberapa hal seperti peternakan, perdagangan, kependudukan. Illama dipilih setiap ada anggota Illama yang meninggal. Seorang calon Illama telah dipersiapkan sejak kecil, mereka dipingit, diajari banyak pengetahuan. Pemilihan calon Illama juga sangat ruwet dan bagiku tidak masuk akal. Ada seorang Illama yang bertugas mencari anak-anak yang memiliki takdir untuk menjadi Illama, tetapi pada perkembangan selanjutnya takdir juga tidak cukup. Kemampuan mereka menyerap ilmu dan mengambil keputusan bagi orang banyak sangat menentukan. Seorang anak yang memiliki ciri calon Illama biasa sejak kecil tidak suka memiliki rambut, ia akan meminta rambut di kepalanya dicukur setiap tumbuh. Lalu ia akan lebih suka diam ketimbang bicara. Dan yang paling dicari adalah kemampuannya untuk memecahkan masalah secara adil tanpa menyakiti siapapun. Sangat sulit memang untuk mencari anak yang memiliki kemampuan seperti itu. Tetapi nyatanya tetap ada saja anak-anak yang ditemukan oleh Illama pencari itu.
Ketika aku sampai di negeri salju abadi itu, masyarakat sana sedang sibuk dengan pengangkatan seorang Illama untuk menggantikan Illama tertua yang meninggal. Upacara pengangkatan akan bersamaan dengan pemunculan matahari bulat besar dalam setahun sekali di tengah-tengah dua puncak gunung. Upacara pengangkatan itu akan dipusatkan di tengah lapangan salju yang luas di tengah-tengah negeri. Kain-kain kuning dan merah tua dipancangkan di mana-mana. Bendera-bendera kebesaran masing-masing Illama dikibarkan tinggi-tinggi. Utusan-utusan pengintai matahari telah berada di puncak gunung untuk menghitung kapan matahari bulan besar itu akan muncul. Semarak sekali suasana di negeri salju abadi itu. Belum pernah kulihat begitu banyak bendera berwarna-warni yang bisa bersanding dalam kedamaian yang suci selain di negeri salju abadi itu. Di negeriku, Nyong, bendera-bendera yang berbeda warna dan gambarnya bisa menimbulkan kerusuhan. Entah kenapa, aku tidak tahu sebabnya. Berbeda sekali dengan negeri salju itu, di sana keselarasan dan keseimbangan sungguh terjaga justru dalam perbedaan itu sendiri. Bahkan kami, para pelancong diminta untuk mengibarkan bendera-bendera negeri kami masing-masing. Tujuannya untuk menghormati Illama yang akan diangkat. Aku yang datang seorang diri tidak mengibarkan bendera apapun. Pikirku dulu sangat lucu ketika kutemukan orang-orang yang begitu fanatic dengan hanya kain yang dijahit berbagai warna dan kadang diberi gambar itu. Bahkan mereka rela mati untuk membela hanya sehelai kain itu. Tetapi kini aku baru sadar betapa kain-kain itu begitu agung dan mampu memberikan perasaan bersatu dalam perbedaan. Maka kupotong bajuku, kubentuk segitiga dan kupancangkan tinggi-tinggi di atas tiang. Aku geli sendiri karena kain itu tidak seperti bendera negeriku, bahkan tidak mirip bendera sama sekali.
Illama yang baru itu masih berusia lima belas tahun, tetapi dia akan segera dinobatkan menjadi pemimpin para Illama karena pengangkatannya bersamaan dengan munculnya matahari bulat besar di antara dua puncak gunung tinggi di negeri salju abadi itu. Begitulah tradisi di sana, siapa saja yang diangkat pada saat yang bersamaan dengan munculnya matahari bulat besar maka ia akan menjadi Illama yang tertinggi. Sementara bayi-bayi yang lahir pada saat yang bersamaan maka mereka akan diberi gelar Boa, orang-orang suci. Shresta misalnya, ia adalah satu-satunya Boa perempuan di negeri salju abadi. Karena itu ia diberi hak untuk menernakkan hewan-hewan peliharaan. Ia tidak mempekerjakan orang tetapi mengambil suami untuk kemudian bekerja bersamanya. Menurut kabar beberapa hari yang akan datang ia akan menikah lagi dengan suami keempatnya yang bertugas untuk berdagang ke luar negeri salju abadi. Laki-laki itu adalah seorang calon Illama yang gagal menjadi Illama karena dipergoki sedang mengintip Shresta yang sedang mandi. Mungkin Shresta menganggap pemuda itu suka padanya jadi ia melamar pemuda itu untuk menjadi suaminya. Entahlah, aku tidak tahu secara pasti. Aku hanya seorang pengelana yang berkelana tanpa tujuan sambil berharap menemukan kekasihku yang lari mengejar senja. Dan aku tengah berada di negeri salju abadi untuk menikmati munculnya matahari sekali setahun yang kata berita sangat menakjubkan.
Di negeriku, matahari yang muncul di musim panas seringkali dikutuk karena teriknya sangat menyengat. Bahkan mematikan sayuran dan membuat tanah terbelah. Mengeringkan danau dan menyurutkan lautan. Matahari selalu muncul setiap hari dengan panasnya. Seperti tak kenal ampun ia tanpa permisi mengeringkan rumputan makanan ternak. Matahari sering dihindari oleh masyarakat negeriku, Nyong. Mereka berlomba membawa payung ke mana-mana. Membeli produk-produk pemutih kulit. Pokoknya matahari sering tidak disukai ketimbang ditunggu kedatangannya.
Matahari bulat besar yang akan muncul di antara dua puncak gunung tertinggi di negeri salju abadi itu adalah pertanda bahwa penguasa siang akan datang untuk memberi terang dan hangat di negeri salju abadi. Pemunculan matahari itu juga pertanda bahwa musim akan berubah. Hewan-hewan ternak akan kawin dan tentu penduduk negeri salju abadi akan disibukkan dengan tambahan ternak. Bayangkan saat ini saja, jumlah ternak di negeri salju abadi dua kali lebih banyak dari jumlah orangnya. Ternak-ternak itu kemudian akan kawin dan tiap ternak betina akan melahirkan dua anak. Entah berapa lagi jumlah mereka. Meskipun setiap hari ada yang disembelih untuk dijual dagingnya, tetap saja jumlah ternak di negeri salju abadi tak terganggu. Mungkin ini berkah buat mereka. Aku sendiri bukan penikmat daging. Aku hanya mencicipi beberapa macam masakan daging sejak datang ke negeri salju itu. Masakannya juga tidak terlalu berbeda, ada yang seperti sop, sate, rendang atau dendeng. Tetap saja aku bukan orang yang suka makan daging. Aku lebih suka makan bubur gandum dan minum susu.
Saat yang dinantikan tiba, upacara pengangkatan Illama yang bersamaan dengan munculnya matahari bulat besar di antara dua puncak gunung yang terletak di sebelah timur negeri salju abadi. Negeri dengan salju yang tidak pernah mencair, sebuah negeri yang bahkan tidak ada dalam peta bumi ini. Dan hanya di negeri salju abadi itulah matahari paling besar terlihat, karena menurut kepercayaan penduduk setempat, negeri salju abadi adalah pusat bumi ini. Jadi wajar jika matahari memulai perjalanannya dari negeri mereka. Udara dingin, oksigen yang tipis karena ketinggian menemani para penduduk yang telah bersujud, sebenarnya bukan bersujud tetapi menelungkupkan badan mereka ke arah timur. Deretan paling depan adalah para Illama kemudian di belakangnya para Boa, pemimpin-pemimpin desa dan baru masyarakat kebanyakan. Kami, para pelancong diberi tempat khusus untuk menikmati matahari yang akan muncul. Sebuah dataran yang lebih tinggi dengan tempat duduk dari batu yang disusun rapi. Di situlah kami duduk dan dijamu dengan bermacam makanan dan minuman tanpa harus membayar sedikitpun. Aku baru sadar betapa mereka sangat menghargai orang yang jauh-jauh mau datang dengan mendaki lereng-lereng terjal selama seminggu untuk sampai di negeri mereka yang tidak ada dalam peta bumi.
Dari kejauhan mulai terdengar gaung suara orang-orang yang berdoa. Semakin lama semakin banyak dan semakin keras. Lalu terdengar suara gong-gong dipukul. Sejenak kemudian semua suara hilang lalu pelan-pelan cahaya keperakan yang lembut mulai muncul dari langit timur. Semua menunggu. Kudengar momen itu tidak boleh direkam sama sekali. Menurut penduduk negeri salju abadi, apa yang terjadi di negeri salju abadi biarlah terjadi di sana dan jangan dibawa keluar. Jadi tak ada yang diperbolehkan mereka, jika ada yang melanggar aturan tersebut, konon kabarnya orang itu akan mati tergelincir di lereng-lereng terjal dalam perjalanan pulang mereka. Dan itu pernah beberapa kali terjadi. Cahaya keperakan itu makin jelas. Tak lama kemudian jatuh di atas salju putih yang terhampar. Indah sekali pemdangan saat itu. Aku menunggu matahari di antara dua puncak gunung itu. Betapa kagetnya aku dan para pelancong yang baru pertama datang ke negeri salju abadi itu. Matahari yang muncul bukan berada di antara dua puncak gunung tetapi di belakang dua gunung itu. Nyong, kamu akan terkejut sekaligus takjub bila melihat sendiri. Matahari yang hanya muncul sekali setahun dan hanya di negeri salju abadi itu lebih besar dari dua gunung tinggi yang berdiri kokoh di sebelah timur negeri matahari salju abadi. Aku ternganga, terpesona sekaligus takjub luar biasa. Aku hampir tak bisa bernapas melihat pemandangan yang luar biasa itu. Anehnya lagi, cahaya yang menerpa salju dan kami tidak terasa panas sama sekali, tetapi cuma hangat. Mungkin itu juga sebabnya salju di negeri itu tidak pernah mencair. Setelah matahari benar-benar muncul secara utuh dengan bentuknya yang bulat berwarna merah kekuningan dan besarnya lebih dari dua gunung, dari tengah-tengahnya muncul bayangan-bayangan hitam berkelebatan ke sana kemari. Bayangan-bayangan itu turun dan menghampiri para lama yang kini telah duduk menghadap ke timur di depan kuil Mo yang menjadi pusat ibadah di negeri salju abadi.
“ Apakah mereka itu para dewa orang-orang negeri salju abadi?” tanyaku pada seorang pelancong yang sedari awal banyak bercerita padaku yang katanya ia datang untuk momen itu sejak sepuluh tahun yang lalu.
“ Bukan. Mereka adalah penguasa matahari.” Jawabnya sambil terus memandang matahari dengan tatapan mata kagum yang tak habis-habis.
Itukah penguasa matahari itu? Ternyata mereka seperti diriku juga, batinku. Mereka semuanya berambut panjang sebahu dengan ikat kepala merah dan kain kuning yang terikat di lengan kiri mereka. Penguasa matahari yang mungkin akan dicaci atau bahkan diserang bila muncul di negeriku. Pantaslah kiranya mereka hanya muncul di negeri salju abadi itu karena mereka menemukan kehangatan dan keramahan penduduk atas kehadiran mereka. Mungkin satu-satunya tempat di mana mereka bisa diterima dengan suka cita hanya di negeri salju abadi. Negeri dengan salju yang abadi.
MASYARAKAT YANG TERLUPAKAN
Negeri salju abadi telah tidak kelihatan lagi, hanya deretan gunung dengan selimut salju yang terlihat putih berkilat dari kejauhan. Keindahan, rasa takjub dan keramahan penduduk negeri salju abadi seperti langsung hilang ketika aku menginjak tanah lagi. Sebuah ledakan hebat, rentetan senjata mesin, empat ekor kambing yang hangus dan sebuah jembatan yang ambruk menyambut perjalananku sampai di perbatasan negeri dengan masyarakat yang terlupakan. Sebuah negeri yang selalu bergejolak. Perang ada di mana-mana. Pembantaian terjadi setiap hari. Tidak hanya karena alasan politik, tetapi juga agama, ras dan kadang hanya salah paham di antara mereka yang satu agama dan satu ras juga bisa menimbulkan pertumpahan darah. Sudah bertahun-tahun semua itu terjadi. Penguasa tidak bisa menghentikannya, malah terkesan memelihara konflik yang terjadi. Masyarakat yang terlupakan, akhirnya begitulah kami menyebut diri kami di negeri kami. Begitu kata seorang laki-laki muda yang berrsedia menemaniku melintasi negeri itu. Ia dikenal dengan nama Sothe. Pengikutnya banyak dan kelompok mereka dikenal sangat pemberani, tidak hanya kepada tentara yang membacking penguasa, tetapi juga ditakuti oleh kelompok-kelompok jalanan yang lain.
Mereka menyebut diri mereka orang-orang yang terlupakan yang tidak tercatat dalam buku harian para pemimpin negeri mereka, yang tidak pernah masuk ke dalam agenda kerja mereka, yang tidak pernah terlintas dalam benak mereka untuk mereka temui. Merekalah masyarakat yang terlupakan itu. Padahal sesungguhnyalah menurut peraturan kelaziman sebuah negeri mereka yang harus bertanggung jawab atas kehidupan rakyat. Rakyatlah yang harus mereka perhatikan. Karena semua kenyataan itu maka rakyat menjadi kecewa dengan cara para pemimpin negeri mereka memimpin. Dan hal itu cukup untuk jadikan alasan untuk turun ke jalan.
Ya, kami berkumpul dan memenuhi jalanan, kata Sothe. Kami kibarkan bendera tinggi-tinggi, kami membakar ban-ban di tengah jalan, kami penuhi ruang-ruang publik dengan massa. Hanya inilah yang bisa kami lakukan agar kami diperhatikan. Agar apa yang menjadi hak kami dipenuhi. Tetapi entah kenapa setiap kami turun ke jalan, setiap kami berkumpul di ruang-ruang publik selalu ditanggapi dengan kehadiran para serdadu bersenjata yang dengan segera membubarkan kami dengan paksa. Mereka tak segan memukul, menendang, menembakkan gas air mata dan peluru karet. Banyak sudah dari kami, keluarga kami, saudara, bahkan ibu dan ayah kami jadi korban mereka. Sejak dilahirkan kami tidak memiliki keinginan untuk membasahi tangan kami dengan darah, kami tidak bercita-cita untuk menjadi pelempar batu yang handal, tidak juga menjadi pengokang senjata yang kemudian memuntahkan tidak hanya puluhan tetapi ratusan peluru. Tapi yang terjadi adalah keadaan memaksa kami untuk menjadi pelempar batu di jalanan. Menjadi penembak jitu. Dan kami melemparkan batu-batu ke arah serdadu di depan kami yang membubarkan kami saat kami berkumpul. Kami mengorganisir diri, mengangkat senjata dan mulai baku tembak dengan para serdadu.
Memang dalam perjalananku melintasi negeri yang penuh kerusuhan itu. Udara penuh dengan pekik kemarahan, bercampur dengan rintih kesakitan serta jerit ketakutan. Burung-burung menangis, ibu-ibu menjerit mencari anak dan suami mereka. Dan aku, aku seperti berjalan dalam sebuah serial kolosal sebuah film. Akulah kameramennya. Orang-orang bergelimpangan. Orang-orang kalang-kabut menyelematkan diri. Dan aku telah merekam semua itu. Ya, aku telah merekam semua kejadian itu dengan ingatanku. Bila aku seorang pembuat film documenter, entah berapa dokumenter bisa aku buat, mungkin akan aku putar dan kirimkan ke beberapa kawan yang dengan segera berkeliling memutar dokumenterku. Tetapi aku hanyalah seorang pengelana yang berjalan melintas negeri yang tidak ada hubungan apa-apa denganku. Aku hanya ingin berjalan dan berjalan tanpa tujuan. Di negeri itu aku benar-benar menemukan perbedaan menyaksikan matahari bulan besar yang dikagumi oleh orang-orang yang rela datang ke negeri salju abadi dengan menyaksikan demikian banyak pembantaian.
Terakhir kali aku berada di tengah-tengah massa yang mencoba bertahan ketika didesak oleh terjangan peluru karet dan gas air mata serdadu adalah ketika massa yang sebagian ibu-ibu menuntut keadilan atas hilangnya keluarga mereka setelah demonstrasi besar-besaran menuntut pencabutan undang-undang anti senja di negeriku. Saat itu aku sedang mencari kekasihku yang ikut berdemonstrasi. Kami semua ditangkap. Bendera-bendera, spanduk, karton-karton yang penuh tulisan cercaan disita, kaset-kaset rekaman kamera televisi yang sedang merekam kejadian dihancurkan. Kamera foto dirampas. Aku bersama dengan mereka yang tertangkap dimasukkan ke dalam truk serdadu. Kami diangkut ke kantor mereka. Dan aku menginap dalam sel dengan para lelaki yang terluka. Tak ada pengobatan bagi yang terluka, bahkan makanpun kami tidak diberi. Yang ada ketika pagi tiba kami disemprot dengan air yang entah dicampur dengan apa, tetapi membuat mata kami perih dan kulit kami gatal-gatal dan seperti terbakar. Di sel itulah aku kenal dengan Litko. Dia terluka di pelipisnya terkena pukulan pentungan karet serdadu. Aku merawatnya. Setelah sehari semalam ditahan, sebagian besar dari kami dilepaskan kecuali mereka yang dianggap sebagai penggerak unjuk rasa. Aku mengantar Litko ke toko buku miliknya yang juga dijadikan tempat tinggal. Di toko itu dulu Litko menjual segala macam cetakan tentang senja. Buku-buku, transkrip, foto, scenario tentang senja. Banyak sekali orang yang datang mencari benda-benda itu di toko Litko.
Sampai di sana, Litko memintaku untuk tinggal sementara, sebab serdadu akan menangkapi kami lagi jika kami terlihat di jalanan. Aku setuju. Aku juga meminta litko untuk mengijinkan aku membantunya sementara di toko buku. Litko memperbolehkan aku bekerja di sana sampai aku menemukan kekasihku. Selama di toko bukunya, aku membaca banyak buku tentang perlawanan di negara-negara lain dan sejarah perkembangan gerakan pembebasan yang selama ini hanya disimpan di gudang bawah tanahnya. Di ruangan itu aku tidur karena tidak ada ruang lagi bagiku di tokonya yang penuh sekali. Aku senang bisa menambah pengetahuanku. Bersama dengan perjalanan waktu aku semakin tahu bahwa ternyata serdadu dimanapun di muka bumi ini sama saja. Mereka selalu menindas dan menembaki rakyat yang tidak punya senjata. Kebencianku semakin memuncak. Litko melihat perubahan pada diriku. Tanpa disadarinya dia bercerita tentang para gerilya yang sering diberinya keterangan tentang perkembangan kota. Tetapi sayangnya aku hanya ingin membaca untuk menambah pengetahuan. Bukan untuk bergabung dengan para gerilya. Memang aku memiliki kebencian tetapi aku lebih suka pergi jika membenci sesuatu dan bukan melawan apa yang kubenci atau kebencian itu sendiri. Aku tidak ingin melawan kekerasan dengan kekerasan.
Di negeri yang baru saja aku injak ini, ternyata keadaan lebih parah dari negeriku. Pertempuran bersenjata, penangkapan, bom, demonstrasi yang diikuti dengan kerusuhan seringkali terjadi.
” Apakah perjuangan harus selalu dilakukan dengan mengangkat senjata? Tanyaku pada Sothe di suatu sore saat kami sedang beristirahat di tempat makan.
“ Kami sudah tidak mengenal bahasa selain kekerasan.” Jawabnya dengan bangga.
Selama di negeriku, aku tidak pernah mendengar atau melihat berita tentang negeri yang masyarakatnya terlupakan ini. Kalaupun aku mellihat berita dunia, aku lebih suka melihat berita olahraga terutama sepakbola sambil berharap semoga aku bisa menyaksikan engkau bertanding di layar kecil televisiku, Nyong.
Setelah hampir sebulan berjalan dengan menghindari tempat-tempat yang berbahaya, Sothe mengajakku mampir ke rumah seorang teman lamanya. Pada suatu malam kami datang ke sebuah restoran yang memiliki ruang besar di bagian belakangnya. Di sana telah ada banyak orang yang dari penampilannya cukup menakutkan, sorot mata mereka seperti tidak pernah percaya pada siapapun. Tetapi mereka semua hormat pada Sothe, dan aku datang bersamanya, jadi sikap mereka terhadapku juga cukup hormat. Mungkin teman Sothe adalah teman mereka juga. Di pintu belakang restoran itu, Sothe mengucapkan beberapa kata sandi yang tidak kumengerti. Ada dua orang bersenjata yang menjaga pintu besar itu. Ternyata untuk sampai ke ruangan besar di belakang restoran itu harus melewati beberapa pintu dengan beberapa penjaga bersenjata dan beberapa kali pula Sothe harus mengucapkan kata-kata sandi. Meskipun Sothe seorang yang sangat dihormati tetapi tetap saja ia harus memberikan kata sandi yang menurutnya berubah setiap waktu. Setelah mengucapkan kata sandi di pintu terakhir, mereka membiarkan kami menuju ke ruang pertemuan di dalam tanpa pengawalan.
Ruangan besar itu telah berisi beberapa orang muda yang tidak aku kenal sama sekali. Dilihat dari usianya, mereka seperti masih mahasiswa, beberapa lebih tua. Satu persatu mereka memperkenalkan diri mereka dengan nama samaran, begitu kata Sothe. Tak ada yang memakai nama asli. Sothe juga. Kami semua duduk di atas lantai beralaskan tikar pandan buatan tangan yang agak kasar, bersama yang lain. Aku coba mengikuti apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Bori sahabat karib Sothe ternyata pemimpin orang-orang ini. Dia yang lebih banyak bicara. Pertemuan malam itu merupakan perekrutan terhadap anggota baru. Aku merasa seperti orang asing dalam kumpulan mereka. Ternyata aku memang orang asing yang baru datang ke negeri itu. Mungkin mereka tidak tahu, dalam pikiran mereka bisa saja aku ini adalah sahabat Sothe yang selalu bersamanya kemanapun ia pergi. Atau mungkin mereka berpikir aku pengawalnya yang paing setia. Dari pembicaraan dan perkenalan mereka, aku tahu bahwa Sothe begitu dihargai oleh opera anggota gerakan bawah tanah karena ia adalah satu-satunya orang yang pernah belajar bagaimana membuat peledak.
Malam itu aku mendengar kisah seorang pemuda yang masih bau kencur, ia masih bingung dengan retorika yang diusung oleh kelompok Bori itu, tetapi dia dengan sadar mengakui bahwa keputusannya untuk bergabung dan memanggul senjata adalah secara insting memang seharusnya dia mengangkat senjata melawan serdadu ketika mereka telah berbuat sewenang-wenang terhadap penduduk yang tidak memegang senjata. Karena menurut dia, senjata hanya bisa dilawan dengan senjata. Cara terbaik untuk mengelak dari senjata adalah dengan mengangkat senjata lebih cepat dari musuh. Di lingkungan tempatnya bergaul ide-idenya tidak pernah diterima oleh teman-temannya, dia memutuskan untuk masuk menjadi anggota gerilya dan meninggalkan lingkungan dan keluarganya. Itulah yang aku dengar pertama kali dalam pertemuan itu. Selanjutnya berturut-turut semuanya bercerita tentang alasan mereka masuk menjadi anggota gerilya. Tak ada interupsi ketika ada yang bercerita, tak ada kecurigaan apa-apa. Seolah mereka begitu terbuka untuk keanggotaan yang baru. Wajah orang-orang itu begitu bersemangat. Ada semacam kalimat yang tak terucapkan oleh Bori pada para anggota yang baru, sebuah kalimat yang aku terjemahkan sebagai ucapan selamat datang, saudaraku, mari kita berjuang bersama. Atau mungkin lebih dari itu.
Kontak dengan para gerilya itu telah membawaku kembali pada buku-buku yang kubaca di gudang Litko saat aku menginap di tempatnya beberapa saat sambil mencari kekasihku yang pergi berdemonstrasi yang kemudian aku temukan baru keluar dari penjara bersama dengan para ibu yang ditangkap di jalanan. Memang Cuma sebentar aku berada di tempat Litko tetapi buku-bukunya begitu melekat dalam otakku. Meski begitu aku masih tidak tertarik dengan apa yang dikerjakan Litko dengan teman-temannya yang menyebut diri mereka sebagai senjais. Mereka membuat tulisan-tulisan, menyebarkan selebaran, mengorganisir perlawanan terhadap pemberlakuan undang-undang anti senja. Dan bahkan lebih dari itu mereka telah mengibarkan bendera negeri senja yang mereka proklamirkan. Aku bisa menarik sebuah garis kesamaan pemikiran Litko dan teman-temannya dengan Sothe, Bori dan lainnya di negeri yang penuh gejolak ini. Aku menemukan sebuah keajaiban dalam pola pikir para anak muda tersebut bahwa ketidakadilan bukanlah bagian dari sifat alamiah manusia, tetapi lebih merupakan sebuah aberasi pikiran. Pendirian mereka telah menjelaskan kepadaku pandangan yang membedakan antara hidup manusia dengan kelahirannya. Tetapi Nyong, aku tetap tidak memutuskan untuk bersama mereka, menghidupkan perjuangan, sampai kemudian, melayani perjuangan itu sendiri. Perjuangan untuk hidup yang lebih baik agar kelahiran menjadi tidak sia-sia. Karena aku hanya ingin berkelana tanpa tujuan sambil berharap akan bertemu dengan kekasihku yang pergi karena telah jatuh cinta pada senja.
Soothe memperkenalkan aku dengan kehidupan gerilya, ini menjadi sebuah tantangan atas perang terhadap ketakutanku; seperti sebuah pertempuran melawan ruang gelap hanya bersenjatakan pendengaran, ini sangat berbeda dengan melawan serdadu bersenjata dengan mengangkat senjata. Telah lama aku hidup dalam kerasnya kehidupan pengelanaan, dan aku yakin aku telah kehilangan rasa takutku. Aku tidak pernah menyerah ataupun angkat tangan melawan para penjahat jalanan yang sering aku temui, atau meminta ampun ketika polisi memukuliku di halaman penjara. Kekerasan telah menjadi hal yang rutin bagiku, tetapi aku tidak pernah membayangkan bagaimana bisa aku harus terlibat dengan para gerilya sesungguhnya. Bukan di negeriku sendiri tetapi di negeri orang dalam perjalanan berkelanaku.
Sothe membawaku melewati tempat-tempat yang penuh gejolak. Ia juga mengajakku sat dirinya mengajari para anggota baru untuk menjalankan misi gerakan di kota, membuat graffiti di tembok-tembok, mencetak selebaran, memasang poster-poster, mencuri barang-barang miliki serdadu di pos-pos jaga. Ada semacam ketegangan yang mengasyikkan, yang memompa jantung berdetak lebih cepat. Anehnya aku mau saja ketika Sothe mengajariku membuat bom kecil yang bahkan bisa menghancurkan sebuah mobil. Ia mengajari bagaimana menyabotase listrik agar padam, menaikkan moral kawan yang jatuh serta teknik menginterogasi. Semua itu kujalani sambil melakukan perjalanan melewati negeri yang masyarakatnya terlupakan tersebut.
Hampir semua surat kabar memberitakan aksi-aksi yang mereka sebut kriminal itu, tetapi secepat itu pula kelompok gerilya melakukan serangan balik lewat media tentang aksi-aksiku dengan kelompok kecil buatanku itu yang dianggap sebagai tindak kriminal tersebut hanyalah rumor belaka. Lewat percetakan-percetakan kecil atau radio milik gerilya, mereka melakukan kampanye melawan kampanye media massa. Dan semua revolusioner muda itu menggunakan segala kemungkinan untuk memobilisasi massa agar berani turun ke jalan, meski mereka seringkali menemui kebuntuan dan ketidaberpihakan rakyat karena rasa takut.
Dari kota ke kota, Sothe mengantarku sambil membuat konsolidasi. Menguatkan barisan perlawanan. Lalu kami sampai juga di gunung. Tempat para gerilya hidup, disanalah orang-orang terbaik mereka berada, tempat senjata-senjata mereka disimpan, tempat tumbuhnya akar revolusi. Gema teriakan hancurkan ketidakadilan bergaung, matilah penguasa yang lalim. Kenyataan di gunung sedikit membuatku bingung, para gerilya memiliki lebih banyak kata ketimbang senjata. Aku hanya menjadi pendengar, tetapi secara tidak sadar aku juga merasakan gemuruh itu ada dalam dadaku.
Hal pertama yang kupelajari tentang kehidupan di gunung adalah bukan menyerang lalu hilang setelah menang seperti layaknya perang-perang para gerilyawan, tetapi lebih bagaimana aku berani untuk berkorban. Pengorbanan yang pertama adalah bagaimana menerima rasa sakit. Sothe melibatkan aku dalam kelompok-kelompok yang berjalan bersamanya. Berjalan terus dengan tas yang berisi puluhan kilo bekal, mulai dari pakaian, bekal makan, tenda, dan lainnya. Aku bahkan diberi tugas untuk membawa obat-obatan. Kami tidak boleh istirahat di sembarang tempat, harus terus bergerak, berjalan, mendaki, naik, turun, tanpa berbicara. Kadang perbekalan makanan menipis atau tanpa makanan yang pasti, tanpa air, sampai seluruh otot di tubuhku terasa menonjol, hingga telapak tanganku berair dan mengeras, dan kaki berdarah lalu kering lagi tanpa sempat melepas sepatu.
Dan sunyi. Dalam hamparan hijau hutan, aku belajar memahami arti sunyi, belajar bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, seperti hembusan angina. Meski tidak terlibat emosi secara langsung, bagiku musuh rasanya sangat dekat. Dan musuh yang paling dekat adalah penderitaan. Rasa sakit yang luar biasa, kelaparan. Tetapi rasa lapar harus dilawan. Hujan, nyamuk, lintah, semua datang silih berganti. Pada awalnya aku selalu merasa tersesat, aku tidak bisa melihat kemana akan pergi atau tidak tahu mendaki apa karena jalanan adalah rumput tinggi, semak-semak, bebatuan, terkadang pohon-pohon tinggi dan besar yang menghalangi sinar matahari. Tetapi pelan-pelan mataku mulai bisa menyesuaikan diri bahkan semakin tajam seperti mata harimau gunung dan mulai tahu di mana aku berada. Aku mulai jarang tersenyum, wajahku mengeras, kulitku menjadi hitam dan kotor, ekspresiku menjadi dingin. Kesunyian berubah menjadi sesuatu yang lebih menakutkan dibandingkan rasa lapar. Pelan tapi pasti aku kehilangan sentuhan fisik dari siapapun, jangankan perempuan dengan merekapun aku tidak pernah terlibat kontak fisik. Kami tidak pernah bersentuhan, dengan kawan, juga dengan masa lalu, dengan rasa takut dan bahkan harapan. Aku mulai lupa dengan perjalananku yang tanpa tujuan, aku lupa kekasihku yang jatuh cinta pada senja.
Aku menjadi satu dari sekian ratus hewan yang menghuni gunung. Tidak ada yang lain selain insting, refleks, getaran, kediaman, tulang, otot, kulit, rambut panjang, jenggot dan kumis, perut yang mengeras. Aku selalu terjaga bahkan dalam keadaan tertidur sekalipun. Aku benar-benar telah berubah, perubahan yang bahkan tidak aku mengerti sama sekali. Aku menjadi begitu jatuh cinta dengan para gerilya, Ingin kuberikan seluruh hidupku untuk mereka. Dan tak ada yang lain selain mereka serta cita-cita mereka.
Persahabatan bagi para gerilyawan seringkali adalah sebuah kebetulan. Mereka kebetulan memiliki jalan pikiran yang sama dalam hal berjuang dan memperjuangkan sesuatu. Jika Gom, seorang anggota baru, dan Miro, salah satu anak buah Sothe, berteman. Hal ini disebabkan mereka memiliki tujuan yang sama dalam perjuangan mereka. Dan displin adalah segalanya, setiap orang harus bisa menjaga emosi dan perbuatannya sendiri. Tentu dalam kesepian hutan tak banyak yang bisa dilakukan, namun dalam kesepian semacam itu siapa yang bisa mengatasi gejolak dalam diri masing-masing. Dialog dalam diri yang bukan monolog sungguh menjadi beban yang sangat berat. Kebanyakan waktu kami adalah sebuah kesunyian. Kami hanya diam. Bahkan ketika kami berjalan untuk patroli, kami hanya menggunakan bahasa isyarat. Bahkan waktu-waktu istirahat kamipun, tidak ada percakapan sama sekali.
Begitulah kehidupan kami selama di gunung. Entah apa sebabnya ada semacam kecintaan yang mulai tumbuh dalam diriku, justru pada saat aku harus pergi dari negeri itu. Saat harus mengatakan salam perpisahan pada Sothe yang telah memberi begitu banyak warna dalam perjalananku.
“ Kalian salah menyebut diri kalian.” Kataku sambil mencoba menghalau kepedihan yang tiba-tiba muncul dalam hatiku. Sothe hanya tertawa, lalu memberikan sebuah kain.
“ Untuk menyeka airmatamu.” Katanya.
Aku tidak sadar telah menangis saat harus pergi. Apakah aku telah benar-benar mencintai mereka? Perjuangan mereka? Aku tidak tahu. Tetapi aku merasa sedih harus berpisah dengan Sothe dan kawan-kawan di gunung. Dari kejauhan kulihat mereka melambaikan tangan. Lambaian tangan yang tanpa kata-kata ternyata lebih pedih rasanya. Kepedihan yang tentu berbeda dengan kepedihan ditinggalkan kekasihku. Tetapi tetap saja kepedihan itu terasa seperti menyayat hati. Ngilu dan perih. Apapun yang menyebabkan kepedihan itu muncul. Sothe memberiku sebuah pisau pendek miliknya yang telah menemaninya bertahun-tahun, pisau yang telah menewaskan banyak serdadu, pisau yang juga membantunya membuat bom atau menjinakkan bom. Pisau itulah yang sampai kini terus berada di pinggangku. Pisau yang entah kenapa menambah kepercayaan diriku semakin tinggi.
Masih pagi benar ketika aku keluar dari negeri penuh gejolak yang masyarakatnya menyebut diri mereka masyarakat yang terlupakan. Yang kemudian pergi ke gunung, menjadi gerilya dan melakukan perlawanan dengan pengorbanan yang begitu besar.
“ Aku tidak akan pernah melupakan kalian. Kalian akan terus berada dalam ingatanku, dalam hatiku.” Entah kenapa aku menjadi terbata-bata saat mengucapkan kalimat terakhir itu pada Sothe. Sothe, seperti biasanya, selalu tersenyum. Dibalik tampangnya yang garang, ia adalah lelaki lembut yang pernah kutemui. Ia terlihat tidak sedih. Aku sadar, ia telah belajar dan akhirnya akrab dengan kesedihan yang menjadi bagian hidupnya, juga hidup rakyat di negerinya. Kuambil sebuah buku dari tas ranselku. Sebuah buku karangan tukang cerita yang telah pergi karena menjadi buronan, yang kecewa dengan penguasa di negeriku dan yang telah memotong senja hingga langit barat bolong tiap hari sebelum malam tiba. Sebuah buku tentang senja.
“ Aku pernah mendengar kisahnya.” Kata Sothe sambil berbalik lalu hilang di balik rimbunan hutan.
Aku diam sejenak. Apakah tukang cerita itu pernah datang ke negeri Sothe.
SEBUAH BUKU TENTANG SENJA
Sothe adalah orang pertama yang kuberi sesuatu sebagai tanda perpisahan. Belum pernah aku memberikan sesuatu kepada orang lain saat aku berpisah dengan mereka. Mungkin juga karena aku merasa belum pernah berpamitan pada seorangpun saat pergi dari suatu tempat. Jika bisa disebut hadiah, itu juga hadiah pertama yang kuberikan pada orang lain. Bahkan kepada kekasihku yang telah bersamaku selama bertahun-tahun aku belum pernah memberi apapun. Saat ia ulangtahun, saat ia dipromosikan di kantornya, saat ia lulus kuliah dengan nilai terbaik. Tak ada hadiah apapun, hanya ucapan selamat. Sisanya aku akan kembali asyik dengan pekerjaanku. Entah apa yang menyebabkan aku memberikan buku itu pada Sothe. Buku itu sendiri adalah buku yang kuminta dari Litko. Kupikir waktu itu ia punya banyak buku yang sama yang belum terjual dan hanya tersimpan dalam ruang bawah tanahnya. Litko sendiri tidak keberatan, bahkan ia menyuruhku mengambil buku apa saja yang kusuka. Saat itu aku hanya mengambil dua buku, buku tentang senja itu dan sebuah buku tentang pengkhianatan yang sering terjadi pada waktu malam berjalan dengan kepekatannya.
Kupikir aku juga perlu tahu tentang senja yang begitu dipuja di negeriku. Buku itu sendiri lebih dari cukup mengungkapkan senja, karena dikarang sendiri oleh si tukang cerita itu. Hanya dicetak sekali dan langsung habis di pasaran. Mungkin Litko menyimpan banyak buku itu untuk dijadikan pegangan bagi para senjais yang sering berkumpul di tempatnya yang kini telah memproklamasikan negeri senja yang tentu dianggap sebagai cikap bakal perpecahan di negeriku oleh penguasa. Para pengikutnya diburu juga seperti mereka memburu tukang cerita itu. Mereka dituduh hendak maker dan menggulingkan pemerintahan yang sah. Aku geli sendiri, bagaimana mungkin Litko dan kelompoknya yang hanya memiliki kata-kata bisa menjungkalkan sebuah negeri yang ditopang oleh kekuatan militer begitu dahsyat dan kejam. Aku sendiri melihat bagaimana kekuatan bersenjata yang dipimpin Sothe dan Bori saja tidak pernah bisa berbuat banyak selain mempraktekkan taktik gerilya. Itupun masih dipenuhi dengan para pengkhianat yang tidak saja sering menggagalkan operasi mereka tetapi membuat banyak anggota gerilya tertangkap dan dihukum mati.
Buku tentang senja itu ditulis si tukang cerita ketika ia sudah dilarang memberi ceramah atau membacakan cerita dan puisinya tentang senja di negeriku. Tetapi karena sudah berada di pihak penerbit dan telah dicetak maka buku tersebut tetap diedarkan. Bukankah buku-buku yang dilarang akan semakin laku di pasaran meskipun penjualannya tidak dilakukan dengan terang-terangan? Selain dijual dari tangan ke tangan, beberapa toko buku yang tidak lazim, maksudku toko-toko yang berada di luar industri besar pertokobukuan, seperti toko buku Litko juga menjual buku tersebut. Tentu saja tidak semua orang bisa dengan mudah membeli buku tersebut. Jadilah buku terakhir tentang senja karangan tukang cerita berambut gondrong dengan kumis dan jenggot panjang itu laku di pasaran. Saat tinggal beberapa saat di toko buku Litko itu aku telah berkali-kali membaca buku karangan tukang cerita yang paling laku itu. Entah kenapa sampai sekarang aku masih belum mengerti dan belum bisa menangkap tentang isi bukunya apalagi sampai begitu tergila-gila pada senja seperti orang-orang di negeriku. Bagiku senja sama saja dengan waktu lainnya, yang membedakan tentu hanyalah soal cahaya dan kepentingan orang-orang yang menjalaninya. Cahaya senja memang berwarna ungu kemerahan tetapi apa indahnya cahaya seperti itu. Toh cahaya jika dipendarkan maka akan ada banyak warna dan ungu serta merah adalah salah satunya unsurnya. Cahaya senja ataupun senja itu sendiri buatku tak terlalu bisa membangun suasana romantis atau apa saja yang bisa dihubungkan dengan cinta. Senja yang demikian hanyalah karangan orang agar orang-orang lainnya terpengaruh dan menyetujui apa yang menjadi pendapatnya. Dalam persoalan ini aku juga berpendapat seperti itu tentang buku senja karangan tukang cerita itu. Senja, seperti kataku tadi, menjadi beda karena kepentingan orang-orang yang menjalaninya. Sebagai contoh misalnya waktu senja memang waktu orang-orang kantoran pulang, atau ayam kembali ke kandang, atau saat di mana ribuan kelelawar keluar dari sarang-sarang mereka. Justru kemacetan yang ada di jalanan saat senja tiba. Langit barat juga tidak terlihat apa-apa karena telah tersamarkan oleh asap kendaraan yang jumlahnya ribuan. Lalu di manakah keindahan senja itu terletak?
Menurut buku itu, senja terlihat indah jika dipandang dari pantai atau tempat-tempat tertentu di mana langit barat bisa dipandang tanpa halangan. yang dinikmati tentu warna langit barat yang ungu kemerahan agak jingga atau apalah namanya aku sendiri tidak tahu jenis warna campuran seperti itu. Apalagi jika ada awan sedikit yang menghalangi cahaya senja, maka larik-larik cahaya senja akan terlihat jelas dari langit, menembus celah-celah mega lalu jatuh di atas lautan yang maha luas membuat permukaan laut menjadi indah. Atau cahaya-cahaya itu menyelip di antara daunan dan pohonan lalu jatuh di atas tanah basah sehabis hujan seharian. Bahkan yang membuatku agak geli adalah bagaimana cahaya senja bisa berada di antara gedung-gedung tinggi dan memantul lewat kaca-kacanya. Aku telah lama tinggal di kota dengan gedung-gedung semacam itu tetapi tak ada cahaya senja yang sampai ke sana. Tetapi itu memang mungkin terjadi di suatu tempat entah di mana di bagian bumi ini, tetapi yang kelas tidak mungkin cahaya yang demikian bisa ditemui di kotaku itu. Atau di kota manapun di negeriku yang kini mungkin masih melarang orang membicarakan senja dan masih memberlakukan undang-undang anti senja.
Yang paling menarik buatku adalah bagaimana tukang cerita itu bisa memotong senja di negeriku hingga tak satupun manusia di negeriku bisa menikmatinya lagi. Aku tidak yakin ia bisa memotong hanya pisau daging yang biasa ada di restoran, apalagi dengan pisau roti yang tumpul itu. Bahkan dengan pisau tukang cukur yang bisa memotong rambut-rambut kecil di janggut orang juga tak akan bisa. Entah dengan apa ia memotong senja itu. Dengan apapun ia memotongnya, yang jelas tukang cerita itu telah mengambil senja di negeriku. Senja yang begitu dipuja sekian lama karena kisah-kisah indah, sendu dan menentramkan yang sering didongengkan oleh tukang cerita itu. Senja yang telah membuat geger di negeriku, senja yang kemudian dilarang untuk dinikmati dan akhirnya senja yang hilang diambilnya dengan semena-mena agar tak ada lagi orang bisa menikmati keindahannya.
Tak ada yang tersisa dari senja di negeriku, tentunya selain langit bolong di sebelah barat karena senja telah dipotong. Mungkin masih ada sedikit kenangan tentang senja di sana, mungkin juga tidak. Bagaimana mungkin orang masih bisa menikmati jika senja bahkan telah diharamkan, ketika senja menjadi barang terlarang. Tetapi mungkin masih ada segelintir orang yang masih punya sedikit kenangan tentang senja. Litko dan teman-temannya yang mengaku mereka adalah kaum senjais di negeriku dan telah dengan berani memproklamirkan negeri senja. Aku jadi ingat Litko, apakah dia masih bertahan dengan orang-orangnya, ataukah ia telah ditangkap bersama yang lainnya? Aku tidak tahu, tentu saja tidak tahu, karena kini aku telah berada jauh dari negeriku. Aku telah berada di tengah padang gurun yang kering dan panas yang dipenuhi badai dan perompak yang ganas serta misteri tentang perempuan yang memiliki mata terindah.
Buku yang mengisahkan tentang senja itu memang sengaja aku berikan kepada Sothe sebagai sebuah ungkapan terimakasih telah menemaniku berkelana di negerinya yang penuh dengan gejolak itu. Meski tidak percaya dengan keseluruhan kisah tentang senja yang telah menggegerkan negeriku itu tetapi entah mengapa dalam hati kecil aku berharap Sothe dan negerinya bisa menemukan kedamaian dalam pelukan senja. Ah, mungkin dalam diri setiap orang memang selalu ada dua sisi yang berbeda. Yang berlawanan dan tidak pernah saling akur. Mungkin, siapa yang tahu.
KAUM SENJAIS DI NEGERIKU
Negeriku adalah negeri yang berisi berbagai macam manusia yang entah kenapa sulit sekali dimengerti. Rakyat bukanlah suatu kekuatan yang besar, tetapi sebuah obyek dari kekuatan besar yang bernama pemerintah. Pemerintahan yang berkuasa adalah pemerintahan yang berisi dan dibentuk oleh organisasi militer. Kelompok mereka menguasai semuanya setelah berhasil meredam gejolak yang datang dari arus bawah. Ketika rakyat tidak puas dengan pemerintahan yang ada, mereka bersatu untuk meruntuhkan rejim. Tetapi sayangnya semua terjadi begitu cepat. Tidak ada yang bisa melanjutkan perjuangan itu setelah pemerintahan yang berkuasa jatuh. Bahkan parahnya kaum muda yang menjadi pemimpin pergerakan itu tidak tahu mau diapakan lagi hasil perjuangannya. Jadilah rakyat seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Sampai akhirnya militer mengambil alih kekuasaan yang kosong dan merangkul para pemimpin pemuda tersebut. Bahkan beberapa anggota gerilya yang melakukan perlawanan bersenjata terhadap pemerintahan yang dulu, berhasil mereka rangkul juga. Sampai kini, mungkin pemerintahan yang berkuasa adalah militer dan orang-orangnya.
Sementara itu anggota Dewan Rakyat kami berisi orang-orang yang merasa paling mengerti dengan kepentingan rakyat. Saking mengertinya anyak diantara mereka memilih diam dan tidur pada saat rapat. Mereka bahkan berpendapat, hal tersebut adalah salah satu cara menjaga harmoni dengan semua unsur yang ada. Namanya kearifan, kata mereka. Semakin mereka diam, itu berarti semakin baik. Banyak bicara dan selalu protes dianggap membuat ribut tanpa hasil apapun. Mereka lebih sibuk mengurusi rumah dinas, kenaikan gaji, tunjangan jabatan, dan lainnya yang ada hubungannya dengan posisi mereka sebagai anggota Dewan Rakyat. Jadi bisa dikatakan yang paling sibuk dalam tubuh Dewan Rakyat adalah bagian kerumahtanggaan yang mengurusi segala sesuatu yang ada hubungannya dengan Dewan dan anggota-anggotanya.
Dewan Rakyat negeri ini dipilih dalam sebuah mekanisme pemilihan yang melibatkan rakyat secara keseluruhan. Mereka diharapkan bisa mewakili rakyat dengan memperjuangkan hak rakyat dan menjadikan kehidupan rakyat agar lebih baik. Cuma masalahnya, biasanya calon anggota Dewan Rakyat adalah orang-orang partai yang dicalonkan oleh partai-partainya. Jadi rakyat sudah diberi pilihan agar mereka memilih pilihan yang sudah ada. Sekali lagi, kami, rakyat, adalah orang-orang yang dipaksa memilih. Bukan dengan sukarela memilih pilihannya. Dan begitulah, orang-orang partai yang akhirnya terpilih ini pada akhirnya mengambil jarak dengan rakyat. Padahal mereka juga bagian dari rakyat.
Sebenarnya ada beberapa anggota Dewan Rakyat yang tidak seperti itu. Tetapi mereka tidak ingin membuat keributan sampai-sampai sikap kritis mereka tidak selalu diperlihatkan. Demi menjaga iklim agar tidak dituding macam-macam itu tadi. Mereka takut dijegal di jalan dan dicopot keanggotaannya. Sebagian lagi adalah klompok kompromis yang hanya mencari selamat sendiri. Mereka berpendapat bahwa tidak semua kekecewaan harus diungkapkan dalam sidang-sidang dewan terhormat itu. Bahkan kekecewaan, rasa tidak puas dan lainnya harus disimpan. Sampai ada momentum yang tepat untuk bicara. Sayangnya mereka selalu menunggu momentum, bukan menciptakannya.
Di negeriku, kami semua sadar bagi kalangan pemerintahan, anggota dewan, politisi, pihak keamanan bahkan ilmuwan dan agamawan, kritik masih dianggap sebagai sebuah ancaman. Bersuara asal bersuara dianggap sebagai sesuatu yang tidak mencerminkan kedewasaan. Sementara bersuara secara dewasa tak selalu menggambarkan sikap intelektual. Sebab kearifan inelektual itu lain, bagi mereka tak semua yang diketahui harus dikatakan. Tapi apa yang dikatakan haruslah sesuatu yang diketahui. Disinilah masalahnya, mereka tidak mengetahui apapun tentang persoalan rakyat. Dulu pernah ada beberapa kasus dalam tubuh Dewan rakyat negeri ini, anggotanya dicopot justru oleh partainya sendiri. Kata pimpinan partainya, ia berbeda pendapat dengan partainya. Padahal seharusnya beda pendapat itu sebuah keharusan dan idealnya orang yang menganggap beda pendapat sebagai sesuatu yang haramlah yang harus dipecat.
Partai-partai di negeriku belum bisa menjadi wadah bagi tumbuhnya benih demokrasi. Bahkan parahnya, pemerintah yang berkuasa sama sekali tidak percaya pada partai-partai itu, dan menggunakan kesalahan-kesalahan mereka sebagai senjata untuk menekan partai agar diam dan taat pada pemerintah yang berkuasa. Akhirnya yang terjadi adalah pembenaran-pembenaran terhadap sikap pemerintah yang seperti itu, padahal dibalik itu pemerintah yang berkuasa telah memperkosa semuanya. Agar apa yang mereka katakan selalu benar. Tentu dengan todongan senjata di kepala orang-orang yang mereka takuti. Pertanyaannya adakah orang yang tidak takut dan justru semakin lantang teriakannya ketika ada senjata yang telah dikokang menempel di pelipisnya? Jawabannya tidak ada. Pun ketika rancangan undang-undang anti senja yang diajukan oleh pemerintah kepada pihak Dewan Rakyat, semua tahu rancangan itu akan segera disyahkan menjadi undang-undang dan diberlakukan dengan cara penguasa. Karena menurut mereka tukang cerita yang Cuma seorang diri itu dengan kisah-kisah senjanya bisa mengganggu keutuhan hidup berkebangsaan yang entah kehidupan seperti apa yang mereka maksudkan.
Dari situlah kemudian muncul kaum-kaum senjais yang kebanyakan anak-anak muda yang tidak puas dengan penguasa yang tidak becus mengurusi pemerintahan. Kaum senjais itu terdiri dari berbagai unsur. Dulunya mereka adalah aktivis yang dibungkam oleh penguasa dengan todongan senjata. Mereka ini termasuk golongan yang menolak bergabung dengan penguasa seperti teman-teman mereka yang katanya mau mengubah sistem dari dalam dengan cara masuk ke dalam struktur kekuasaan. Tetapi nyatanya mereka mandul. Sistem yang telah dijalankan bertahun-tahun dan didukung oleh orang-orang yang mengangkangi ekonomi serta militer tak bisa mereka goyahkan. Akhirnya mereka justru hanyut di dalamnya karena fasilitas-fasilitas yang belum pernah mereka dapatkan atau tidak akan pernah mereka peroleh jika tetap berseberangan dengan penguasa. Segelintir orang yang masih teguh pendiriannya untuk tetap berada di luar lingkaran itu, kemudian mendeklarasikan diri mereka sebagai kaum senjais. Aku melihatnya sebagai sebuah pemanfaatan momen, karena pada saat itu pemujaan terhadap senja dan segala sesuatu yang berhubungan dengan senja sedang diberangus maka kemudian orang-orang itu merespon dengan menyebut diri mereka kaum senjais. Bagiku itu sah-sah saja.
Di barisan itulah Litko berdiri. Setahuku ia anak dari lingkungan kelas menengah dan memimpin sebuah komunitas film dokumenter. Ia pernah membuat sebuah documenter tentang anak-anak pejabat yang sering membuat onar di jalanan. Mereka ini sering mengendarai motor-motor besar dan mobil-mobil mewah dengan jumlah yang banyak pada saat malam hari. Litko berhasil merekam kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan di berbagai sudut kota, seperti memukuli para waria yang sering mangkal di sebuah taman yang memang sangat terkenal sebagai tempat waria menjajakan jasa seks mereka kepada para lelaki iseng. Mereka juga sering mengobrak-abrik rumah-rumah kardus di pinggir jalan rel kereta api tanpa alasan yang jelas selain hanya untuk kesenangan belaka. Dan bersama dengan waktu yang berjalan, polisi sering menangkap mereka, membawa mereka ke kantor polisi, menelepon orang tua mereka dengan baik-baik dan segera melepaskan mereka kembali tanpa menahan atau menjatuhkan denda kepada mereka. Pimpinan polisi akan bilang dengan bijaksana, suatu saat mereka akan besar dan dewasa, mereka akan mengganti celana jeans dan kaos oblong mereka dengan jas dan dasi lalu memimpin bisnis orang tua mereka. Atau menjadi anggota Dewan Rakyat atau masuk partai dan menduduki posisi pengambil keputusan. Kamu bisa bayangkan akan menjadi apa negerimu jika suatu hari kelak dipimpin oleh orang-orang yang dengan mudah bisa melakukan tindak kekerasan kepada sesame, Nyong.
Litko dan teman-temannya kemudian membuat kampanye anti kekerasan terhadap masyarakat sipil lewat film. Tetapi kamu tahu sendiri bagaimana respon yang keluar dari pihak penguasa, Nyong. Litko dan teman-temannya ditangkap, mereka dipenjarakan. Karena seringnya keluar masuk sel dan terlalu banyaknya pukulan yang diterima, Litko dan teman-temannya merasa ketakutan akan rasa sakit telah menjadi hilang dari diri mereka. Mereka semakin sadar bahwa ada sesuatu yang harus diperjuangkan. Ada sesuatu yang harus terus disirami agar selalu tumbuh dan tidak mati hanya karena ancaman represif pihak keamanan. Salah satu teman Litko yang paling terkenal adalah Bastia. Kekerasan yang dialami dan dilihatnya terus membekas dalam dirinya, ia membentuk kelompok bersenjata untuk melawan kekerasan dengan kekerasan. Aku sendiri heran, di banyak tempat_kecuali negeri salju abadi_kekerasan telah menjadi sesuatu yang lazim dan kemudian akan dilawan dengan kekerasan pula, seperti di negeri dan negeri Sothe yang selalu bergejolak. Kelompok Bastia yang bergaris keras kemudian berkembang dengan pesat ketimbang kelompok Litko yang berjuang dengan media film. Tetapi mereka saling mendukung dalam perjuangan. Mereka itulah yang memproklamirkan berdirinya negeri senja untuk mengakhiri kekerasan yang dilakukan penguasa dan pihak keamanan. Senja adalah tujuan dimana ketentraman dan kedamaian akan bisa dibangun dalam balutan warnanya yang menentramkan, begitu kata Litko saat aku berpamitan untuk pergi dari rumahnya setelah tahu kekasihku pergi mengejar senja yang hilang dari negeriku.
CERITA RAKEH DI NEGERI TANPA SUARA
Seperti itulah waktu berjalan dalam pengelanaanku, Nyong. Begitu banyak hal terjadi, begitu banyak peristiwa datang dan pergi. Tinggal sisa-sisa kenangan yang ada dalam ingatanku, maknanya sendiri belum sampai kutemu. Kini aku masih bersama Rakeh di negeri tanpa suara dimana orang-orangnya tidak ada yang berbicara atau memberi tanda, mereka bisa membaca dan mengartikan pandangan mata. Inilah negeri paling sunyi yang pernah kutemui, negeri yang paling menakutkan di antara negeri-negeri yang menakutkan. Karena selama di negeri ini, entah berapa lama, aku tidak akan pernah bicara sedikitpun selain hanya berpandangan mata dengan orang-orang di negeri ini. Juga dengan Rakeh. Aku berkomunikasi dengan Rakeh hanya sesekali itupun di dalam kamar penginapan sambil diam-diam menuliskan apa yang kami bicarakan, karena aku belum menguasai bahasa pandangan mata yang menjadi bahasa negeri tanpa suara.
Kami baru saja selesai makan di restoran penginapan. Entah mengapa, selesai makan, Rakeh mengajakku langsung ke dalam kamar. Ia mengunci pintu, menutup semua jendela lalu mengambil lembaran-lembaran kertas dari dalam tasnya. Aku heran, untuk apa ia menyimpan kertas-kertas itu sementara tidak pernah sekalipun aku melihatnya menulis sesuatu. Rakeh yang kukenal tidak banyak bicara, apalagi suka menulis. Satu-satunya buku yang pernah kulihat adalah buku kecil yag diberikannya padaku saat sedang berada di tengah gurun sebelum sampai di sumber air tempat di mana aku bertemu dengan perempuan dengan mata terindah itu untuk kedua kalinya. Rakeh sore ini sangat berbeda, tatapan matanya seperti ingin bicara sesuatu tetapi sayang aku tidak bisa membaca bahasa matanya, iapun tak bisa membaca mataku karena aku belum memahami bahasa tatapan mata. Jadi bahasa tatapan mata hanya akan bisa dimengerti dan dipahami oleh orang-orang yang sudah bisa menguasai bahasa tatapan mata. Ia membagi kertas-kertas menjadi dua, satu bagian untukku dan satu bagian untuknya. Rakeh memberiku sebuah pensil. Tak ada yang beda antara kertas dan pensil milik Rakeh yang menghuni padang gurun seumur hidupnya dengan diriku yang berasal dari negeri yang jauh. Rakeh mulai menulis.
“ Aku punya cerita untukmu.” Tulisnya.
“ Apa itu?” balasku dengan tulisan. Dan selanjutnya kami bertukar kertas hingga kertas-kertas itu penuh dengan tulisan hanya untuk berkomunikasi, karena aku tidak bisa menerjemahkan tatapan mata. Sambil sekali-kali melihat kanan kiri atau berhenti menulis ketika ada langkah-langkah kaki mendekat.
bersambung….